Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
121: Singa Gurun


Malam itu menjadi malam panjang bagi mereka berempat. Wu Jian memutuskan untuk pergi keluar penginapan mengajak Yu Lian dan lainya berjalan-jalan menikmati suasana Kota Anhui.


Hal itu ia sampaikan kepada Kedua menterinya yaitu Menteri Pertanian dan Menteri Pangan beserta Kepala Pengawal Pasukan Elit Kaisar, yang memliki kemampuan Pendekar Raja tahap Akhir itu.


Awalnya mereka bertiga kurang setuju dan meminta kepada Kaisar agar tidak keluar dari penginapan demi keamanannya dan juga adanya masalah rumit yang sedang mereka hadapi.


Ketiganya tersenyum lega setelah mendengar penjelasan bahwa masalah mereka akan segera selesai karena sudah diketahui penyebabnya. Dan hal itu akan diurus oleh Yao Chan bersama Yu Lian dan Zhu Yin.


Keempat muda-mudi itu menyusuri jalanan kota Anhui dengan wajah ceria, terutama wajah Kaisar Wu Jian. Ia yang selama ini berada dalam rutinitas dan aturan kehidupan Istana, jarang sekali menikmati kehidupan sebebas seperti yang ia rasakan saat ini.


Sudut memandang hidup sang Kaisar Muda itu pun perlahan mengalami perubahan. Selama ini, ia hidup dalam kemewahan, dalam pujaan atas tahta dan harta yang ia miliki. Namun saat ini, saat ia tidak bersama keduanya, ia merasakan kebahagian yang berbeda.


Bersama dengan Yu Lian ia mencicipi makanan yang dijajakan di pinggir jalan, tertawa dan bercanda seperti umumnya muda mudi. Tanpa mereka berdua sadari lima pasang mata laki-laki mengawasi mereka sejak beberapa waktu lalu.


"Kakak, sepertinya mereka dari keluarga bangsawan, lihat gadis itu, kecantikannya pasti membuat Bos senang sekali dan kita akan mendapat hadiah besar jika berhasil menculiknya."


Salah seorang laki-laki yang berkumis tipis menyuarakan idenya yang membuat wajah keempat rekannya berubah antusias. Seringai licik mereka tersungging dari bibir membayangkan hadiah besar yang akan diterima dari Bos mereka.


"Kita tunggu mereka tiba di tempat yang agak sepi, lalu kita culik gadis itu. Kita berbagi tugas, kalian bertiga robohkan pria itu, kalian berdua bawa gadis itu dan sekap di tempat kita menginap. Sementara aku akan mengawasi keadaan dan berjaga-jaga."


Keempat laki-laki lainnya mengangguk mendengar perkataan lelaki bertubuh paling besar diantara mereka itu. Tanpa mereka sadari sepasang mata berbulu lentik sedang mengamati mereka dengan tatapan yang dipenuhi hasrat membunuh yang besar.


Yao Chan dan Zhu Yin yang terpisah dengan Yu Lian dan Kaisar Wu Jian tersenyum tipis melihat gelagat lima laki-laki yang sepertinya merencanakan sesuatu kepada Yu Lian.


Selain itu mereka berdua juga mendapati seorang gadis cantik terlihat sedang mengamati kelima pria itu dengan tatapan membunuh.


Seandainya lima lelaki itu mengetahui siapa mereka berdua, mungkin mereka akan muntah darah karena berencana melakukan kejahatan padanya.


Yao Chan dan Zhu Yin semakin menjaga jarak dengan Yu Lian dan Kaisar Wu Jian. Mereka sengaja memberi celah kepada lima laki-laki itu menjalankan rencananya.


Yu Lian dan Kaisar Wu Jian akhirnya tiba di sebuah jalanan yang agak sepi, saat itu mereka hendak melihat-lihat toko yang menjual pakaian dan aksesoris. Toko-toko tersebut agak terpisah dengan toko yang menjual makanan.


Saat akan melewati sebuah perempatan jalan yang agak sepi, keduanya dikejutkan oleh lima orang laki-laki yang tiba tiba mengepung mereka.


"Siapa kalian dan apa maksud kalian menghalangi langkah kami?"


