
Yao Chan tertegun untuk sejenak, setelah mendengar penjelasan Ular Naga Suci tentang siapa dirinya dan sosok yang baru saja menyerang mereka dari dalam Gerbang Teleportasi.
“Kau harus secepatnya meningkatkan kekuatanmu ke tahap Pendekar Dewa Sejati. Hanya dengan kekuatan pada tingkat ini, Kau bisa mengimbangi kekuatan Iblis Sejati itu.”
Yao Chan masih terdiam mendengar penjelasan Ular Naga Suci. Ia tak tahu langkah apa yang harus diambilnya terlebih dahulu.
Tujuan utamanya mendatangi Dunia Kultiva adalah mencari Tujuh Mustika dan Tujuh Pusaka Elemen, selain mencari sosok gadis bertubuh Elemen Es Sejati.
“Bukannya Iblis Sejati hanya akan muncul setelah Dewa Tertinggi Kembali Ke Istana Jagad Raya? Mengapa Ia sekarang berani menunjukkan dirinya pada Kita?”
Yao Chan bertanya demikian karena merasa apa yang disarankan oleh Ular Naga Suci itu, bertolak belakang dengan tugas dari Dewa Tertinggi.
“Benar … Yang baru saja Ia lakukan itu, telah melanggar kesepakatan mereka berdua. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Dewa tertinggi kepada Iblis Sejati itu.”
“Lalu bagaimana dengan tujuh mustika dan tujuh pusaka dari ketujuh elemen yang harus ku cari? Apa aku harus menundanya terlebih dahulu dan kembali Ke alam Kristal dewa?”
Ular Naga Suci terdiam setelah mendengar pertanyaan Yao Chan.
Ia terdiam karena tidak bisa memberi Yao Chan sebuah solusi yang tepat, karena masalah ini bukanlah masalah mudah yang dapat diselesaikan hanya dengan berpikir saja.
Tubuh Ular Naga Suci itu kemudian mengecil setelah Ia berpamitan kepada Yao Chan untuk kembali bersemayam di dalam Tombak Pemusnah Roh.
Yao Chan masih termenung memikirkan langkah selanjutnya yang akan Ia tempuh. Matanya memandang ke arah dimana markas Klan Naga hitam berada.
Senyum Yao Chan terkembang setelah melihat anggota Klan Elang Petir, masih berada di sana.
Setelah menyimpan kembali Tombak Pemusnah Roh, Yao Can segera menghilang dari tempat tersebut dengan jurus berpindah dalam sekejap.
Tubuh Yao Chan muncul di belakang Anggota Klan Elang Petir yang terlihat resah, karena ketua Klan mereka telah pergi entah kemana, bersama menghilangnya Gerbang Teleportasi itu.
“Mundur!! …. Kembali ke Markas!!”
Yao Chan segera bersiap dengan Jurus Pedang Mata Dewa setelah mendengar Tetua Klan yang memimpin Anggota Elang Petir itu, memerintahkan anggotanya untuk segera meninggalkan tempat tersebut.
Saat mereka berbalik hendak pergi, Suara Yao Chan yang berada di depan mereka terdengar menggelegar, membuat wajah mereka menjadi pucat pasi.
“Jangan harap bisa pergi dari sini dengan membawa nyawa kalian!”
Setelah berkata demikian, Yao Chan segera melepaskan serangan cepat dengan melepaskan Jurus Pedang Mata Dewa.
Seketika terdengar jeritan kematian saat lima ratus pedang energi tak kasat mata, melesat keluar dari mata Yao Chan.
Dengan cepat satu persatu Pendekar suci dari Klan Elang Petir, berjatuhan dengan kepal terpisah dari badan mereka.
Hal itu membuat Tetua Elang Petir yang berteriak tadi, wajahnya memucat seketika.
Mata Ketua Qin Long dan Tetua Yehlu, terlihat melotot lebar, keduanya terlihat takjub dengan apa yang sedang Yao Chan lakukan.
