
Pandangan Yao Chan menjadi gelap bukan karena ia pingsan, ia memejamkan mata menahan rasa marahnya kepada Xian Mey.
"Apakah seperti ini jalannya takdirku sehingga bisa memiliki empat orang istri? Heh ... Sungguh takdir itu bekerja dengan cara yang yang tak terduga dan tidak bisa dielakkan oleh manusia."
Yao Chan menghela nafas untuk pasrah dan menerima jalannya takdir di kehidupannya yang ke dua ini.
Ia pun membuka matanya, namun melihat Zhu Yin terduduk dengan mata yang berair, hatinya tiba-tiba terenyuh. Ada rasa haru menghangat dalam hatinya melihat gadis yang akan menjadi istri pertamanya itu menangis.
Walau tidak sepenuhnya mengerti apa sebab Zhu Yin menangis, namun Yao Chan menduga hal itu karena mendengar ucapan Xian Mey yang memintanya untuk menikah saat mereka tiba di Dunia Moxian.
"Jangan menangis, tangisanmu membuat hatiku dilanda badai yang tak bisa aku atasi sekalipun dengan seluruh tenaga dalam ku."
Yao Chan segera meraih tangan Zhu Yin dan membuat gadis itu berdiri dengan hati yang tiba-tiba berdegup kencang mendengar perkataan Yao Chan tersebut.
Belum sempat Zhu Yin memastikan apa yang dikatakan oleh Yao Chan, pemuda tampan yang ia sukai sejak pertama kali mereka bertemu itu kembali berkata yang membuat dirinya ingin memeluk tubuh tegapnya itu.
"Belajarlah menata hatimu, karena aku akan memiliki empat wanita sebagai istriku. Dan kau adalah yang pertama."
Yao Chan tersedak ludahnya sendiri, ia tak mengerti bagaimana ia bisa berkata seromantis itu pada Zhu Yin.
Saat berbalik Yao Zhan menyadari tatapan membunuh dari Xian Mey kepadanya. Ia pun menggaruk kepalanya, menyadari jika ia lupa memberikan jawaban yang diminta oleh Xian Mey.
"Bagaimana apa kau mau menerima syarat kedua dariku, jika tidak maka kau tidak akan bisa meningkatkan kekuatanmu menjadi seperti dulu lagi."
Xian Mey berkata dengan suara yang dipenuhi kemarahan, entah merasa diabaikan atau merasa cemburu, namun dalam hatinya ia menyadari adanya rasa suka yang liar kepada sosok Yao Chan saat ini.
"Aku bisa menerima syarat keduamu, dengan satu syarat, bahwa kau akan menjadi perempuan ke tiga yang aku nikahi. Bagaimana apa kau setuju?"
Yao Chan tersenyum tipis, ia menemukan cara agar tidak selalu di tuntut untuk menikahi gadis tersebut di setiap waktu kebersamaan mereka nanti. Karena ia ingin menyelesaikan tugas-tugasnya terlebih dahulu, baru ia akan menikmati hidup bersama keempat isterinya tersebut.
Zhu Yin terdiam mendengar perkataan Yao Chan, ia tak tahu harus merasa sedih atau gembira dengan kata-kata Yao Chan tersebut.
Sementara Qing Mi telah menangis dalam kesadarannya sendiri. Entah mengapa ia merasakan sakit dihatinya ketika melihat Zhu Yin dan Xian Mey berbicara menikah dengan Yao Chan.
Namun Qing Mi tidak menyalahkan dirinya, hanya saja ia sedikit kesal dengan sang Kakek yang selalu berbicara mengenai keinginannya menjodohkan dirinya dengan Yao Chan.
Karena seringnya ia mendengar tentang Yao Chan, tanpa ia sadari ada benih suka yang tumbuh dan semakin membesar saat ia bertemu dan berpetualang dengan pemuda tersebut.
Xian Mey yang mengetahui isi pikiran Qing Mi, mendengus kesal. Entah kepada Yao Chan atau kepada Qing Mi, yang pasti ia harus menerima penawaran Yao Chan yang sepertinya tidak akan bisa ia ubah lagi.
