
Hua Lun Ma terkekeh melihat kebingungan Yu Lian. Segera saja di tariknya jenggot palsu yang panjangnya sejengkal itu, lalu menarik kumisnya. Saat kumis palsu itu terlepas, wajah Yu Lian menjadi berubah ceria.
Segera dirinya melompat kedalam pelukan sang Kakek yang merawatnya sejak kecil. Yu Lian terlihat sangat bahagia setelah hampir dua puluh tahun tidak bertemu dengan Sang Kakek.
Bagi Ma Hua sendiri melihat Wajah Yu Lian seperti melihat putri tunggalnya kembali hidup. Hanya saja kecantikan alami Yu Lian melebihi kecantikan sang Ibu.
Semua yang hadir, terharu menyaksikan Yu Lian dan Kakeknya berpelukan sambil menangis. Kecuali Walikota Fu Zianhe dan puteranya. Terutama Fu Yin yang wajahnya kini semakin pucat.
Keduanya tak menyangka sama sekali Hua Lun Ma memiliki seorang cucu. dan yang lebih mengejutkan adalah identitas sebenarnya dari Hua Lun Ma yang ternyata adalah Ma Hua, Tetua tertinggi Sekte Lembah Dewa.
Setelah mengetahui siapa sebenarnya Hua Lun Ma, sikap Walikota Fu Zianhe berubah menjadi lebih hormat. Setelah beberapa saat Walikota Xinan itu mengajak mereka kembali ke kediamannya.
**
"Tetua tertinggi, salah satu anggota mata-mata kita datang hendak melapor." Salah satu tetua yang dulu menyamar menjadi murid Ma Hua datang menyampaikan sebuah berita.
Siang itu, Ma Hua sedang berbincang dengan Yao Chan Dan Yu Lian di ruang pribadinya yang disediakan oleh Walikota Fu Zianhe.
"Suruh dia masuk dan panggil empat tetua lainnya."
"Baik Tetua tertinggi." Jawab Tetua sekte tersebut.
Beberapa waktu kemudian enam orang pria memasuki ruang Tetua Ma Hua. Salah satu Pria yang berada di tingkat Pendekar Bergelar, segera memberi hormat dan menceritakan hasilnya menjadi mata-mata selama ini.
Pria berusia empat puluhan tahun itu menjelaskan bahwa beberapa minggu lalu telah beredar kabar jika di Hutan Merah terdapat sebuah pusaka yang memancarkan hawa kematian yang mencekam.
Tidak diketahui pusaka tersebut berbentuk seperti apa, apakah pedang, tombak, atau golok.
Pendekar yang memberi kabar itu, tidak bisa melihat dengan jelas karena Pusaka tersebut di kelilingi oleh siluman Serigala merah yang salah satu diantaranya berukuran sangat besar.
Pria itu juga menjelaskan bahwa saat ini, banyak sekte aliran hitam dan Netral sedang menuju ke kota Xinan. Hal ini karena kota Xinan adalah kota terdekat dengan wilayah Hutan Merah.
Dengan kedatangan para pendekar tersebut, tidak menutup kemungkinan akan terjadi kekacauan di kota Xinan beberapa hari ke depan. Mereka menjadikan kota Xinan sebagai tempat peristirahatan sebelum menuju ke Hutan Merah.
"Tetua, apa yang harus kita lakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk yang terjadi dengan kota Xinan?" Tanya Pria tersebut setelah mengakhiri penjelasannya.
"Akhirnya kabar keberadaan Pusaka Iblis itu menyebar luas. Yang bisa kita lakukan hanya memastikan tidak ada orang-orang dari Aliran Hitam yang berbuat kerusuhan. Tapi ini sulit dilakukan, mengingat mereka sekarang merasa berada diatas angin." Tetua Ma Hua menghela nafas panjang. Seolah ada beban berat menghimpitnya.
"Kakek kenapa bisa mereka merasa diatas angin?" Yao Chan bertanya dengan penasaran.
Ma Hua tersenyum tipis sebelum menjelaskan bahwa sejak musnahnya Sekte Lembah Dewa, Aliran Hitam merasa telah menguasai Dunia Persilatan kekaisaran Wu.
Situasi bertambah buruk ketika banyak Aliran Putih dan Netral yang menarik diri membantu menjaga kedamaian Wilayah di kekaisaran Wu. Mereka tidak ingin mengalami hal yang sama dengan Sekte Lembah Dewa.
Mendengar penjelasan Itu, Yao Chan mengepalkan tangannya erat-erat.
"Kakek.. Apakah Sekte Lembah Iblis Neraka akan datang juga ke kota Xinan?" Tanya Yao Chan yang memiliki dendam dengan Sekte tersebut.
