
Aku mencari tempat untuk menangis, mencoba menerima kenyataan bahwa dia memang sangat khawatir pada Bella. Kurasa bagaimanapun hatinya sudah memilih.
Kubiarkan saja dia dengan Bella sekarang. Aku tak kau menggangunya. Kupikir agar dia lebih tahu perasaannya dengan jelas.
Mungkin akan lebih baik begini.
Aku melihatnya menunggu di saat operasi Bella di ruang tunggu dengan khawatir. Dia bicara dan menenangkan Bella sebelum operasi dengan baik hati.
Aku akan kehilangan sebenarnya Andrew itu pacar yang sangat baik. Aku sudah tahu aku harus merelakannya kurasa. Biarpun dia berusaha melupakannya belakangan ini, tapi mungkin aku menyadari ada saat dia memikirkan yang lain, dan saat seperti ini nyata-nyata pikirannya tertuju ke Bella.
"Tidak apa, dia akan baik-baik saja." Andrew melihatku saat aku duduk disampingnya. Aku menyemangatinya untuk menunggui Bella.
"Jen, ... apa operasinya lama?" Dia berkali-kali melihat jam.
"Tidak, biasanya ini dibawah dua jam, mungkin satu setengah, bukan jenis operasi yang rumit. Jika tak ada komplikasi akan cepat selesai. Tapi jika tidak dioperasi jelas ini kondisi yang mengancam nyawa. Ini sudah berapa lama?"
"Kurasa sejam lebih sedikit."
"Bersabarlah, tak akan lama lagi. Tapi pemulihannya lama, bisa empat sampai enam minggu. Dia harus makan halus selama itu. Kau harus memperhatikan apa makanannya. Tapi dia ada di faselitas kesehatan, kami tentu saja akan bantu mengawasinya. Kau tak usah khawatir dia akan baik-baik saja.
Andrew memperhatikanku.
"Kau tak marah aku di sini." Aku tersenyum dan menghela napas panjang. Bagaimana aku tak sedih, tapi apa boleh buat. Aku melihat sendiri bagaimana dia khawatir dengan Bella.
"Aku juga sudah pernah melewati menunggu seperti ini. Aku tahu perasaanmu. Aku menangis kehilangan Fred berbulan-bulan. Jika dia muncul di depanku mungkin aku akan mengambil keputusan yang sama aku sudah bilang itu padamu." Dia diam sekarang. Kami sama-sama diam.
"Aku tahu kau tak bermaksud membuatku sedih. Kau pacar yang baik. Tapi sekali lagi har£ yang memilih. Sudahlah Andrew, kau harus menungguinya. Bantulah dia cepat pulih dulu. Aku masih ada pekerjaan ku tinggalkan kau oke. Dia akan baik-baik saja." Aku menepuk bahunya dan berjalan pergi meninggalkannya, membawa hatiku pergi darinya.
Malam ini aku akan menangis mungkin, tapi semalam saja. Keesokan harinya aku akan baik-baik saja, aku akan sedikit merindukan pelukannya, tapi kabar baiknya adalah aku mendapatkan tidur tenangku ĺagi di kamarku sendiri tiap malam.
Itu cukup menyenangkan.
\=\=\=\=\=\=\=
Aku mencoba tidak memikirkan Andrew lagi keesokan harinya setelah puas menangis malam harinya. Kupikir bagaimana kalau aku mengambil hari liburku dan naik ke atas. Akan menyenangkan dari pada harus melihat keakraban mereka beberapa hari ini.
"Matamu bengkak lagi." James yang sekarang menyapaku.
"Ya, sedikit aku bukan batu yang tak punya perasaan." Bahkan aku mencoba tertawa. Dia pasti tahu kenapa aku menangis, sekarang dia tahu intuisiku itu benar.
"Hmm...kau nampaknya bisa menerimanya."
"Iya lumayan, aku sudah mempersiap patah hatiku sejak sebulan yang lalu kurasa, tak ada kejutan lagi."
"Ini untukmu." Dia memberikan blueberry dan strawberry yang dibungkus dengan kain. Mataku membulat menerimanya.
"Penggemarku memberikan ini karena sudah merawatnya, ini panen pertama.