Pendekar Tiga Dunia

Pendekar Tiga Dunia
049: Jendral Ma Yun


"Ada apa Tetua Ma?" Tanya Guo Jin dengan sedikit rasa heran, karena jarang sekali Tetua Ma Hua terlihat sepanik saat ini.


"Ketua, aku baru saja mendapat laporan dari merpati pos yang datang. bahwa ada pergerakan ribuan orang dari arah selatan, mereka terlihat berseragam Sekte Lembah Iblis dan arah mereka menuju kota Xinan."


Setelah terdiam sesaat tetua Ma Hua melanjutkan penjelasannya. Rombongan besar tersebut mungkin akan tiba di Kota Xinan malam nanti atau besok pagi. Setelah sampai, dipastikan mereka akan menyerang Kota Xinan dan berusaha menaklukannya.


Guo Jin mengerutkan dahinya, dirinya tak menyangka jika situasi berkembang jauh lebih besar dari perkiraannya.


Jika kelompok tersebut berhasil memasuki kota Xinan, dapat dipastikan akan terjadi korban jiwa dari kalangan penduduk dalam jumlah yang tidak sedikit.


"Baiklah mari kita bicarakan hal ini dengan walikota Fu Zianhe. Oh iya apakah Tetua Yu Ma telah tiba di sini?" Tanya Guo Jin seraya bangkit dari duduknya yang segera diikuti Yao Chan dan Zhu Yin.


"Belum Ketua, mungkin mereka sedang beristirahat sembari menyantap hidangan di Rumah Makan Lao Qin, karena Tetua Yu Ma bersahabat dengan pemilik rumah makan tersebut." Tetua Ma Hua mengutarakan dugaannya.


"Baiklah jika begitu, kita tunggu saja mereka datang." Jawab Guo Jin dan lalu bergegas meninggalkan ruangan Zhu Yin bersama mereka semua.


Guo Jin dan yang lainnya bergegas menuju ke ruang Walikota Fu Zianhe. Walikota Xinan tersebut tampak sedang duduk tercenung seolah sedang memikirkan sebuah persoalan yang berat. Sementara beberapa komandan prajurit terlihat duduk di hadapan tak jauh dari hadapannya.


Kedatangan Guo Jin membuat mereka semua segera berdiri dan memberi hormat padanya. Setelah mempersilakan mereka semua duduk, Guo Jin pun menyampaikan situasi kota Xinan beberapa waktu ke depan jika kedatangan ribuan orang dari Lembah Iblis Neraka kepada Walikota dan para komandannya.


Kabar tersebut membuat Walikota Fu Zianhe dan beberapa komandannya memucat. Berita yang baru mereka dengar jauh lebih menakutkan dari berita sebelumnya.


Beberapa saat sebelum kedatangan Guo Jin dan yang lainnya, Walikota Fu Zianhe baru saja mendapat berita dari seorang komandannya. Bahwa dari arah Timur laut kota Xinan terlihat sekelompok orang yang membawa senjata sedang bergerak kearah kota Xinan.


Belum diketahui mereka dari kelompok mana, karena mereka tidak menggunakan seragam ataupun atribut lain yang menunjukan suatu kelompok tertentu.


Guo Jin terkejut saat mendengar hal itu dari Walikota Zianhe.


"Jadi begitu rupanya, Tetua Ma, bagaimana menurutmu?"


"Jika mereka tidak mengenakan seragam tertentu, bisa jadi mereka sekelompok perampok atau ... apa mungkin itu mereka?" Tetua Ma Hua terdiam. Dirinya baru teringat bahwa sebulan yang lalu mendapat sepucuk surat dari Tetua Feng Hu.


"Mereka itu siapa Kek" Tanya Yao Chan penasaran karena Tetua Ma Hua terdiam dan tidak meneruskan kalimatnya.


Tetua Ma Hua menghela nafas panjang sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya.


"Sebulan yang lalu, aku menerima Surat dari Tetua Feng Hu, bahwa mereka telah memutuskan untuk kembali ke Lembah Dewa. Namun sejauh ini aku tak yakin apakah itu mereka atau bukan." Tetua Ma Hua menjelaskan tentang surat yang diterimanya.


Guo Jin menghela nafas panjang, berharap bahwa rombongan yang diceritakan oleh Walikota Fu Zianhe adalah rombongan murid Sekte Lembah Dewa yang akan kembali untuk membangun sekte.


