Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
285: Pertarungan Tingkat Tinggi


“Apakah … kita … akan bertarung?” Pertanyaan Hon Ji menghentikan Dewa Naga dan Yao Chan dari perbincangan mereka.


“Ya dan Kau adalah lawanku.” Dewa Naga menjawab seraya berkelebat menghilang dari pandangan mata.


Sesaat kemudian tubuh besarnya telah berada di depan Hon Ji dan segera hendak mencengkeram lehernya.


Namun Hon Ji lebih dulu berkelebat dan melesat menjauhi Dewa Naga.


Dalam satu detik, tubuhnya telah berada seratus meter dari Dewa Naga yang tersenyum melihat kecepatan yang di tunjukan oleh Hon Ji.


Tubuh Dewa Naga kembali menghilang dari pandangan mata dan kurang dari sedetik, tubuhnya telah berada di hadapan Hon Ji.


Kini Hon Ji yang terkesiap setelah melihat kecepatan yang Dewa Naga tunjukan. Ia pun mendengus kesal seraya mengerahkan kekuatan yang Ia miliki.


BRUUUUSSHHH


Aura Pendekar Dewa Sejati Level lima segera memenuhi alam dimensi buatan tersebut.


Dewa Naga mengerutkan dahinya. Ia pun bertanya kepada Hon Ji apakah itu kekuatan penuh yang dimilikinya.


“Iya … keluarkan … kekuatan … penuhmu!”


Dengan terbata-bata Hon Ji berkata seraya memandang heran ke arah Dewa Naga. Tubuh Hon Ji kini telah diselimuti oleh api berwarna biru yang membara.


Hawa Udara di alam dimensi buatan itu, seketika menjadi sangat panas. Namun Hal itu tidak berpengaruh terhadap tubuh Dewa Naga.


Hal itulah yang membuat Hon Ji menjadi heran melihatnya.


“Jika hanya sebegitu kekuatanmu, Kau bukanlah lawanku. Bahkan jika kalian mengeroyok temanku itu, belum tentu kalian dapat mengalahkannya.”


Mata Hon Ji melotot lebar antara tidak percaya dan marah. Dewa Naga tersenyum lebar, lalu Ia mengerahkan delapan puluh persen kekuatan yang Ia miliki.


BRUUSSSHHH


Aura Pendekar Dewa Abadi segera memancar keluar dari Tubuh Dewa Naga. Hal itu membuat tubuh Hon Ji terpental hingga ratusan meter jauhnya dengan wajah yang pucat pasi.


Wajah yang sama di tunjukan oleh Bhu Kin saat merasakan hal tersebut. Dan Ia terkejut saat Yao Chan mengerahkan delapan puluh persen kekuatannya.


Aura Pendekar Dewa Sejati Level Tujuh, memancarkan kuat dari tubuh Yao Chan. Tubuh Bhu Kin bergeser sejauh sepuluh meter akibat terpaan energi dahsyat itu.


Tanpa keduanya sadari pancaran energi mereka, keluar dari Alam dimensi buatan tersebut dan menyebabkan Dunia Moxian dan Dunia Kultiva bergetar hebat.


Keduanya baru berhenti memancarkan energi mereka, saat Dewa Tertinggi mengirim pesan melalui telepati kepada keduanya.


Dewa Naga tersenyum tipis mendengar pesan telepatis tersebut. Ia memutuskan untuk tidak bertarung dengan Hon Ji dan membiarkan Yao Chan yang membunuhnya.


Sementara Bhu Kin terlihat kesal, Ia pun mengeluarkan dua buah bola energi sebesar kepalan tangan dari ruang dimensinya.


Sesaat kemudian Bhu Kin menelan kedua bola energi berwarna merah kehitaman itu. Yao Chan menjadi waspada saat merasakan Aura kekuatan Bhu Kin tiba-tiba meningkat pesat.


HEAAAAAHH


Bhu Kin berteriak keras mengerahkan seluruh kekuatannya. Aura Pendekar Dewa Level tujuh segera memenuhi udara.


Setelah Bhu Kin menghentikan pancaran kekuatannya, Ia menyeringai ke arah Yao Chan.


Tubuhnya seketika lenyap dari pandangan dan telah berada dua meter di depan Yao Chan. Lalu Ia melepaskan tinju yang sangat kuat ke arah wajah Yao Chan


DUAAGGHH


Yao Chan terkejut saat mendapati tangan Bhu Kin tiba-tiba memanjang dengan sangat cepat. Ia pun terlambat menghindari tinju itu dan harus terpental dengan hidung yang mengeluarkan darah berwarna keemasan.


