Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
094: Rencana Besar


Tujuh hari setelah peristiwa pembunuhan Kaisar Wu Mao dan Perdana Menteri Lin Bao, di lembah Kematian yang merupakan salah satu lembah di pegunungan Huashan, Feng Hui terlihat masih berduka.


Tiga orang anak buahnya telah kembali dari Ibukota Kekaisaran dengan membawa berita bahwa enam orang Pembunuh Kaisar dan Perdana Menteri telah terbunuh oleh para pengawal.


Feng Hui kehilangan enam orang terbaiknya dalam misi kali ini, ia menganggap kematian ke enam anggotanya itu tak setimpal dengan jumlah uang yang baru setengahnya ia terima.


Untuk itulah tiga hari ke depan, ia berniat meninggalkan Lembah Kematian untuk menemui orang yang telah memberinya misi dan meminta sisa pembayaran batas terselesaikannya tugas tersebut.


Feng Hui tidak mengetahui bahwa sebenarnya Bai Xun dan empat orang lainnya tewas sebelum menyelesaikan tugasnya. Sementara Tao Yan sebenarnya masih hidup, setidaknya untuk beberapa waktu sebelum akhirnya terbunuh oleh Senjata Qing Mi, Cucu Dewa Racun Barat.


Feng Hui melesat ke udara lalu melayang dengan cepat ke arah barat. Ia membawa sebuah bumbung bambu yang biasa di gunakan untuk mengambil air.


Ia melewati celah bebatuan yang sempit sebelum akhirnya berada di sebuah tempat yang tertutup oleh bebatuan di bagian atasnya. Tak ada sinar matahari, bahkan semua benda di tempat tersebut berada dalam keadaan melayang di udara.


Sementara di hadapannya, terlihat sebuah pemandangan ganjil. Sebuah air terjun dengan airnya yang berwarna hijau, memiliki aliran yang terbalik.


Feng Hui segera melayang lebih dekat dengan bagian tepi untuk mengambil air dan memasukannya kedalam bumbung.


Setelah memenuhi bumbung itu, ia pun segera melesat kembali ke pemukiman kelompok mereka.


**


Di sebuah penginapan di kota perbatasan bagian timur wilayah kekaisaran Wu dan Kekaisaran Song, terlihat seorang kakek memasuki penginapan. Sudah hampir satu bulan ia dan dua orang lainnya menginap di penginapan mewah tersebut.


Para penjaga dan pelayan pun sudah terbiasa dengan mereka. Penyewa ruang terbesar dan termahal itu adalah seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun. Ia bersama dua orang pengawalnya yang berusia setidaknya tujuh puluhan tahun


"Paman, Bagaimana apakah ada perkembangan pergerakan mereka?"


Tanya Pria tiga puluhan tahun tersebut setelah menyilakan Kakek yang baru memasuki ruangan duduk.


"Sejauh ini belum Tuan Muda, saat ini mereka baru selesai berkabung. Kemungkinan besok hari Putera mahkota itu akan di nobatkan menjadi Kaisar."


"Lalu siapa pengganti Perdana Menteri tua itu, Paman?"


Tanya sosok yang dipanggil Tuan muda tersebut.


"Menurut berita yang hamba dengar, Menteri Pertahanan Lin Yung yang menggantikan Ayahnya menjadi Perdana Menteri."


Sosok yang dipanggil Tuan Muda itu mengerutkan dahinya. Matanya menatap tajam ke arah Kakek yang dipanggilnya Paman itu.


"Bukannya malam itu Paman sudah memusnahkan tenaga dalamnya dan membuatnya sekarat? kenapa ia sekarang baik-baik saja?"


"Berdasar informasi yang hamba peroleh, dia sembuh karena pemuda yang bisa melayang itu mengobatinya. Dan ternyata pemuda itu adalah Cucu Perdana Menteri Lin Bao."


"Pemuda itu lagi ya?..ternyata ia cucu Perdana Menteri Lin Bao. Lalu bagaimana apakah pergerakan kita sudah diketahui oleh mereka?"


"Sepertinya mereka belum menyadari pergerakan kita Tuan Muda. Sejauh ini berita yang hamba dengar di kota Wu Chang An, Dewa Racun Barat menjadi tersangka pembunuh kaisar."


Lelaki yang di sebut Tuan Muda itu mengangguk-anggukan kepala, sepertinya sedang memikirkan sesuatu.