"Mengenai hal itu aku tidak bisa memastikannya Chan'er. Namun mengingat watak Ketua Sektenya, kemungkinan besar mereka akan datang."Jawaban Tetua Ma Hua dengan suara yang sedikit bergetar, membuat Yao Chan mengerutkan dahinya.
"Kakek... Kenapa kakek terlihat seperti memiliki rasa takut terhadap mereka?"
Dengan Jumlah anggotanya yang hampir mencapai sepuluh ribu orang, menjadikan sekte tersebut sebagai sekte yang memiliki anggota terbanyak.
Selain itu hal yang membuat orang enggan berurusan dengan sekte tersebut karena Shin Lu sang ketua Sekte dikabarkan telah mencapai tingkat Pendekar Pertapa Akhir.
Keberadaan sang Kakak, Shin Mu yang kini menjadi pelindung Sekte tersebut bersama ke enam muridnya menambah ketakutan orang terhadap sekte Lembah Iblis Neraka.
Shin Mu dikabarkan telah mencapai tingkat Pendekar Suci tahap awal. Sementara keenam muridnya yang dikenal sebagai Enam Hantu Lembah Neraka, kini telah berada di tingkat Pendekar Pertapa Tahap awal.
"Jika mereka semua mendatangi kota Xinan, bisa dipastikan akan terjadi kekacauan besar di kota ini." Ma Hua berkata sambil menghela nafas panjang.
"Jadi kakek merasa tak percaya diri menghadapi Shin Lu yang kekuatannya setara dengan kakek saat ini?" Yao Chan menebak hal yang menyebabkan ketakutan Ma Hua.
Ma Hua dan Tetua lainnya terkejut mendengar perkataan Yao Chan yang bisa menebak tepat tingkat kekuatannya. Padahal Ma Hua belum pernah menunjukan sama sekali kekuatannya di hadapan Yao Chan.
Yao Chan tersenyum tipis melihat keterkejutan Ma Hua dan lainnya.
"Kakek.. kakek jangan khawatir, Shin Mu itu mungkin tidak akan pernah bisa menang melawan Lian'er, sekalipun Shin Lu membantunya." Yao Chan berkata dengan santainya.
Ma Hua dan keenam orang lainnya berdiri dari kursi karena rasa terkejutnya. Mereka menatap Yu Lian yang terlihat tersenyum manis dengan tatapan tidak percaya.
"Chan'er...jangan bercanda situasi seperti ini...." Ma Hua tak dapat melanjutkan kata-katanya, karena tiba-tiba saja Yu Lian melompat keatas dan berhenti di udara.
"Kakek .. apakah kakek bisa membaca tingkat kekuatanku ini?" Yu Lian tersenyum tipis melihat sang Kakek melotot dengan mulut terbuka lebar.
Sementara Yao Chan tertawa geli melihat situasi dihadapannya. Ke enam orang dihadapannya bahkan sampai mengusap-usap matanya seolah mata mereka salah melihat.
Bagaimana tidak, seorang gadis belasan tahun telah mencapai Tigkat setidaknya Pendekar Suci Awal.
Sebuah tingkatan pendekar yang mungkin hanya beberapa orang yang mampu mencapainya. Itu pun setelah berlatih dengan sangat keras dan waktu setidaknya selama tiga hingga delapan puluh tahun.
"Lian'er....bagaimana bisa... Apakah benar kau Lian'er cucuku?" Terbata-bata Ma Hua menjawab pertanyaan Yu Lian.
"Kakek.. apakah kakek ingat dengan Cambuk Naga Api ini?" Yu Lian mengambil Cambuk Naga Api yang tersimpan di Gelang Ruang Dimensinya.
Mata mereka kembali melotot, karena tiba-tiba saja tangan Yu Lian telah menggenggam sebuah Cambuk yang mengeluarkan Aura begitu kuat.
Ma Hua pun tercengang takjub, Pria tua itu sempat ragu bahwa gadis belia yang kini melayang di udara adalah Yu Lian.
Namun setelah melihat dan merasakan aura Cambuk di tangan Yu Lian tak ada lagi keraguan dihatinya. Hanya saja dia tak bisa membayangkan latihan berat seperti apa yang telah dijalani oleh Yu Lian.
Sesaat kemudian Yu Lian menyimpan kembali Cambuk Naga Api lalu menduduki kursi yang berada di samping Yao Chan dengan melayang terburu-buru.
Alasan Yu Lian melakukan hal itu karena merasakan walikota Fu Zianhe berlari kearah kediaman kakeknya dengan nafas yang memburu.
****
Anda Suka dengan cerita PTD ini? Dukung author dengan Like dan kritik yang membangun. Terimakasih 🙏🙏🙏.