
Yao Chan ingin membuat Sosok duplikat dirinya, namun mengingat kedua lawannya memiliki qi, ia membatalkannya karena hal itu akan sia sia saja.
Sosok duplikatnya itu akan hancur dan meledak jika beradu dengan energi qi dari lawan, energi yang sama yang digunakan untuk membentuk sosok duplikatnya itu.
Selain itu ia akan kehilangan separuh energi qi nya karena hal tersebut. Dan itu akan sangat berbahaya ketika ia akan bertarung dengan dua sosok yang setiap dari mereka memiliki energi qi setidaknya sepuluh ribu kristal.
Yao Chan memejamkan mata, mengerahkan setidaknya lima belas ribu Kristal qi-nya. Aura besar dari tubuh pemuda dihadapannya itu, membuat kedua Kakek itu menjadi waspada.
Yao Chan tersenyum karena menemukan sebuah jalan keluar. Tiba-tiba saja tubuhnya menghilang dari pandangan kedua Kakek itu.
Kurang dari dua detik tubuhnya telah berada di depan gerbang dimana seribu orang lebih pendekar Raja yang dipimpin oleh Tetua Feng Hu hampir mencapai Gerbang Timur Kota Nanjing.
Liang Hu dan Hong Qi tersedak ludahnya melihat bahwa sosok pemuda itu tiba-tiba saja telah menghadang anak buah mereka dengan sebuah pedang yang memancarkan sinar pelangi tujuh warna yang sangat terang.
Yang terjadi berikutnya membuat mulut kedua Kakek tersebut kembali melebar, saat menyaksikan Pedang berwarna Pelangi itu terlihat menjadi ratusan buah dan melesat kearah para anggota mereka dengan sangat cepat.
Namun para penyerang yang memiliki tingkat terendah pada Pendekar Raja itu berhasil menghindar dari energi pedang pelangi yang Yao Chan ciptakan.
Hanya saja mereka salah menduga, energi yang berbentuk pedang itu berbalik setelah gagal mengenai mereka dan kembali menyerang seolah ada yang menggerakkannya.
Ratusan pedang itu berhasil membunuh para pendekar Raja hanya dalam dua tiga kali serangan saja.
Liang Hu dan Hong Qi tersadar dari rasa kagum mereka akan jurus yang Yao Chan gunakan saat separuh dari Pendekar Raja Anggota sekte mereka telah tewas dengan kondisi yang mengenaskan.
"Kakak, ayo kita serang pemuda itu, jika tidak anggota kita bisa habis ia bantai!"
Hong Qi menjadi geram melihatnya, ia pun mengajak kakaknya yang masih terlihat kagum pada jurus yang Yao Chan gunakan.
Teriakan Hong Qi berhasil menyadarkan Liang Hu yang kemudian segera hendak melesat kearah Yao Chan dengan Tombak Pusakanya.
Namun mendadak Yao Chan, dengan jurus berpindah dalam sekejapnya, telah berada dihadapannya dan memberikan serangan kuat yang mematikan dengan menebaskan pedangnya.
Liang Hu berhasil menepis pedang yang mengarah cepat ke lehernya itu dengan gagang Tombak Pusakanya.
Ia terkejut merasakan kekuatan besar saat benturan kedua senjata pusaka itu terjadi. Kekuatan yang membuat tubuhnya terpental belasan meter kebelakang, dari sudut bibirnya terlihat darah kental menetes membasahi jubahnya.
"Kakak ... Bagaimana kondisi mu?"
Hong Qi yang melihat sang Kakak terpental, segera melesat menghampirinya.
Liang Hu diam saja mendengar pertanyaan sang Adik, lalu segera mengeluarkan sebuah pil dari botol giok yang ia ambil dari balik jubahnya.
Beberapa saat setelah menelan pil berwarna keunguan itu, wajah Liang Hu perlahan kembali cerah, matanya menatap tajam ke arah Yao Chan yang kini telah berada empat ratus meter darinya.
"Luka dalam ku sudah membaik, pemuda ini kekuatannya sangat tinggi, kita harus bekerja sama untuk mengalahkannya."
Hong Qi mengangguk lalu mencabut pedang di pinggangnya, Aura Kematian yang mencekam seketika memenuhi udara.
