
Di Aula Istana Peri, Tabib Xian Niu telah selesai menceritakan tentang Roh Keji itu kepada Yao Chan dan yang lainnya.
Yao Chan terlihat termenung setelah mendengar penjelasan tentang Kekuatan Roh Keji tersebut. Rasa penasaran muncul dalam hatinya akan kekuatan Roh itu.
Seandainya benar Roh Keji itu telah terbebas, maka kedamaian Di Dunia Moxian bahkan kedamaian di dua dunia lainnya sedang berada dalam bahaya besar.
“Kakek Guru, Apakah tidak ada cara lain untuk membunuh Roh itu sebelum Ia lahir setahun lagi?”
Xian Mey bertanya kepada Tabib Xian Niu karena ia memiliki sebuah pemikiran tentang takdir Yao Chan yang terlahir di kehidupan ke duanya ini.
“Tidak ada, Hanya Dewa Naga dengan Tombak Saktinya yang bisa menaklukan Mahkluk keji itu. Jika saja sosok kejam dari Dunia Kultiva itu masih Hidup, mungkin ia bisa menghadapinya karena kekuatan mereka sepertinya setara.”
Tabib Xian Niu terlihat menghela nafas panjang. Dalam benaknya ia selalu bertanya-tanya tentang jalan kejahatan.
Mereka yang berlaku jahat, selalu menemukan cara untuk menjadi lebih kuat, selalu ada jalan untuk melakukan kejahatannya di manapun dan kapan pun.
“Jika begitu kita tidak perlu terlalu khawatir lagi akan Roh Keji dengan adanya Chan Gege disini.”
Ucapan Xian Mey membuat Tabib Xian Niu dan Ratu Peri Xian Xing mengerutkan dahi mereka dan menatap Xian Mey dengan wajah yang keheranan.
“Mey’er … apa maksudmu berkata begitu? Aku tahu Pemuda ini memang kuat, namun kurasa kekuatannya masih berada jauh di bawah kekuatan penuh Roh keji maupun manusia Dunia Kultiva yang kejam itu.”
Ratu Xian Xing berkata demikian seraya menatap tubuh kecil manusia yang ada dihadapannya.
Sebuah ingatan membersit dalam kepalanya saat menatap lekat-lekat wajah pemuda dari bumi itu. Ingatan yang membuatnya tersentak bangun dan memegang erat Tongkat Saktinya itunya.
Hal yang sama dilakukan oleh Tabib Xian Niu, Ia berdiri dan bersiap dengan mengalirkan energinya yang membuat telapak tangannya mengeluarkan Cahaya Kuning.
Aura membunuh terpancar kuat dari mereka berdua, membuat Pasukan Elit bangsa Peri memasuki Ruangan bersamaan dengan munculnya sesosok Peri Laki-laki dari ruang hampa yang memiliki kekuatan diatas kedua orang tersebut.
Xian Mey segera berdiri melihat hal itu, demikian juga dengan Yao Chan dan yang lain.
“Kakek, Ayah, Bunda, tahan! Jangan menyerangnya. Ia berbeda dengan dirinya yang dulu!”
Xian Mey segera melesat dan berdiri diantara dua pihak tersebut. Sesosok yang dipanggil Ayah oleh Xian Mey segera bertanya kepada Xian Mey dengan tajam tajam.
“Mey’er apa maksudmu dengan dia berbeda dengan dirinya yang dulu? Mengapa Kau bisa berteman dengan mereka?”
Suara tegas dan berwibawa dari Ayah Xian Mey, membuat yang lain terdiam saat tangan Peri laki-laki dengan tinggi empat meter tersebut memberi tanda saat Pasukan Elit akan bergerak mengurung mereka berempat.
Dengan cepat Xian Mey menjelaskan tentang Yao Chan dan apa tujuannya mendatangi di Dunia Moxian.
Mendengar penjelasan Xian Mey, seluruh Peri yang hadir di dalam Aula Istana tersebut menjadi terkejut.
Namun begitu, Xian Bun, Ayah Xian Mey, tidak serta merta percaya dengan tujuan Yao Chan yang ingin membunuh Iblis Hitam dan menyegel senjatanya.
Menatap Yao Chan, membuat dirinya teringat saat delapan puluh tahun lalu dikalahkan Yao Chan dan menderita luka yang nyaris merenggut nyawanya.
Ia bersama Tabib Xian Niu, dan isterinya, Xian Xing, tentu saja menolak keinginan Sosok Yao Chan dimasa lalu yang ingin merobohkan Pohon Abadi Xian Fun Da Shi.