“Cepat sekali … Tangannya ternyata bisa memanjang seperti itu.”


Bhu Kin kembali melepaskan serangan tinjunya. Yao Chan berhasil menghindari tinju dari lengan yang memanjang seperti tubuh seekor ular itu.


Yao Chan segera menggunakan Jurus tinju Naga untuk menghadapi jurus lawan yang terlihat aneh namun Kuat itu.


Namun Bhu Kin terus menyerang dengan tinju lengannya yang memanjang itu. Tidak memberi kesempatan Yao Chan untuk mendekati dirinya dan memperpendek jarak diantara keduanya.


Yao Chan berdecak kesal, sudah belasan kali lawan menyerangnya, namun Ia belum mampu melepaskan serangan satupun juga.


Saat mendapat jeda serangan, Yao Chan segera menggunakan jurus berpindah tempat dalam sekejap, dan berada tepat di belakang Bhu Kin yang terkejut.


DUAGH DUAAGH


Yao Chan yang kesal segera melepaskan Tinju Naga secara beruntun sebanyak dua kali ke punggung Bhu Kin.


Tubuh Bhu Kin pun terhempas hampir seratus meter dan terlihat darah berwarna hijau menyembur dari mulutnya.


Dewa Naga terkekeh melihat pertarungan Yao Chan, sementara Hon Ji terlihat kebingungan dengan sikap Dewa Naga.


Tak Ia duga sosok setinggi lima meter itu, membiarkan dirinya begitu saja, setelah Ia berada seratus meter dari pertarungan mereka berdua.


Wajah yang marah ditunjukan oleh Bhu Kin kepada Yao Chan, Ia pun mengangkat tangannya yang telah kembali ke ukuran semula.


Ia lalu mengangkat tangan kanannya ke udara, lalu memutar tangannya dengan sangat cepat. Sesaat kemudian tercipta pusara angin yang semakin lama semakin membesar dan memanjang.


Yao Chan mengerutkan dahinya, menebak serangan macam apa yang akan dilesatkan lawan pada dirinya.


Yao Chan terkesiap saat lawan menebaskan pusara Angin di tangan kanannya seolah menebaskan pedang.


Yao Chan melompat ke udara untuk menghindari tebasan pusara Angin tersebut.


Alangkah terkejutnya Yao Chan saat merasakan tubuhnya terhisap oleh pusaran angin tersebut dan berputar dengan cepat.


Yao Chan merasakan pusing untuk sesaat. Ia pun lalu melakukan jurus berpindah tempat dalam sekejap dan muncul di belakang Bhu Kin yang terkejut karena Yao Chan bisa melepaskan diri dari pusaran anginnya.


DUAGHHH


Yao Chan menendang pant** Bhu Kin dengan kuat. Tendangan itu membuat Tubuh Bhu Kin terlempar hingga seratus meter kurang sedikit lagi.


Dewa Naga pun kembali terkekeh melihat serangan Yao Chan yang di matanya masih terlihat bermain-main dalam menyerang lawannya itu.


Tanpa sepengetahuan Dewa Naga, Yao Chan merasakan jika jantungnya berdegup keras saat lawannya hendak menyerang.


Sementara Hon Ji melotot lebar dengan kecepatan gerak yang Yao Chan tunjukan. Ia pun menelan ludahnya hingga hampir tersedak karena ludahnya terlalu banyak.


Bhu Kin kembali berdiri dengan wajah menahan nyeri di bagian pinggulnya yang baru saja terkena tendangan kuat itu.


Ia pun memandang Yao Chan dengan sangat geram. Lalu melesat cepat, dan kembali mendekati lawannya.


“Hoitu … magher ye moronaaa!!!”


Bhu Kin berteriak dengan bahasa dari tempatnya berasal.


Hal itu membuat Yao Chan dan Dewa Naga terlihat kebingungan karena tidak memahami apa yang diucapkan oleh lawannya yang terlihat marah itu.


Sementara Hon Ji terlihat tersenyum saat mendengar rekannya berteriak demikian. Ia mengetahui bahasa rekannya tersebut walau tinggal di dunia yang berbeda.


Sesaat kemudian tubuh Bhu Kin terlihat menjadi lebih kekar dari sebelumnya. Pancaran energinya pun terasa semakin menguat.


*****