BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 90. Moskow 5


"Ohh rumah Ayah dan Ibu." Aku pernah kesana dan melihat rumah itu. Didalamnya masih ada beberapa foto dan lukisan Ibu yang di rawat dengan baik. Saat Ayah menikah dengan Margarita rumah itu tidak ditempati lagi karena Margarita menginginkan rumah baru.


Tapi Ayah tidak menjualnya, dia tetap merawat rumah itu. Dan di rumah itu juga aku sebagian pergi melarikan diri jika tak tahan dengan kesinisan Margarita di rumah Ayah.


Pengasuhku tahu aku lebih suka pulang ke rumah lama dan kami biasa kembali ke sini setelah pulang sekolah atau saat Ayah tak ada di Moskow aku lebih baik berada di sana. Jika dia melihatku sendiri dia tak tahan untuk tak menajamkan kukunya padaku, entah dengan menyindirku, atau beragam cara membuatku tak nyaman.


Nampaknya pengasuhku yang baik hati itu melapor ke Ayah, jadi Ayah selalu meninggalkan orang merawat rumah ini. Jika aku kesana juga ada makanan. Jika dipikir-pikir Ayah juga melakukan upaya agar aku bisa bertahan.


Tentu saja kemarahanku meletus karena Ayah menyetujui untuk mengirimku ke Kanada. Itu sebagian besar karena permainan licik Margarita. Dia takut anaknya dibandingkan denganku dalam pencapaian akademik. Bibi juga berusaha menggagalkan rencana itu, dia kalah bicara dengan ular, aku tetap dikirim ke Montreal.


Ayah mungkin berpikir jika aku berada di Kanada, baik aku dan dia sama-sama akan terbebas dari perang dingin, yang tidak dipertimbangkannya adalah aku tetaplah baru berusia 13 tahun, dan merasa dibuang ke tempat terpencil jauh dari rumahku sendiri.


Tapi kemudian walaupun awalnya itu adalah sebuah kutukan, sekarang menjadi sebuah berkah. Aku mendapat manfaat belajar menjadi mandiri.


"Aku akan mengunjungi rumah itu nanti, bertahun-tahun ini aku tidak punya kesempatan memgunjunginya."


"Itu akan bagus. Kalian mungkin bisa melihat apa yang ingin kalian perbaiki jika ingin tinggal di sana. Monica jika kau menyukainya atau ingin merenovasi katakan saja pada Paman. Jika tidak kalian bisa membeli rumah baru tentu saja. Itu rumah yang cukup besar sayang sekali jika tidak ditempati." Perkataan Ayah tidak salah tapi aku melihat Svetluny yang tersenyum datar, dia tak akan melepaskan masalah ini. Aku harus membujuknya melupakan apa yang dia dengar.


"Iya Paman." Svetluny mengiyakan, tapi sebenarnya itu hanya jalan pintas keluar dari perselisihan. Masalah sebenarnya akan timbul ketika kami kembali ke hotel, dia akan mengejarku habis-habisan.


Setelah makan malam berlalu, Sergie nampaknya menghindari berbicara denganku. Dia bergabung dengan Ibunya, tempat teraman untuknya sekarang. Dibawah sayap Ibunya. Dimana keberaniannya beberapa waktu yang lalu yang mengatakan akan menghajarku.


Satu saat dia lepas dari belakang Ibunya dan aku menghampirinya.


"Ada apa denganmu, nampaknya kau kehilangan keberanian untuk bicara." Dia menatapku dengan sorot mata kebencian.


"Apa yang kau inginkan? Mau bertengkar?"


"Siapa yang mengatakan aku takut di mana kau ingin berkelahi?"


Dia menatapku dengan pandangan benci, aku menatapnya dengan tersenyum lebar . Nampaknya gengsinya masih berjalan.


"Itu semangat yang bagus, pergi ke tempat latihan Anthony. Kita lihat apa mulut besarmu sesuai dengan kemampuanmu."


"Aku akan pastikan kau yang kalah."


"Aku tunggu kau di sana."


Svetluny menatapku saat aku kembali ke sampingnya.


"Kau memang suka mencari masalah." Dia pasti memperhatikan kami saling mengancam.


"Jika dia tak dikendalikan sekarang akan sulit untuk mengendalikannya nanti. Itu untuk investasi masa depan sayang."


"Investasi masa depan. Terserah padamu."Dia hanya mengangkat bahu.


Tak perduli dengan caraku yang mungkin sangat salah di depan matanya.


Yang jelas besok bajingan tengik itu akan kalah. Aku sudah mengasah tinjuku. Bersiap memberikannya pukulan yang akan diingatnya seumur hidupnya. Dulu saat kecil dia akan di bela Ibunya, bahkan saat dia mengambil mainanku.


Sekarang aku tidak akan mengalah lagi.