Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
178: Mengamankan Kota 3


Yao Chan hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali mendengar Kakek gurunya itu memaki dirinya.


Setelah memaki Yao Chan, Guo Jin membantu Xin Jia untuk duduk kembali. Wajah Xin Jia berubah seram sesaat setelah ia duduk, lalu ia pun melesat dengan cepat kearah Yao Chan yang hanya bisa pasrah saat sedetik kemudian telinganya telah berada di jari tangan Nenek Xin Jia.


"Dasar Bocah m**** nenek-nenek pun mau kau jadikan rezeki nomplok yang tak terduga lagi hah"


"Ampun Nek ... Aku tak sengaja karena sedang terburu-buru karena ada hal genting yang sedang terjadi."


Jika saja keadaan sedang tidak genting, Yao Chan tentu saja akan meladeni kemarahan sosok yang sudah seperti neneknya itu.


Xin Jia sebenarnya marah karena merasa malu kepergok Yao Chan saat sedang beromantis ria dengan suaminya sendiri layaknya pasangan muda yang baru menikah.


Tetapi itulah cinta, ketika ia ingin tumbuh, bahkan di tanah gersang tandus pun ia akan tetap bersemi dan mencengkram hati manusia yang membuat insan tua berasa muda kembali.


Begitulah yang sedang terjadi pada Xin Jia dan Guo Jin. Dua tokoh dunia persilatan Kekaisaran Wu yang disegani oleh lawan maupun kawan.


Sementara itu, Xin Jia yang mendengar nada bicara Yao Chan terdengar serius, mengerutkan dahinya, ia pun lalu melepaskan cengkraman jarinya pada telinga Yao Chan.


"Chan'er ada hal genting apa hingga tiba-tiba kau muncul menemui kami?"


Guo Jin bertanya kepada Yao Chan seraya menghampiri mereka berdua.


"Kakek saat ini waktu sangatlah berharga, aku harus menjemput yang lainnya, Kakek bisa bertanya pada Ayah saat bertemu nanti."


Yao Chan segera menggenggam tangan Guo Jin dengan tangan kanannya sat Guo Jin tiba didekatnya. Sementara tangan kirinya menggenggam tangan Nenek Xin Jia.


"Guru ... Syukurlah Kau sudah tiba."


Mendengar suara Yu Ma, Guo Jin dan Xin Jia segera membuka mata mereka, ia merasa takjub saat baru saja memejamkan mata, ia telah berpindah sejauh puluhan kilometer dari tempatnya semula.


Saat ia ingin berkata kepada Yao Chan, pemuda tersebut telah hilang dari pandangan mata mereka semua.


Kurang dari lima menit, Yao Chan telah kembali bersama Gui Han, Dewa Obat dan Tetua Ma Hua.


Firasat buruk menggelayuti benak Dewa Racun barat perihal janji Yao Chan sebelumnya saat dirinya melihat teman dan juga musuh bebuyutannya. Fu Mao si Dewa Obat.


Demikian juga dengan Dewa Obat Fu Mao, awalnya ia tak curiga siapa teman Yao Chan yang minta dibuatkan ramuan obat kuat olehnya.


Namun saat melihat Duan Xing si Dewa Racun Barat ia pun merasa akan menyesal telah mengiyakan permintaan Yao Chan saat mereka masih berada di ruang Pribadi Yao Fu di Istana Kekaisaran Wu.


Namun kedua Kakek itu menahan semua pertanyaan di benak mereka berdua. Karena saat ini mereka sedang berada dalam situasi yang tidak tepat untuk menanyakan hal itu kepada Yao Chan.


Yu Ma yang sebelumnya telah menyusun strategi menjadi sedikit pusing, mengingat jumlah mereka tidak ada sebelas orang. Saat ini jumlah mereka hanya sepuluh orang.


Yao Chan memahami apa yang ayahnya pikirkan, ia pun segera mengutarakan rencananya yang membuat Wajah Yu Ma kembali bersemangat.


Dengan Jurus Berpindah dalam sekejapnya, Yao Chan membawa Qing Mi dan Dewa Racun Barat ke Kota Beiping yang pagi itu masih terlihat aman-aman saja.


Kepada para prajurit penjaga gerbang Yao Chan menunjukan Lencana Kaisar Wu Jian dan mengatakan bahwa kedua orang yang bersamanya adalah orang-orang yang diutus oleh Kaisar Wu Jian.


Setelah mengantarkan mereka berdua dengan jurus Berpindah Dalam Sekejap, Yao Chan kembali ke kota Xinan, tempat yang lainnya masih menunggu untuk ia pindahkan dengan jurus Teleportasinya.