Disisi lain ia pun tidak ingin membuat Qing Mi sakit hati. Ia telah menerima kebaikan hati gadis tersebut dengan membiarkannya bersemayam dalam tubuhnya.
"Baik aku terima syarat darimu itu, asalkan gadis ini adalah istri kedua mu."
Yao Chan tersedak ludahnya sendiri mendengar perkataan Xian Mey.
"Syarat bersyarat ini sudah sampai pada tahap cucu, jika aku mengajukan syarat lagi, akan lahir syarat ditingkat Cicit. Ah ... Dasar wanita ... Memang susah di mengerti pikiriannya."
Yao Chan mengumpat di dalam benaknya sendiri karena mendapati dirinya berada dalam situasi yang tak pernah ia duga akan ia alami.
Xian Mey tersenyum puas, ia pun segera mendekati Yao Chan. lalu menyuruh Yao Chan membuka jubahnya.
Yao Chan mengerutkan dahinya mendengar perintah Xian Mey. Sebelum ia bertanya apa tujuan dari perintahnya itu, Xian Mey terlah berkata-kata terlebih dahulu.
"Titik Syaraf Kekuatan seorang manusia berada pada pusarnya. Dan untuk membuka segel gaib tersebut, Tongkat Sakti Giok Merah ini harus bersentuhan dengan kulit mu, terutama kulit pada bagian pusar."
Yao Chan terdiam mendengar perkataan Xian Mey yang terdengar sangat logis. Ia pun membuka jubahnya dan mempertontonkan tubuh tegapnya yang membuat dua pasang gadis itu melotot.
Yao Chan diam saja melihat hal itu, entah apa yang ada dipikiran kedua gadis itu, dan ia pun tak ingin mengetahuinya.
Xian Mey segera membaca mantera lalu menggigit kembali ujung jari tangannya. Setelah itu ia pun meneteskan kembali darah birunya ke Tongkat Sakti Giok Merah.
Beberapa saat kemudian Tongkat itu pun memendarkan cahaya merah kebiruan yang jauh lebih terang dan lebih kuat dari sebelumnya.
Bukan lagi aura hangat yang Yao Chan rasakan, melainkan rasa panas luar biasa yang seolah membakar pusarnya saat Xian Mey menyentuhkan ujung Tongkat Sakti Giok Merah dengan pusar Yao Chan.
Tubuh Yao Chan menggigil hebat menahan rasa panas dan sakit yang melanda sekujur syaraf tubuhnya.
Keringat pun membanjiri tubuh Yao Chan seiring tubuhnya uang semakin menggigil hebat.
"Bertahanlah, jangan alirkan tenaga dalam atau qi mu, sebentar lagi prosesnya selesai!"
Xian Mey berteriak mengingatkan Yao Chan yang terlihat sudah tak tahan lagi dengan proses pembukaan segel itu.
Kini tubuh Yao Chan bukan hanya mengeluarkan keringat saja, asap putih mulai terlihat merembes dari sekujur tubuhnya, terutama pada bagian atas kepala.
Yao Chan bertahan sekuat mungkin untuk tetap terjaga, rahangnya terlihat menggembung dan giginya bergemeretak dengan kuat.
Pada saat puncaknya terdengar suara letupan kecil dari arah pusar Yao Chan yang membuatnya tak lagi bisa menahan rasa sakit.
Aaaaaarrrrrgggghhhh
Yao Chan menjerit sekuat tenaga sebelum akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri karena tak kuasa menahan rasa sakit tersebut.
"Chan Gege ..."
Zhu Yin yang sedari tadi sudah ingin menangis melihat penderitaan sang kekasih, berteriak dan segera memeluk Yao Chan yang jatuh tertelungkup. Air mata Zhu Yin mengalir membasahi pipinya.
Sementara Xian Mey terdiam.dengan pikiran yang dipenuhi kekalutan. Proses pembukaan segel ini seharusnya tidak menyakitkan seperti yang ia lihat barusan.
Xian Mey tersentak kaget dan tersurut dua langkah ke belakang saat berhasil mengingat sesuatu dalam proses tersebut.
"Ah ... kenapa aku terlupa akan hal itu?"
Wajah Xian Mey menunjukan rasa panik yang belum.oernah ia perlihatkan sebelumnya.
******