
"Entahlah, jika kupikir setiap tahun aku kembali aku tak melakukan apapun untuk membuatnya marah. Baru tahun ini aku mencari masalah. Mungkin ini bukan soal Ibuku tapi dia membela anaknya." Seorang Ibu rela melakukan apapun untuk menaruh anaknya di posisi tinggi.
"Kalau begitu, jangan kejar menjadi pemilik CSL GROUP Moscow lagi, tinggallah bersamaku di sini. Kita bisa punya kehidupan yang tenang jauh dari perselisihan di sini. Lupakan semuanya..." Aku menghela napas panjang.
Kata-kata Svetluny tidak bisa kuterima, aku selama ini bekerja keras demi diakui, tak pernah lupa bagaimana satu pagi di musim panas itu aku harus meninggalkan Moskow dan terdampar di tempat asing.
"Tidak bisa, semua yang kulakukan selama hidupku adalah untuk kembali dan membalikkan keadaan ini. Kau tak tahu rasanya diasingkan." Aku tak akan mengalah lagi.
"Kau baik-baik saja sekarang bukan. Jadi lupakan saja Moskow dan hidup tenanglah bersamaku disini. Kau tak akan terluka lagi. Tak akan ada yang menganggu kita lagi." Dia tak akan mengerti karena tak mengaĺaminya sendiri.
"Sayang, aku tak mengambil atau menganggu siapapun, aku hanya menunjukkan diriku lebih pantas dari mereka yang sudah mengusirku. Aku tidak akan kalah dari mereka. Kau pikir aku sengaja mencari masalah, aku hanya mengambil posisi yang pantas untukku, dan itu hasil dari kerja keras bukan kecurangan."
"Kau sudah punya segalanya, buat apa menunjuk..." Kuhentikan perkataannya dengan menaruh telunjukku di bibirnya." Dia diam, tapi kemudian dia melanjutkan. "Kau sudah berjanji kita tidak akan tinggal di Moskow?" Dia mengingatkanku lagi.
"Moskow masih jauh, mungkin empat atau lima tahun lagi. Banyak hal yang terjadi dalam lima tahun." Yang terpenting bagiku sekarang adalah mengembalikan uang yang kuhilangkan di US.
"Apa maksudmu banyak yang akan terjadi dalam lima tahun?" Aku diam dengan pertanyaan Svetluny. Maksudku jelas, dia tak ingin pergi karena menemani Ibunya, lima atau enam tahun lagu mungkin sesuatu terjadi, bagaimanapun Ibunya sudah berusia lanjut. Mungkin setelah itu kami bisa berkompromi.
"Jadi kau tetap ingin kita tinggal di Moskow?" Dia langsung bertanya. Ini pertanyaan yang harus dihindari saat ini. Aku tak mungkin mengatakan hal yang ada dalam pikiranku.
"Aku tak berkata begitu, mungkin aku akan bisa memindahkan kantor pusat ke sini atau US, makanya aku bilang banyak yang akan terjadi." Dia menatapku dengan mata terkunci padaku. Saat ini aku merasa jawaban itu pasti tak memuaskannya, tapi setelah bertahun-tahun mungkin dia akan berubah pikiran.
"Aku tak mau pindah ke Moskow, itu tempat yang sangat asing, tapi untuk berkunjung tentu saja aku tak keberatan. Kau janji padaku kita tak akan pindah ke sana."
"Baiklah, ini masih jauh. Kita bicarakan hal ini nanti oke. Jika aku menjadi kepala CSL Moskow kau harus berkunjung tentu saja, tak mungkin aku tak memperlihatkan istriku yang cantik." Aku memeluk pinggangnya dan mencium pipinya dengan gemas. Mencoba mengalihkan pertanyaannya dengan memujinya.
"Aku belum jadi istrimu." Dia mendorong dadaku.
"Kau akan jadi istriku, aku tak akan pernah melepaskanmu. Aku mencintaimu, berapa kali harus kukatakan itu. Jangan pergi kemanapun."
"Aku tak kemana-mana. Kita memang tak kemana-mana."
Dia masih mengejarku dengan kata-kata kami tak akan pindah. Ini masih masalah menganjal. Tapi suatu saat pasti akan diselesaikan.