BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 67. Just Go Home 1


"Kata dokter untungnya pelurunya berbelok ke atas ke pundak, untungnya tidak melukai jaringan penting, kau si bodoh yang beruntung, tapi kau tetap harus istirahat." Dia tersenyum padaku. Aku melihat senyumnya dengan perasaan campur aduk.


Mengetahui seseorang bersedia memberikan begitu banyak untukmu. Membuat perasaanmu setengah tidak nyaman karena kau tahu kau tidak bisa membayarnya kembali. Serba salah karena kau juga merasa bersalah sudah menaruhnya dalam kondisi ini.


"Aku tak apa ... Ini jam tiga pagi kembalilah ke hotel. Tak ada gunanya kau menungguku di sini." Dia melihat ke jam dan kembali padaku. Aku menggeleng, bagaimana aku bisa pergi dia terluka karena aku.


"Aku bisa tidur di samping, ada bed tambahan jika kau membutuhkan sesuatu." Setidaknya ini yang bisa kulakukan untuknya. "Bagaimana perasaanmu, ada yang sakit?"


"Sakit hati, karena kau diambil yang lain." Dia tertawa sendiri dengan perkataannya, lalu menyesal karena nampaknya hal itu membuatnya merasa sakit di dadanya. Aku tak bisa bicara dan menjawab pernyataannya karena memang aku tak tahu jawabannya.


"Aku hanya bercanda Eliz. Apapun yang terjadi kau tak berhutang apapun padaku. Pergilah tidur. Rasanya kebal tak sakit apapun karena obat. Kau sendiri yang bilang ini berbelok ke lengan. Hanya sedikit terasa jika aku tertawa. " Dia tersenyum padaku, menepuk lenganku lembut. "Ini tak apa tidurlah, terserah jika kau mau di sini. Aku sudah mengantuk lagi, obatnya masih menyuruhku tidur." Dia memejamkan mata, aku melihatnya tertidur begitu saja dengan napas tenang.


Dia bilang aku tak berhutang padanya. Benarkah? Karena aku merasa aku berhutang segalanya sekarang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Paman, Bibi aku benar-benar minta maaf. Ini masalahku sampai Andrew terlibat dan terluka begini."


"Sudah kubilang ini bukan salahmu." Andrew yang sudah bangun saat kedatangan Paman dan Bibi sore itu langsung membantah perkataanku.


"Ini salah yang menembakmu, kau tak usah menyalahkan diri sendiri, benar kata Andrew. Penembakmu sudah ditangkap bukan?"


"Sudah Paman. Polisi sedang memproses keterangan."


Yang ini aku kelu. Binggung bagaimana menjawabnya.


"Mom, jangan paksa Eliza, kami sebelumnya cuma sahabat."


"Kau ini, kau yang salah tidak bisa bersikap selayaknya ke Eliza sehingga dia binggung." Ibunya malah menyalahkan Andrew.


"Ya itu salahku, kau benar Mom."


"Eliza, anak ini memang payah. Lain kali dia akan bersikap lebih baik padamu. Yang dipikirkannya hanya pekerjaan beres, seperti Ayahnya dia payah jika bersikap romantis, kau harus memaafkannya."


"Bibi, aku ..."


"Aku akan bicara pada Ibumu. Kalian berdua ini harusnya tak usah menunggu lagi."


"Mom, ini tak bisa begini, biarkan aku yang mengurus ini."


"Membiarkan kau mengurusnya, tak selesai sampai kapanpun seperti sekarang. Kalian hanya berteman sampai tua." Aku tak bisa membantah karena aku merasa aku baru saja mencelakai anaknya.


Andrew mengaruk kepalanya yang tak gatal, aku diam saja tak tahu apa yang harus kukatakan.


Mereka harus kembali karena ada jadwal Paman yang tidak bisa ditinggalkan. Sementara dokter Paman mengatakan Andrew bisa dirawat di sini. Dan mungkin dalam 4-5 hari dia bisa terbang ke Montreal sendiri.