"Sejauh ini, yang bisa kita lakukan hanya berharap bahwa mereka adalah murid sekte Lembah Dewa karena jika bukan situasi ini akan menjadi lebih buruk."


Semua mengangguk setuju dengan apa yang di ucapkan oleh Guo Jin. Walikota Fu Zianhe pun sedikit bernafas lega, lalu memerintahkan beberapa pelayannya untuk menyiapkan hidangan karena hari telah siang dan beranjak sore.


Sesaat kemudian Yu Lian datang dan disusul oleh dua tetua yang tertinggal. Mereka pun menyantap makan siang dengan cepat.


Jendral Ma Yun yang tak lain adalah Tetua Yu Ma terkejut saat memasuki ruang walikota. Matanya menatap kearah Guo Jin dengan penuh keharuan.


Tetua Yu Ma segera menjatuhkan lututnya bersama lima orang prajurit lainnya. Mereka adalah para tetua sekte Lembah Dewa yang mengikuti jejak Tetua Yu Ma menjadi prajurit di kekaisaran Wu.


Walikota Fu Zianhe dan beberapa komandan pasukan kita Xinan, terkejut saat melihat Jendral Ma Yun berlutut dihadapan Guo Jin. Jendral Ma Yun adalah Jendral yang sangat dihormati dan disegani oleh lawan maupun kawan.


Melihat sang Jendral berlutut dihadapan Guo Jin, tubuh mereka merinding. Tak menyangka jika pengaruh Guo Jin begitu kuat hingga seorang Jendral besar seperti Jendral Ma Yun menekuk lututnya di hadapan Guo Jin.


"Hormat kepada Guru...Hormat kepada Ayah mertua, maafkan murid yang tak mengetahui kedatangan guru dari Alam Kultiva" Ucap Jendral Ma Yun atau Tetua Yu Ma.


Yu Lian terkejut saat menyadari bahwa lelaki yang mengenakan baju zirah tersebut adalah Ayahnya yang selama ini dirindukannya. Segera saja Yu Lian menghambur kearah Tetua Yu Ma.


"Ayah...!"


"Lian'er!"


Tetua Yu Ma terkejut saat seorang gadis yang memiliki kecantikan bak Dewi, memanggilnya dirinya Ayah. Tak butuh waktu lama baginya untuk mengenali putri semata wayangnya yang mewarisi kecantikan sang ibu.


Keduanya berpelukan dan terdengar suara Tangis Yu Lian. Bagi Yu Lian yang telah berpisah selama dua puluh tahun dengan sang Ayah, tentulah sangat gembira ketika mereka bertemu.


Yu Ma sendiri tak mampu menahan air yang menetes di matanya. Setelah hampir sepuluh tahun merindukan putri satu-satunya itu.


Keharuan tersebut membuat suasana menjadi hening. Yao Chan pun terdiam karena pikirannya melayang mengenang sang Ayah.


Tak terasa olehnya, matanya pun menjadi berkaca-kaca. Kesedihan dan kerinduan terhadap sang Ayah membaur menjadi satu rasa yang tak dapat ia ungkap dengan kata-kata.


"Paman..."


Suara Yao Chan tercekat, saat menyapa Tetua Yu Ma dan hendak menanyakan perihal ibunya. Tetua Yu Ma melepaskan pelukannya dan menatap Yao Chan dengan dahi berkerut. Namun tak lama kemudian dirinya tersenyum dan menghampiri Yao Chan. Hal Ini karena Tetua Yu Ma seolah melihat saudara seperguruannya, Yao Zhi hidup kembali.


"Chan'er... Kau sudah dewasa nak, Saudara Zhi pasti bangga memiliki anak segagah dan setampan dirimu." Tetua Yu Ma segera meraih bahu Yao Chan kedalam pelukannya.


Yao Chan yang merasakan kedamaian saat dalam pelukan Tetua Yu Ma, tak dapat menahan laju airmatanya yang akhirnya jatuh.


"Paman..bagaimana kabar ibu ku, apakah paman mengetahuinya?"


Pertanyaan Yao Chan membuat Tetua Yu Ma terhenyak beberapa saat. Walau dirinya sudah menduga akan ditanya demikian oleh Yao Chan, namun dirinya belum benar benar siap untuk mengatakan hal yang sesungguhnya tentang ibu Yao Chan, Lin Hua.


...****...


Jangan Lupa Like dan kritikannya ya.


Terimakasih.