
“Grrrrrrr”
Suara geraman Serigala Angin yang masih dalam wujud besarnya, terdengar keras dan mengejutkan para penghuni Pohon Abadi Xian Fun Da Shi.
Hari telah berganti malam ketika Yao Chan dan Raja Peri Xian Bun tiba di Istana Peri. Suasana di Istana itu cukup terang karena adanya kristal cahaya yang besar.
Kristal cahaya itu adalah rumah bagi ratusan kunang-kunang yang berada di dalamnya, dari tubuh kuang-kunang itulah sumber cahaya itu berasal.
Ratu Peri, Xian Mey, dan lainnya segera keluar dari ruangan masing-masing dan membaur dengan prajurit Elit Istana Peri yang berjaga di depan Istana.
Yao Chan dan Raja Peri Xian Bun melesat turun dari punggung Serigala Angin yang segera mengubah wujudnya ke ukuran setinggi satu meter.
Ketiganya mendapat tatapan heran dari Ratu Peri Xian Xing dan Tabib Xian Niu.
Keduanya menduga, mereka membatalkan rencana kepergian ke lembah Hou Gu karena ada sesuatu hal yang terjadi dalam perjalanan mereka.
“Kanda … Ada apa Engkau kembali secepat ini? Apakah terjadi sesuatu…?”
Ratu Xian Xing segera bertanya kepada Raja Xian Bun, namun perkataannya terputus saat melihat guci yang terbuat dari Kulit Buah Pohon Abadi, tergantung di pinggang sang suami.
“Tidak Dinda … Kami baik-baik saja dan telah berhasil mendapatkan cairan dari Kelopak bunga itu.”
Raja Peri Xian Bun menjelaskan secara singkat tentang perjalanan mereka yang menunggangi tubuh Serigala Angin dalam wujud besarnya.
Ratu Peri Xian Xing sangat terkejut mendengar tentang kekuatan dan kecepatan yang dimiliki oleh Hewan Roh itu.
Raja Peri Xian Bun mengambil Guci dari Kulit Buah Pohon Abadi, lalu ia memberikan Guci tersebut kepada Tabib Xian Niu yang lalu memeriksanya.
Wajah Tabib Istana Peri itu tersenyum riang saat mendapati banyaknya cairan yang berhasil dibawa oleh Raja Peri.
“Dinda mari masuk … Aku sangat letih dan ingin beristirahat.”
Setelah berpamitan kepada Yao Chan dan Tabib Xian Niu, Raja Peri menggandeng tangan Ratu Peri Xian Xing dan melangkah menuju ruangannya.
Setelah kepergian Raja Peri, Tabib Xian Niu mengajak Yao Chan untuk menemaninya membuat Ramuan Pembesar Raga di Ruangannya,
Sementara Xian Mey, Gong Li dan lainnya segera kembali ke ruangan mereka dengan sebuah firasat buruk saat Yao Chan pergi bersama Tabib Xian Niu.
Mereka pun mengutarakan hal itu setibanya di ruangan Xian Mey. Mendengar hal itu Xian Mey tersenyum, ia lalu mengatakan akan mengintai apa yang Yao Chan Lakukan dengan Tabib Xian Niu dengan menggunakan kekuatan sihirnya.
Sementara Yao Chan mengikuti Tabib Xian Niu melesat turun hingga tiba di sebuah Rumah yang berada di dahan yang terbawah.
Setelah memasuki rumah Tabib Xian Niu, mata Yao Chan menatap takjub akan banyaknya benda-benda asing yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Kakek Tabib … banyak sekali alat-alat aneh di ruangan mu ini? Apakah semua itu Pusaka yang engkau miliki?”
“Ini semua adalah alat-alat yang ku gunakan untuk membuat berbagai ramuan sihir dan juga alat-alat Sihir.”
Tabib Xian Niu tersenyum menjawab pertanyaan Yao Chan yang terlihat kagum akan barang-barang yang Ia buat sendiri itu.
“Kakek Tabib apakah Ramuan Pembesar ini bisa untuk memperbesar bagian tertentu dari tubuh manusia seperti kami?”
Yao Chan bertanya demikian karena melihat sebuah gambar di dinding tentang bagian-bagian tubuh Peri yang disertai dengan keterangannya.
“Memperbesar bagian tertentu ya..? Selama bagian itu bukan tulang, Aku bisa membuatnya. Bagian mana yang ingin kau besarkan? Lengan atau Betismu?”