"Baiklah Paman, kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi, kita mulai rencana utama kita. Aku sudah tidak sabar lagi melihat kehancuran Kekaisaran Wu. Hahahaha"


Pria itu muda itu tertawa senang, merasa langkahnya untuk menjadi seorang kaisar semakin dekat.


Sang nenek berjalan terbungkuk-bungkuk dengan sebuah tongkat butut di tangannya, ia juga menginap di rumah penginapan itu sejak dua hari lalu.


Saat sang nenek hendak melangkah pergi, tiba-tiba dua orang yang tadi berada di dalam ruangan sudah berada di hadapannya dan menghadang jalan nya untuk kembali ke ruangan di mana ia menginap.


"Ah rupanya seorang nenek tua."


Salah seorang dari Kakek tersebut berkata sambil menatap tajam ke arah nenek yang berdiri dalam keadaan membungkuk tersebut.


"Sepertinya ia seorang nenek biasa. Biarkan ia pergi."


Satu orang kakek yang lainnya berkata sambil melangkah kembali kedalam ruangan yang kemudian di ikuti oleh rekannya.


Nenek bungkuk itu menghela nafas panjang. Beruntungnya ia bisa menyembunyikan gerakan tubuhnya dengan pura-pura telah membungkuk. Ia kemudian berjalan kembali ke ruangan di mana ia menginap dua hari ini.


"Jadi Ayah Hua'er telah tewas terbunuh, oleh mereka dan si Dewa Racun Barat itu yang menjadi tersangkanya. Sial sekali kau tua bangka mesum hihihihi."


Nenek itu berkata dalam hatinya, ia terkekeh geli mendengar Dewa Racun Barat menjadi kambing hitam atas perbuatan mereka.


Dalam benaknya nenek itu bertanya-tanya siapa sebenarnya ketiga orang itu. Dan rencana besar apa yang sedang mereka rencanakan.


"Sepertinya kedamaian di Kekaisaran Wu akan terganggu oleh rencana utama mereka. Tapi apa rencana utama mereka itu?. Aku harus segera memberitahu Hua'er bahwa kakaknya itu berada dalam bahaya."


Selain sudah sangat rindu kepada ke dua orang muridnya itu, ia pun harus segera mengabarkan berita yang saja ia dengar.


Sang nenek yang tak lain adalah Xie Jia itu, sedang dalam perjalanan ke kota Wu Chang An. Xie Jia adalah orang yang telah menolong Lin Hua dan Yao Zhi saat delapan belas tahun lalu terjatuh dari jurang.


Xie Jia adalah Guru dari Lin Hua, ia yang mengajari Lin Hua beladiri hingga mencapai tingkat Pendekar Bergelar tahap Akhir. Ia Meninggalkan Lin Hua dan Yao Zhi saat Yao Chan baru berumur beberapa tahun.


Xie Jia adalah kekasih masa lalu Guo Jin. Karena sebuah kesalahpahaman diantara keduanya mereka berpisah secara tak baik-baik.


Setiap mereka bertemu, keduanya selalu bertarung, namun Guo Jin selalu mengalah dan membiarkan Xie Jia menghajarnya. Hal itu berlangsung hingga tujuh kali dan itu terjadi empat puluh tahun yang lalu.


Dalam lubuk hatinya yang terdangkal, sebenarnya masih ada sedikit rasa Xie Jia kepada Guo Jin, namun egonya berbicara lebih banyak daripada hatinya.


Untuk itulah ia meninggalkan tempat kelahirannya dan mengasingkan diri di sebuah hutan yang merupakan dasar sebuah jurang.


Siang itu juga Xie Jia memutuskan untuk segera menuju ke kota Wu Chang An. untuk segera menemui Lin Hua dan memberikan tentang rencana besar dari tiga orang yang dua diantaranya memiliki kemampuan Pendekar Suci tahap Akhir.


Tanpa pernah ia duga kedatangannya ke kota Wu Chang An akan membuatnya bertemu dengan seseorang dari masa lalunya.


Hal itu karena Guo Jin baru saja tiba di kota Wu Chang An untuk mengunjungi Yu Ma dan Lin Hua sesaat setelah mendengar Lin Bao tewas terbunuh.


...*****...


...Like dan Vote adalah VITAMIN bagi Author agar selalu sehat jiwa dan jarinya sehingga terus bersemangat dalam menata kata😁....


...Jangan Lupa Like dan Votenya ya....


...Terimakasih...