Guo Jin dan Xin Jia keduanya mendapat bagian untuk mengamankan kota Shandong, yang saat mereka bertiga sampai disana, telah terjadi kerusuhan besar di kota tersebut.


Sebenarnya Yao Chan ingin membantunya namun mengingat waktu yang ia miliki terbatas, ia segera kembali ke kota Xinan dengan kekhawatiran bahwa kempat kota lain yang tersisa telah berada dengan situasi yang serupa.


Kekhawatiran Yao Chan akan kondisi kota yang lain segera membuatnya berpindah lebih cepat dari sebelumnya.


Ia pun mengantarkan Kakek Gui Han dan Dewa Obat ke Kota Yudong. Kedua Kakek itu sepertinya tak sempat untuk beristirahat karena pertarungan dalam skala besar telah terjadi di kota tersebut.


Terlihat para prajurit dibantu oleh puluhan pendekar yang entah dari mana mereka datang, sedang mencoba menahan serangan itu.


Yao Chan segera kembali ke kota Xinan untuk mengantarkan Zhu Yin ke kota Fuxuan dimana saat mereka tiba kota tersebut, baru saja mendapat serangan besar oleh dua Sekte Aliran Hitam yang membantu Song He.


"Yin'er berhati-hati lah, Aku akan membuat duplikat diriku untuk membantu mu sebelum aku pergi ke Kota Nanjing."


Tanpa menunggu jawaban dari Zhu Yin, Yao Chan segera bermeditasi untuk membuat duplikat dirinya.


"Hamba siap melaksanakan perintah anda, Tuanku Tampan."


"Baguslah, tugasmu adalah membantu gadis ini dan menghadapi mereka, jangan biarkan satu orang pun yang lolos. Dan Jangan lupa kau harus mematuhi perintahnya."


"Siap Tuanku tampan."


Sosok Duplikat Yao Chan itu tersenyum tipis melihat kearah ribuan orang yang mulai menyerang gerbang Kota.


Tanpa menunggu lebih lama Zhu Yin yang sudah mengeluarkan Pedang Gadis Suci dari Gelang Ruang Dimensinya, segera mengajak Duplikat Yao Chan untuk segera menyerang mereka.


Sosok Duplikat Yao Chan hanya mengangguk dan segera melesat mengikuti Zhu Yin, walau dalam benaknya ia bertanya mengapa harus patuh pada perintah gadis itu.


Hal itulah yang akan ia tanyakan pada Tuan Tampannya nanti setelah ia selesai membasmi mereka semua.


Yao Chan segera berpindah tempat ke Kota Nanjing. Sesampainya di sana Yao Chan merasakan tubuhnya terasa sangat lemas membuatnya seketika terduduk dan bersandar dengan nafas terengah-engah.


Yao Chan sebenarnya sudah sangat kelelahan menggunakan jurus Berpindah dalam sekejap secara terus menerus apalagi ia harus membawa setidaknya dua orang, yang membuat energi qi nya segera berkurang dengan cepat.


Saat Berpindah dalam sekejap setelah membuat duplikat dirinya, Yao Chan nyaris saja terjebak dalam dimensi Dimensi waktu dan Ruang yang bisa saja membuatnya terkurung selamanya dalam dimensi itu karena nyaris kehabisan enegi qi nya.


Untuk membuat duplikat dirinya ia membutuhkan banyak qi sedangkan energi qi-nya banyak terkuras setelah ia melakukan jurus Teleportasi.


Beruntungnya ia berhasil tiba di kota Nanjing, dan menemukan kota besar tersebut belum mendapat serangan.


Yao Chan segera memulihkan dirinya dengan bermeditasi, namun sebelumnya ia meminum secawan besar Air Hijau dari Guci Dewa Air dan menyerapnya.


Dengan bantuan Mutiara Jiwa Naga, secawan besar air hijau itu berhasil ia serap dalam waktu lima menit saja.


Tubuhnya kembali segar seperti sediakala, dua puluh satu ribu kristal qi-nya telah kembali penuh oleh energi dari Air Hijau yang berhasil ia serap dengan cepat.


Sesaat kemudian Yao Chan melesat ke udara setinggi seratus meter untuk mengamati situasi Kota Nanjing dari ketinggian.


Dan ia pun tersenyum saat merasakan adanya aura kuat dari dua orang Kakek yang terlihat memimpin sebuah kelompok besar yang setidaknya berjumlah tiga ribu orang.


Kelompok tersebut masih berjarak lima ratus dari Gerbang Timur Kita Nanjing. Yao Chan memutuskan untuk menghadang mereka disana, di sebuah Padang Rumput yang sangat luas. Ia pun melesat dengan sangat cepat menghadang mereka.


*****


.