BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 25. Flower Bouquets 3


"Iya dia meninggalkanku ke surga."


"Aku minta maaf mengingatkanmu."


"Hmm...itu sudah berlalu. Tak perlu minta maaf." Aku menghilangkan bayangan Markus. Tak ada yang bisa kulakukan untuk itu. "Katakan padaku. Dimana kita pernah bertemu."


"Sudah lama sebenarnya, pantas kau tidak ingat. Aku juga tidak mengatakan namaku saat itu. Aku tak akan mengatakan detailnya. Detailnya saat kau menerima undangan makan siangku saja." Dia kembali menyorongkan undangan makan siangnya.


"Aku saja tidak bisa mengingatnya, kurasa kau berbohong kita pernah bertemu." Aku masih merasa dia berbohong tentu saja.


"Aku tak berbohong, aku bisa bersumpah demi apapun, aku sangat menghargai pertemuan kita, jika tidak kenapa aku mengusahakan minta maaf padamu seperti ini."



Aku penasaran dimana kami bertemu. Tapi gengsiku untuk menerima permintaan maafnya masih terlalu besar. Aku diam saja menimbang perkataannya saat seorang wanita bergabung dengan kami.


"Tuan Alexsey, rupanya kau mengenal Nona Dugard."


"Ahh Carrie, iya aku mengenalnya. Apa kabar Anda?" Dia mengenal Carrie yang cantik ini, anak seorang pensiunan perdana menteri.


"Baik seperti yang kau lihat. Ohh ya aku kesini untuk mengundangmu ke acara kami lusa, acara anak muda partai, Monica kau mau ikut? Andrew juga akan ikut." Andrew adalah anak Paman Davis, keluarga kami dekat, termasuk juga dengan Andrew, aku menyukai Andrew, tapi nampaknya selama ini Andrew terpesona dengan kakakku. Aku bisa melihatnya, tapi sekarang Kakak bersama Gilbert. Dan mereka saling mencintai, Andrew tak akan punya kesempatan.


"Andrew ikut? Hmm...baiklah, aku ikut kurasa."


"Alex, kau ikut bukan?"


"Ya, aku ikut." Dia melihatku lalu mengatakan persetujuannya.


"Sempurna, senang melihat kalian ikut semua. Kita bertemu di Diamond Star jam 9 okay." Carrie memberi tahu tempat acara pada kami dan dia pergi karena harus mengundang beberapa yang lain.


"Kau mau dijemput?" Dia pikir ini semacam pesta dansa sehingga aku mau dijemput, jikapun iya dia jelas bukan pasangan dansaku.


"No." Jelas aku memberikannya dua huruf itu.


"Aku hanya mencoba, aku tahu jawabannya tidak." Dia tertawa seakan jawabanku itu yang diharapkannya. Dia menatapku, aku terbiasa dengan tatapan mengagumi tapi entah kenapa kali ini dia membuatku gugup.


"Kenapa kau menatapku begitu."


"Kau memang harus berhenti bicara." Aku merasa kata-katanya lucu sekarang.


"Baiklah, setidaknya maafkan aku dan jadilah temanku."


"Teman, jebakan macam apa itu?" Aku meringis, tetap menganggapnya hanya menjadikanku calon buruannya, setelah dia bosan mungkin dia akan beralih ke calon buruan lainnya. Sesederhana itu bagi seorang Alexsey Mashkov.


"Teman itu hanya percaya satu sama lain. Aku tak akan berusaha merayumu. Bunga-bunga yang kukirim adalah untuk meminta maaf padamu, apakah ada satu katapun di kartu itu yang merupakan kalimat rayuan untukmu."


"Yang jelas aku tak percaya padamu."


"Iya aku tahu." Dia tampak tak perduli apa aku percaya padanya atau tidak yang penting dia tetap berusaha bukankah begitu.


Kau kenal baik dengan Andrew Davies? Tadi kau setuju ikut karena ada Andrew?


"Dia teman keluarga. Iya kami sudah lama saling mengenal."


"Aku juga mengenal Andrew, dia orang yang ramah. Selain Tuan Bassette yang kukenal pertama kali. Dia juga yang pertama dikenalkan kemudian."


"Dia dan Paman Bassette rekan kerja tentu saja. Kau anak muda yang bergabung, lebih mudah bicara yang seumur."


Aku merasa sudah cukup bicara dengannya. Jika tidak dia akan merasa besar kepala aku senang bicara padanya.


"Kalau begitu aku harus menemui teman-teman yang lain."


"Aku bisa menemanimu berkeliling."


"Tidak usah." Kupotong dia dengan cepat.


"Ya baiklah. Sampai jumpa lusa jika begitu." Dia tahu diri juga tidak memaksa.


"Baiklah, sampai jumpa lusa."


Aku nampaknya akan sering melihatnya sekarang.