"Sudah sejak lama Pedang Bintang Hitam ini tidak aku gunakan, seorang bocah memaksa ku menggunakannya hari ini."
Keduanya segera melesat dengan sangat cepat ke arah Yao Chan yang terlihat sedang mematung mengendalikan Energi pedang Pelangi yang terus membunuhi anggota kelompok yang berniat menyerang kota itu.
Merasakan Aura Kematian dari pedang lawan yang melesat kearahnya dengan cepat, Yao Chan berdecak kesal, ia memasukan Pedang Pelangi ke dalam Gelang Ruang Dimensi dan mengambil Pedang Dewa Perang.
Yao Chan mengalirkan setidaknya seribu Kristal Qi kedalam pedang itu untuk menggunakan jurus Pedang Bayangan. Teknik tertinggi dari Kitab Dewa Perang.
Udara seketika berfluktuasi dengan hebat saat aura dari pedang pusaka langit itu memenuhi udara.
Liang Hu dan Hong Qi yang telah tiba dihadapan Yao Chan dan berjarak sepuluh meter darinya, menjadi waspada merasakan hal itu.
Liang Hu dan Hong Qi menjadi begitu murka saat melihat ke bawah dimana anggota sekte mereka telah tewas dan hanya tersisa kurang dari dua ratus orang saja.
Keduanya melesat menyerang Yao Chan dengan Jurus terkuat yang mereka memiliki. Tombak Angin Hitam segera menderu ke dada Yao Chan yang segera menepisnya dengan Pedang Dewa Perang.
Serangan tebasan Pedang Hong Qi pun berhasil ia hindari saat pedang itu melesat cepat akan menebas lehernya.
Pertukaran serangan yang dahsyat dan mematikan segera saja terjadi di udara. Suara benturan dan teriakan silih berganti memenuhi udara.
Walau menghadapi dua orang berkekuatan tinggi yang sedang murka, Yao Chan mampu mengimbanginya dengan jurus Pedang Bayangan, bahkan ia berhasil mendominasi Pertarungan tersebut.
Pedang ditangan Yao Chan berkelebat seolah menjadi sepuluh buah, membuat Liang Hu mengumpat kesal saat menduga bahwa itu hanya ilusi saja, sebuah luka gores terlihat di pipi kirinya.
Rasa perih membuat ia menyerang lebih kuat lagi, Tombak Angin Hitam ia gerakan dengan memutarnya dengan cepat. Hong Qi menjadi waspada dengan gerakan tombak sang Kakak.
Ia melompat ke udara saat sebuah angin tornado melesat keluar dari ujung tombak yang sedang diputar cepat itu, angin tornado berwarna hitam melesat menerjang ke arah Yao Chan.
Yao Chan terkesiap mendapati serangan perubahan enegi qi menjadi angin yang terlihat begitu nyata itu tak sempat lagi ia hindari.
Zirah Sisik Naga yang telah teraliri qi berhasil melindungi tubuhnya saat Tornado Angin Hitam menerpa dirinya dengan kuat.
Walau telah terlindungi Zirah Sisik Naga, tetap saja tubuhnya terlempar dan membentur dinding pagar kota yang membuat dinding itu hancur.
Yao Chan mendengus kesal, ia menarik sebagian qi yang ia gunakan untuk mengendalikan seratus pedang energi yang membunuhi para Anggota mereka.
Seratus Pedang energi itupun berjatuhan di tanah dan meledak dahsyat dengan suara yang keras diiringi jeritan kematian dari para Pendekar Raja yang semuanya telah tewas.
Ledakan itu menyisakan kurang dari lima puluh orang yang merupakan para tetua yang kemampuannya berada pada tingkat pendekar Pertapa tahap awal dan menengah.
Yao Chan melesat kembali dan menyerang Hong Qi dengan sangat cepat saat kakek itu sedang terkesiap dengan kematian anggota sektenya.
Serangan Yao Chan yang mendadak pada dirinya berhasil ia tepis dengan Pedang Bintang Hitam, namun tubuhnya tetap saja terpental belasan meter akibat benturan itu.
Hong Qi kembali melesat bersama Liang Hu yang telah sadar dari kebingungannya karena mendapati Yao Chan masih bisa bergerak secepat itu seolah serangannya tadi tidak menyebabkan luka sama sekali.
*****