Tabib Xian Niu memandang Yao Chan yang terlihat senang mendengar ucapannya. Yao Chan Segera melayang hingga setinggi tubuh Tabib Xian Niu.
“Kenapa selama ini aku tidak terpikirkan hal itu? Ini akan membuat Raja Peri dan para Peri Pejantan lainnya akan lebih perkasa lagi. Idemu luar biasa Chan’er.”
Yao Chan menatap bingung ke wajah Kakek Tabib itu setelah mendengar kata “Peri Pejantan.”
Ia pun teringat tentang keheranannya sedari tadi siang. Sejak berada di Pohon Abadi Xian Fun Da Shi, Yao Chan hanya melihat Dua orang Peri Laki-laki, selebihnya adalah Peri perempuan.
“Kakek, sejak aku tiba di Pohon Abadi ini, aku hanya melihat dua orang Peri Laki-laki, yaitu Kakek dan Raja Xian Bun. Apakah tidak ada Peri laki-laki lainnya? Dan apa maksunya Peri Pejantan itu Kek”
Tabib Xian Niu tersenyum, Ia pun lalu menjelaskan bahwa bangsa Peri hanya akan memiliki satu keturunan laki-laki dalam seratus tahun sekali. Selebihnya adalah perempuan.
Peri Laki-laki itu disebut Peri Pejantan yang tugasnya adalah menjadi Penjaga kelangsungan hidup Bangsa Peri.
Hanya saja tidak semua Peri Pejantan mampu bertahan hidup lebih dari dua ratus tahun.
Dan tidak semua Peri Laki-laki yang lahir bisa menjadi Peri Pejantan. Hanya mereka yang memenuhi syarat saja yang bisa menjadi Peri Pejantan.
Peri Laki-laki yang memiliki tinggi tubuh kurang dari dua setengah meter, akan gagal menjadi Peri Pejantan dan terlarang untuk melakukan hubungan suami isteri.
Hal itu dilarang karena keturunan yang dihasilkan akan memiliki kelainan dalam ukuran tubuh atau pun mengalami cacat tubuh.
Hal ini pernah terjadi beberapa ratus tahun lalu, dimana seorang Peri Laki-laki terlahir dan hanya memiliki tinggi dua meter saja saat Ia telah dewasa.
Ia pun ditugaskan untuk menjadi penjaga perpusatakaan Istana Peri. Namun, Ia melanggar larangan tersebut dan melakukan hubungan suami isteri dengan seorang Prajurit Peri.
Keturunan yang dihasilkan menjadi berbeda dengan yang lainnya. Kulit Bayi Perempuan itu berwarna hitam walau tubuhnya memiliki ukuran tinggi yang normal. Bayi perempuan itu akhirnya diberi nama Peri Hitam.
Selain itu, Peri Laki-laki yang “Pusakanya” memiliki energi Cakra kurang dari seribu Ep, tidak akan bisa menjadi Peri Pejantan. Karena tidak akan mampu menghasilkan keturunan.
Di Dunia Bangsa Peri, Hanya ia dan Raja Peri Xian Bun yang memiliki Energi Cakra mencapai lima ribu Ep.
“Kakek bagimana mengukur Energi Cakra itu? Aku Ingin mengukurnya juga.”
Tabib Xian Niu segera mengambil sebuah Kertas Kosong dan menuliskan mantera dikertas tersebut dengan bahasa yang tidak Yao Chan pahami.
Yao Chan pergi ke sebuah Ruangan lain dan kembali sesaat kemudian dengan wajah yang terlihat tegang dan dada berdebar-debar.
Ia pun meyerahkan kertas itu kepada Tabib Xian Niu. Sebelum membuka gulungan kertas itu, Tabib Xian Niu memastikan apakah Yao Chan telah mengikuti cara yang ia ajarkan tadi.
Setelah Yao Chan mengangguk, Tabib Xian Niu membuka gulungan Kertas itu, matanya seketika melotot dan mulutnya terbuka lebar.
“Apa !!! Sepuluh Ribu Ep!!”
Tabib Xian Niu terduduk karena terkejut mengetahui hal tersebut. Hal yang sama terjadi dengan Burung Elang perliharaan Tabib Xian Niu,
Burung Elang itu memekik lalu jatuh menyentuh tanah dan seketika berubah menjadi sosok yang dikenali oleh mereka berdua.
“Putri Xian Mey …!”
“Mey’er!!”
Wajah Yao Chan seketika menjadi pucat. Sementara Xian Mey segera menghilang dari tempat itu dengan sihir pemindah Ruangnya.
******