Kurang dari lima ratus menit, empat ratus lebih Anggota klan Elang Petir, Tewas di tangan Yao Chan. Menyisakan Tetua klan itu yang kini tubuhnya bergetar saat melihat Yao Chan menyeringai kepadanya.
Sesaat kemudian, tubuh Tetua itu merasa lemas bersamaan dengan cengkeraman kuat tangan Yao Chan di lehernya.
Yao Chan mengeraskan cengkeraman di leher Tetua itu, membuat matanya melotot lebar.
Yao Chan yang telah bersiap dengan jurus mata menghisap Ingatan, segera saja memasuki kesadaran Tetua itu.
Yao Chan pun tersenyum setelah berhasil menghisap seluruh ingatan Tetua Klan Elang Petir itu.
Bukan hanya informasi keberadaan Tombak Inti Petir yang Ia dapatkan, namun informasi tentang keberadaan Gadis Bertubuh Es Sejati dan Mutiara Inti Es, Ia dapatkan dari ingatan Tetua Klan Elang Petir itu.
KREEEEK
Yao Chan segera saja mengeraskan cengkeraman pada leher Tetua Klan itu lalu terdengarlah suara leher yang patah.
Yao Chan segera melemparkan tubuh Tetua Klan Elang petir yang telah tidak bernyawa itu.
Senyumnya mengembang saat Ia melayang ke tempat di mana Ketua Qin Long dan yang lainnya berada.
“Ayah … Aku tadi berhasil membunuh banyak musuh. Tubuh mereka bau hangus semua … Mustika ini hebat sekali Ayah…”
Dengan bangga Yao Shen menceritakan pengalaman membunuh musuh untuk pertama kalinya itu.
Ia pun kembali mengeluarkan Mustika Inti petir dan mengangkatnya di udara. Hal itu membuat wajah Ketua Qin Long dan Tetua Yehlu menjadi pucat.
Keduanya segera bergerak ke arah belakang Yao Chan. Hal itu membuat Yao Chan tersenyum melihat ketakutan di wajah kedua orang tersebut.
“Coba tunjukan pada ayah, bagaimana cara menggunakan Mustika itu.”
Yao Shen segera mengarahkan ujung Mustika Inti Petir itu ke arah tubuh Tetua Klan Naga Petir yang berada seratus meter di bawah mereka itu.
JEDAAARRR
BLAAAAAR
Suara menggelegar terdengar saat dari Mustika di tangan Yao Shen itu, keluar petir besar yang segera melesat sangat cepat dan menghantam tubuh Tetua Klan Elang Petir itu hingga hancur berkeping-keping.
Yao Chan menelan ludahnya melihat apa yang baru saja ditunjukan oleh puteranya pertamanya itu.
“Sekuat itukah Mustika Inti Elemen? Pantas saja mereka ditakdirkan untuk membunuh Sosok Iblis Sejati. Kekuatannya benar-benar dahsyat.”
Yao Chan berkata dalam benaknya dan berdecak kagum melihat kekuatan yang baru saja di tunjukan oleh puteranya itu.
Yao Shen segera kembali menyimpan Mutiara Inti Petir ke dalam lengannya. Hal itu membuat Tetua Qin Long dan Tetua Yehlu terlihat kagum.
“Putera Dewa Chan sangat luar biasa, mari kita kembali ke Aula Klan terlebih dahulu.”
Ketua Qin Long mengajak Yao Chan untuk kembali ke Aula Klan mereka. Sementara Tetua Yehlu, memimpin para anggota lainnya untuk membersihkan alun-alun Klan mereka yang dipenuhi oleh ribuan mayat itu.
“Li’er sebaiknya kita segera bergegas ke Gunung Erlang, setelah itu Aku akan mengantar Kau dan Shen’er ke Klan Pedang Suci.”