Namun mereka semua berakhir dengan luka dalam dan nyaris terbunuh seandainya Dewa Naga terlambat datang dan lalu membunuh Sosok Yao Chan serta menyegel rohnya.
Kini menemukan Sosok Jahat dan kejam dimasa lalu itu telah kembali dan berdiri dihadapannya, membuatnya diselimuti berbagai pertanyaan.
Aura Berat memenuhi udara dalam seketika saat sebuah cahaya besar dan terang menyilaukan mata, tiba-tiba saja muncul di tengah-tengah mereka.
Aura yang oleh Bangsa Peri sangat di kenali itu, membuat seluruhnya dari mereka langsung berlutut.
Demikian juga dengan Yao Chan, Zhu Yin dan Gong Li, mereka segera berlutut dengan posisi yang sama. Dan Qing Mi menjadi yang terakhir melakukan hal itu dengan wajah yang terlihat penasaran.
Cahaya terang tersebut perlahan meredup dan memperlihatkan sosok tubuh yang tingginya lebih dari lima meter.
“Hormat kami kepada Yang Agung Dewa Naga!”
Xian Bun berkata lantang saat sosok Dewa Naga telah benar-benar mewujud nyata. Yao Chan memandang takjub wujud lain Dewa Naga yang baru ia lihat saat ini.
“Terimakasih Raja Peri, Aku kesini ingin menemui anak manusia ini, Ia adalah manusia pilihan Dewa Tertinggi. Bantulah Ia menciptakan Perdamaian di Dunia Moxian ini.”
Setelah melihat Raja Peri Xian Bun menganggukan kepalanya, Dewa Naga mengalihkan pandangannya ke arah Yao Chan.
“Anak Manusia, kau pastinya telah mengetahui apa yang akan terjadi satu tahun lagi di Dunia ini. Makhluk keji itu hanya bisa ditaklukan oleh Senjata Dewa Tertinggi, Tombak Ini bernama Tombak Pemusnah Roh.”
Di tangan Dewa Naga tiba-tiba saja muncul sebuah tombak dengan mata tombak berwarna kuning keemasan. Gagang tombak sepanjang dua meter itu, terlihat pendek saat berada ditangan Dewa Naga.
Setelah itu Dewa Naga memunculkan sosok Srigala Angin dalam wujud kecil yang setinggi satu meter. Serigala berbulu putih itu segera mendekati Yao Chan lalu bersimpuh disampingnya.
Belum Sempat Yao Chan, mengungkapkan pertanyaannya mengapa seekor Serigala harus mengikuti dirinya, Dewa Naga telah berkata lagi.
“Serigala Angin adalah Hewan Roh terkuat di jagad ini, aku pun tidak mudah untuk mengalahkannya. Ia akan membantumu menguasai jurus-jurus Tombak Pemusnah Roh dan mengajari mu cara menyegel Roh makhluk hidup.”
Dewa Naga pun menjelaskan lebih lanjut bahwa wujud Serigala Angin yang terlihat sekarang adalah Wujud Kecilnya. Ia bisa mengubah wujudnya seratus kali lebih besar dari wujud yang terlihat sekarang ini.
Dewa Naga juga meminta Yao Chan untuk terus berlatih dan meningkatkan kekuatannya hingga berada ditingkat Pendekar Dewa Level sepuluh seperti kekuatan yang dimiliki olehnya saat ini.
Yao Chan dan semua yang hadir terkejut saat Dewa Naga menjelaskan bahwa untuk dapat mengalahkan dan menyegel Mahkluk Roh Keji itu, setidaknya Yao Chan harus memilki kekuatan Pendekar Dewa Level Enam.
Dewa Naga menjelaskan lebih lanjut jika Roh Keji yang bernama Shen Mo itu sebenarnya adalah Iblis generasi kedua yang menjadi Dewa bagi Bangsa Iblis.
Shan Mo adalah satu-satunya Bangsa Iblis yang mampu mencapai Tingkat Pendekar Dewa Level Lima.
Selain itu Dewa Naga juga meminta kembali Trisula Naga Emas dari Zhu Yin. Karena dengan kekuatan yang Zhu Yin miliki saat ini, keberadaan Roh Naga Emas tidak lagi diperlukan.
Dewa Naga pun meninggalkan Aula Istana Peri setelah merasa tidak ada lagi yang akan ia sampaikan. Tubuhnya pun kembali bersinar terang dan menghilang dari pandangan seiring sirnanya cahay terang itu.
*****