
Saat Yao Chan dan lainnya sedang berlatih di pegunungan Huashan, Song He bersama Shin Mu dan Huang Lun, terus mempersiapkan diri untuk melakukan serangan terbesar mereka ke Kekaisaran Wu.
Sepanjang perjalanan, Song He dengan menggunakan statusnya sebagai Putera Mahkota Kekaisaran Song, terus menghimpun aliansi dengan beberapa sekte aliran hitam maupun aliran Netral yang berada di wilayah kekaisaran Song.
Bagi mereka yang mau bekerjasama dan bergabung dengan aliansi, akan mendapatkan posisi saat kelak dirinya menjadi Kaisar. Namun bagi mereka yang menolak akan dibantainya sehingga tak ada yang tersisa.
Kaisar Song Yu yang semula menganggap puteranya tersebut telah tewas, menjadi gembira saat mendapat berita bahwa Putera Mahkota Song tersebut masih hidup.
Bahkan berita tentang kemampuan beladirinya yang meningkat pesat pun telah ia terima bersama berita lain yang membuat sang Kaisar menjadi resah.
Pembantaian yang dilakukan oleh Song He kepada sekte yang menolak beraliansi dengannya, menjadikan kekhawatiran tersendiri di benak sang Kaisar Song tersebut.
Gejolak pun akhirnya terjadi di wilayah Kekaisaran Song karena sikap semena-mena Song He yang telah mendapatkan kekuatan dari Trisula Iblis Hitam.
Dibantu dengan dua orang tokoh sesat dari kekaisaran Wu, Song He menjadi sosok yang ditakuti oleh banyak sekte di Kekaisaran Song dalam waktu yang relatif singkat.
Namun tak sedikit sekte yang tergabung ke dalam aliansi yang dibentuknya. Hingga satu bulan kemudian Song He telah membentuk aliansi yang besar dengan jumlah sekte aliran hitam dan aliran netral yang hampir mencapai dua puluh sekte.
Jumlah pendekar yang berhasil tergabung dalam aliansi yang dibentuknya tersebut hampir mencapai dua puluh ribu orang. Dengan kekuatan sebesar ini, Song He merasa yakin dapat menguasai kekaisaran Wu dalam rencananya kali ini.
Setelah hampir satu bulan ia mengunjungi banyak sekte, akhirnya Song He sampai kepada tujuan utamanya yaitu mencari keberadaaan Iblis Kuning.
Saat mereka tiba di sebuah desa yang cukup besar di bagian timur wilayah Kekaisaran Song, Iblis Hitam yang merasakan aura Iblis Kuning, menyampaikan kepada Song He bahwa bahwa Iblis Kuning berada di sekitar mereka.
Saat mereka sedang bersantap di sebuah kedai, seorang lelaki tua bertubuh semampai, satu meter tak sampai, datang memasuki kedai dengan membawa sebuah cakram besar berwarna kuning keemasan di punggungnya.
Semua mata tertuju pada lelaki tua tersebut saat ia memasuki kedai. Cakram besar yang ia bawa mempunyai tinggi yang nyaris sama dengan tinggi tubuhnya.
Lelaki tua itu segera berjalan menuju ke meja dimana Song He dan lainnya berada. Ia pun memberi hormat kepada Song He.
"Salam kepada Putera Mahkota Song He, kenalkan hamba Mo Duan berjuluk Iblis Lembah Heizhu."
Song He menatap lelaki tersebut dengan senyum lebar di bibirnya. Roh Iblis Hitam yang bersemayam dalam trisula di punggungnya, telah mengatakan bahwa Iblis Kuning yang mereka cari, berada di dalam Cakram besar di punggung kakek Cebol itu.
"Salam Kakek Duan, silakan duduk, mari menikmati hidangan bersama kami."
Mo Duan pun mengucapkan terimakasih lalu segera melompat untuk menduduki sebuah kursi yang masih kosong.
Setelah memesan hidangan untuk Mo Duan, Song He pun berbincang-bincang sejenak dengan Mo Duan.
Setelah menjelaskan tujuannya, Mo Duan pun menyatakan diri bergabung dalam aliansi yang di bentuk oleh Song He, sebagaimana perintah yang ia terima dari Roh Iblis kuning yang berada di Dalam Cakram besar di punggungnya.