Yao Chan berkata demikian saat mereka telah berada di dalam Aula Klan Sekte Naga Bumi.
“Chan Gege … Mengapa kita harus ke Gunung Erlang terlebih dahulu? Mengapa harus kesana”
Yao Chan lalu menjelaskan pembicaraannya dengan Ular Naga Suci tentang Iblis Sejati yang telah muncul di alam manusia.
Kemunculannya itu karena ingin menyelamatkan Lin Shan yang merupakan salah satu dari tiga muridnya.
Hal itu juga menandakan bahwa Iblis Sejati telah melanggar kesepakatan antara dirinya dengan Dewa Tertinggi.
Kemungkinan akan adanya serangan dari ketiga muridnya itu, membuat Yao Chan ingin segera kembali ke Alam Kristal Dewa untuk meningkatkan kemampuannya lagi.
Untuk itu, Yao Chan ingin membawa Yao Shen dan Gong Li, serta Serigala Angin ke Gunung Erlang, tempat dimana Tombak Inti Petir berada.
“Dewa Chan … Gunung Erlang berada di bawah Kekuasaan Klan Tombak Petir, salah satu klan Aliran Hitam terkuat lainnya.”
Ketua Qin Long mengingatkan Yao Chan tentang situasi gunung Erlang. Yao Chan menganggukkan kepalanya mendengar hal itu.
“Chan Gege kapan kita berangkat ke sana? Gunung Erlang sangat jauh dari sini.”
Gong Li bertanya demikian karena Ia sebenarnya sudah sangat ingin kembali ke Klan Pedang Suci.
“Kita akan berangkat sekarang juga. Aku sudah memiliki ingatan Tetua Klan Elang Petir itu, Ia mengetahui banyak tempat.“
Yao Chan berhenti sejenak lalu ia mengatakan bahwa Tetua itu, pernah mendatangi Klan Pedang Suci.
“Dengan demikian Kita bisa sekejap berada di sana setelah Shen’er mengambil Tombak Pusaka Inti Petir itu.”
Yao Chan berdiri dari tempat duduknya, Ia pun mengeluarkan enam buah Apel Dewa dan memberikannya kepada Ketua Qin Long.
“Ketua Qin … Terimalah Apel Dewa ini, tiga buah untukmu dan tiga buah untuk Tetua Yehlu.”
Mata Ketua Qin Long membelalak melihat Buah yang selain langka juga sangat mahal dan sulit untuk membelinya itu.
“Dewa Chan … terimakasih banyak.”
Ketua Qin segera hendak bersujud, namun Yao Chan menahannya dengan menggunakan energi qi-nya.
“Kakek … kenapa Kakek begitu senang dengan apel itu, aku hampir tiap hari memakannya. Apa Kakek tidak pernah makan buah Apel?”
Perkataan Yao Shen membuat Ketua Qin tercengang. Yao Chan segera meminta maaf atas pertanyaan puteranya tersebut.
“Tidak Dewa Chan … Anda tidak perlu meminta maaf, aku hanya terkejut bahwa Shen’er setiap hari memakan Apel seharga satu juta Batu Roh untuk setiap buahnya itu.”
Mata Gong Li berbinar mendengar perkataan Ketua Qin. Ia pun berencana menjual lima buah Apel dewa yang Ia miliki setibanya di Benua Awan Biru.
Karena hanya di Benua Awan Birulah berada satu-satunya toko yang menjual kebutuhan bagi para Kultivator di Dunia Kultiva yaitu sebuah kelompok bernama Paviliun Harta Kultiva.
Setelah berpamitan kepada semuanya, Yao Chan, Gong Li, Yao Shen dan Serigala Angin, tiba-tiba menghilang dari tempat itu.
Keempatnya kini berada di puncak gunung Erlang, dimana terlihat Segumpal Awan Hitam yang terlihat memercikan Petir-petir kecil, berada kurang dari sepuluh di atas kawah Gunung tersebut.
*******