BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 112. My Svetluny is Missing 9


"Alex. Aku serius." Dia akhirnya berguling ke sampingku. Aku segera beranjak pergi dengan segera ke kamar mandi. Mafia Rusia ini terlalu panas. Dengan cepat aku menyalakan shower, membasuh diriku yang terlalu panas. Tiba-tiba pintu kamar mandi dibuka, dia masuk begitu saja.


"Mau kubantu Moon?"


"Kenapa kau tidak bisa menunggu?"


"Apa bedanya?" Dia memelukku dan menjadikan busa sebagai mainannya. Selanjutnya adalah adegan dimana banyak busa terlibat diantara dua orang.


"Alex, kau sengaja bukan." Aku protes ketika dia berlama-lama di kamar mandi denganku dengan busa di tangannya dan nampaknya sesuatu beranjak bangkit lagi. Berapa kali dia bisa melakukannya.


"Kau sedang di masa hukuman karena meninggalkanku selama empat bulan."


"Alex, nyalakan showernya." Aku ingin meloloskan diri darinya. Dia menyalakan shower tapi bukan berarti dia berhenti, saat tubuhnya berada di belakangku aku tahu sesuatu akan terjadi lagi.


"Alex!" Teriakan terganggu ketika dia memposisikan dirinya dengan segera di belakangku.


"Pegangan sayang, ini sudah masuk." Dia tak memberiku waktu bernapas. Aku terguncang lagi dengan dia dibelakangku. Aku hanya bisa menyerah dan berpegangan pada dinding kamar mandi.


Tak lama dia mema*ndikanku seperti anak kecil dan membungkusku dengan handuk, dia bahkan memilihkan gaun tidur.


"Ini bagus Moon." Dia memilih kimo*no pendek hitam, aku merasa seperti boneka di tangannya.


"Aku bisa memilih sendiri baju*ku." Buatnya itu tidak bisa , dia memakaikan aku b*aju yang dia inginkan.


"Ini saja, supaya nanti mudah..."


"Mudah apa?!"


"Membukanya lagi." Dia tersenyum dengan kilatan nakal di matanya.


"Aku membencimu."


"Aku memang sedang menghukummu Moon." Dia tertawa, dengan telaten dia memakaikan gaun tidur itu.


"Aku membencimu!"


"Kau menc*intaiku." Dia tertawa dengan puas karena bisa memakaikan gaun tid*ur pendek itu. Sementara dia hanya memakai b*athrobe.


"Pakai baj*umu!"


"Ini saja, ini bisa langsung dibuka Moon sayang." Mataku berkilat frustrasi melihatnya. Jika aku punya kekuatan akan kuikat dia dengan tali dan kutinggalkan di sini.


"Apa hukuman ini belum selesai?"


"Sayangnya belum." Dia tertawa puas melihatku putus asa. "Tapi kita akan makan malam dulu sayang, untuk mengumpulkan energi, kau mau makan malam apa?"


"Ohh baiklah bagian mana yang mau kau gigit, dagingku agak alot, lebih baik kau mengulumnya." Dia tak kekurangan akal membalasku.


"Dasar mes*um! Aku mau pergi ke rumah Ibu." Aku berusaha meloloskan diri dari pelukannya.


"Kata siapa kau bisa pergi Moon sayang, kau akan semalaman di sini. Hukumanmu belum selesai." Dia benar membalas dendam dan mengerjaiku sampai dia puas malam itu.


Dan aku tak bisa sama sekali membalas apapun padanya. Kecuali menurut dengan apa yang dia inginkan.


"Bagaimana tuntutanku? Kau bersedia meninggalkan Moskow?" Dia bilang aku boleh menuntut ini.


"Aku bersedia tapi tidak sekarang. Bahkan kemenanganku belum diumumkan. Itu saja. Sekarang kita selesaikan dulu soal sebelumnya."


"Soal apa?"


"Kemana kau pergi? Apa rencanamu sebelum aku menangkapmu."


"Aku ke NY, ada pekerjaan. Aku akan menghabiskan waktu berkeliling di runway Eropa, LA dan NY. Dalam dua hari aku akan ke Milan."


"Kau tak akan ke Milan." Dia langsung memotong keinginanku.


"Aku sudah tandatangan kontrak, kau tak bisa menghentikanku pergi."


"Bukankah kau harus mendampingi Albert di sini. Kau sudah pergi lama bukan?" Ini adalah alasanku tak mau pergi ke Moskow, tapi sekarang dia menemukan aku bisa pergi keluar Montreal dalam jangka waktu lama.


"Untuk melupakanmu aku bicara ke Albert aku akan pergi untuk beberapa saat." Dia menatapku dengan tatapan kesal nampaknya.


"Aku sangat terinspirasi dengan tekadmu melupakanku. Kau sudah puas menangis?" Dia mengejekku sambil mendorong keningku.


"Itu karena kau hanya mengantung jawabanmu. Sekarangpun masih!"


"Jika jawapanku mengantung apa kau harus menutup semua saluran komunikasi?!" Aku langsung diam untuk yang satu ini.


"Ini memang kesalahanku. Tapi aku melakukannya karena putus asa tak didengar. Kau mementahkan semua keluhanku, lagipula aku meninggalkan saluran komunikasi. Kau bisa bicara dengan Albert atau Eliza."


"Itu tak dihitung."


"Ya baiklah terserah padamu! Kau bersumpah kita tidak tinggal di Moskow? Kau akan melepas Moskow?! Jika tidak aku akan pergi. Aku tak mau menghabiskan waktu untuk menunggumu."


"Aku akan melepas Moskow, tapi tidak sekarang. Kau mengerti. Aku melepas Moskow dengan caraku." Sekarang dia yang berjanji sendiri.


Dengan caranya sendiri. Jalan di depan nampaknya masih panjang.