Wu Jian membentak kelima lelaki yang hanya tertawa mendengar perkataannya itu.


"Diamlah pemuda bodoh, kami akan membawa gadis di samping mu.itu sebagai hadiah untuk Bos kami hahahaha .. Cepat kalian kerjakan tugas kalian!"


Lelaki bertubuh paling besar diantara kelima laki-laki itu berkata seraya memerintahkan rekan-rekannya bergerak sesuai rencana mereka.


Saat Keduanya hendak bergerak menyerang ke arah lima laki-laki yang mengepung mereka, sesosok bayangan gadis muda bergaun merah, datang dan langsung menebaskan pedangnya ke arah leher seorang laki-laki yang tidak menduga akan mendapat serangan cepat yang mendadak itu.


Kepala lelaki itu, jatuh dan menggelinding bersamaan dengan terdengarnya suara seorang gadis yang membentak mereka.


"Perampok Singa Gurun, berani sekali kalian berbuat onar di wilayah Dewa Racun Barat!"


Seorang gadis yang tak kalah cantik dengan Yu Lian dan Zhu Yin terlihat sedang menghunuskan pedang ke arah lelaki bertubuh besar yang sedang terkejut untuk kedua kalinya itu.


Mereka terkejut mendapat serangan yang tak terduga yang begitu cepat, jauh diluar kemampuan mereka yang merupakan Pendekar Bergelar.


Nama Dewa Racun Barat adalah hal lain yang membuat mereka terkejut untuk kedua kalinya. Dan akhirnya mereka pun mengenali siapa Gadis cantik bergaun merah yang sedang menghunuskan pedang itu.


"Nona Qing Mi!! Cucu Dewa Racun Barat!! Mohon ampuni kami, kami tidak mengetahui jika Kota Anhui berada dalam perlindungan Dewa Racun Barat."


Suara yang bergetar dari tubuh yang gemetar dari keempat laki-laki itu adalah pemandangan yang kini terlihat lucu di mata Wu Jian dan Yu Lian. Mengingat sebelumnya mereka telah bersikap arogan dan sombong, namun kini terlihat seperti ayam potong.


Sementara itu belasan meter dari mereka, Yao Chan sedang terkejut mendengar nama Qing Mi dan Dewa Racun Barat disebutkan. Ia pun tersenyum mengingat kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka berdua.


"Mengampuni kalian..? Mana mungkin aku mengampuni kalian, dosa kalian terlalu besar untuk di ampuni."


Gadis cantik itu bergerak dengan cepat setelah mengakhiri kata-katanya. Pedang ditanganya berkelebat dengan cepat kearah seorang lelaki yang merupakan anggota perampok Singa Gurun itu.


Pertarungan pun terjadi antara gadis dan keempat perampok tersebut. Hanya saja pertarungan tersebut tidak berlangsung lama, Kemampuan gadis yang di panggil Qing Mi itu, jauh diatas ke empat perampok itu.


Dalam waktu satu menit, tiga orang perampok, terkapar tewas dengan luka di leher dan dadanya. Sementara satu orang yang tubuhnya paling besar, kini sedang terduduk dengan tangan sebelah kanan yang buntung tertebas pedang Qing Mi.


"Tolong jangan bunuh aku Nona, aku sudah tidak memiliki tangan lagi, aku akan bertobat dan menjadi orang baik-baik."


Laki-laki itu menghiba kepada Qing Mi yang tersenyum sinis melihatnya.


"Aku sudah sering melihat perampok yang bertangan satu, jika kau kubiarkan hidup, maka akan bertambah lagi orang-orang seperti itu."


Qing Mi pun menebaskan pedangnya dengan kuat kearah leher pria tersebut, namun saat pedangnya berada sejengkal lagi dari leher perampok itu, pedangnya terhenti tanpa bisa ia gerakan lagi. Kebingungan pun terlihat di wajah cantiknya.


"Maaf Nona Cantik, sebaiknya dia jangan di bunuh dulu."


Seorang pemuda tampan, entah kapan datangnya, tiba-tiba telah berada di sampingnya dan menahan laju tangannya yang memegang pedang.


******