Song He tersenyum senang mendapati niatnya untuk menguasai Kekaisaran Akan segera terwujud. Tanpa ia sadari, Roh Iblis Hitam di dalam Trisula, sedang menyeringai lebar melihat kebodohannya.
****
Di Sore hari Tiga orang muda-mudi, terlihat sedang menunggang kuda kearah gerbang sebuah kota kecil di wilayah sebelah barat ibukota Kekaisaran Wu. Kota yang berjarak ratusan kilometer dari Kota Wu Chang An itu bernama Kota Anhui.
Ketiganya memasuki kota setelah salah seorang gadis yang memiliki kecantikan surgawi menunjukan identitasnya sebagai permaisuri Kekaisaran Wu. Para prajurit yang semula terpana melihat kecantikan gadis te9prsebut dan berniat menggodanya, kini menelan ludah ketika menyadari siapa gadis hadapan mereka itu.
Yao Chan mengajak Yu Lian dan Zhu Yin untuk berkelana ke wilayah barat Kekaisaran Wu. Selain untuk memenuhi janjinya kepada Dewa Racun Barat, mereka juga penasaran dengan informasi tentang sebuah desa.
Yao Chan secara tak sengaja berbincang dengan seorang pemilik kedai dimana mereka singgah untuk mengisi perbekalan dan makan di sana.
Pemilik kedai tersebut menjelaskan bahwa ia termasuk orang baru di desa tersebut. Dia pergi meninggalkan desanya karena sebuah bencana alam menghanguskan pepohonan dan tanaman mereka lebih dari sepuluh tahun lalu.
Saat bencana itu terjadi, sebuah hutan besar berjarak kurang dari sepuluh kilometer dari desa mereka, mengalami kebakaran hebat.
Semenjak terjadinya kebakaran tersebut, wilayah pada radius sekitar lima belas kilometer dari hutan besar tersebut, mengalami cuaca ekstrim sepanjang tahun.
Cuaca ekstrim tersebut adalah hawa panas yang yang tidak berubah walau dimalam hari. Hal itu membuat tanaman mereka menjadi layu dan lahan pertanian mereka selalu mengalami gagal panen.
Hal itu menyebabkan seluruh penduduk desa memutuskan untuk berpindah ke tempat lain, mereka pun pergi ke tempat dimana saudara mereka berada.
Pemilik kedai juga menjelaskan bahwa desa mereka terletak di sebelah barat kota Anhui, sekitar dua puluh kilometer lagi dari kita kecil yang kini sedang disinggahi oleh Yao Chan bersama Zhu Yin dan Yu Lian.
*Chan Gege aku sebaiknya kita mencari penginapan terlebih dahulu, suasana kota ini sepertinya menyenangkan sekali jika malam hari."
Yu Lian berkata demikian setelah mengamati bahwa kota kecil ini, tertata dengan sangat rapi. Jalanan yang mereka lalui dipenuhi para pedagang yang berjejer dengan toko-toko yang sederhana namun bersih.
"Baiklah, kita juga sedang tidak terburu-buru, desa yang dimaksud oleh pemilik kedai itu hanya berjarak dua puluh kilometer lagi dari kota ini. Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan besok pagi saja."
Yao Chan pun menyetujui kehendak adik tirinya tersebut, ia juga merasa nyaman dengan suasana senja di kota Anhui ini.
Zhu Yin dan Yu Lian tersenyum senang mendengar keputusan Yao Chan. Mereka sudah merasa jenuh dengan rutinitas selama tiga minggu terakhir kemarin.
Yu Lian berhasil menguasai teknik Sembunyi Dalam Terang dengan penguasaan mahir, sementara Zhu Yin berhasil menguasai jurus Berpedang dengan menggunakan dua tangan.
Mereka pun bergegas untuk mencari sebuah penginapan. Mata ketiganya menyipit saat menemukan sebuah penginapan yang sepertinya termegah di kota itu.
Bukan karena bangunannya yang terlihat megah, namun sesuatu yang berkibar di depan pintu penginapan tersebut.
*****