
"Itu melibatkan keberuntungan mungkin. Atau hanya kesempatan melakukan tugas dengan benar. Jika Anda punya masalah yang dapat saya bantu jangan sungkan membicarakannya dengan saya."
"Keluarga Anda juga pebisnis bukan? Anda satu-satunya yang terjun ke militer mengikuti Ayah Anda."
"Iya. Begitulah."
Di makan siang itu dia gadis yang lebih tua dari Eliza itu tidak bersikap berlebihan. Dia kebanyakan membicarakan bisnis. Sesuatu yang bisa kutanggapi dengan tanpa masalah, tanpa kecendrungan menbicarakan masalah pribadi.
"Terima kasih untuk makan siangnya. Senang bisa mengenal dan menerima bantuan Anda."
"Saya yang harus berterima kasih Nona Williams, Anda investor kami."
"Kalau begitu jika ada masalah mungkin saya akan merepotkan Anda sedikit nanti."
"Sudah tugas saya membantu Anda."
Kami berpisah di makan siang singkat itu. Tanpa ada insiden apapun yang membuatku merasa terganggu.
Tapi kemudian ada telepon masuk dari Ayah.
"Makan malamlah di rumah hari ini."
"Apa ada acara? Tidak ada yang ulang tahun bukan hari ini."
"Laura mau minta maaf padamu." Perkataan Ayah membuatku tertawa.
"Ayah, tadi siang dia baru meneleponku untuk marah-marah, kau pikir dia serius dengan permintaan maafnya. Dia hanya dimarahi Ayahnya. Aku tak akan menghabiskan waktuku dengannya."
"Lihat saja dia mau apa. Paman Robert sendiri yang mengatakan dia akan datang, dia bilang tidak usah menyiapkan makanan untuk mereka. Anggap saja kau makan malam di rumah malam ini, temui saja." Aku menghela napas panjang.
Terpaksa jam tujuh aku sampai di rumah Ayah dan Ibu malam itu. Paman Robert, istrinya dan Laura. Aku malas menghadapi gadis bermuka dua itu, sekarang pasti di depan orang tuanya dan orang tuaku dia berlagak sebagai gadis baik hati. Aku di sini hanya untuk memberi muka kepada Ayah.
Laura tidak banyak bicara, dia ikut dengan patuh di depan orang tuanya. Aku hanya memberi salam ke Ayah dan Ibunya tadi, aku otomatis mengabaikannya begitu saja.
"Kau repot sekali Maria."
"Ini tidak merepotkan sama sekali." Dia beralih padaku. "Gilbert, Bibi sudah lama tidak melihatmu. Bagaimana kabarmu."
"Aku baik, terima kasih Bibi."
"Sayangnya pertemuan kali ini Bibi harus meminta maaf padamu atas kelakuan Laura." Malah Ibunya yang meminta maaf padaku.
"Tidak apa Bibi, aku sudah melupakannya, lagipula itu sudah lama."
"Laura belum kudengar sesuatu darimu?" Ibunya melihat ke Laura, aku memandangnya dengan enggan. Cepatlah minta maaf setelah ini urusan kita selesai.
Dia berjalan mendekatiku dan entah kenapa dia menyentuh tanganku. Aku melihatnya dengan heran sekarang.
"Gilbert, aku minta maaf. Aku tak bermaksud. Dulu aku bergaul dengan orang yang salah. Sekarang aku tahu siapa yang membantuku dan keluargaku akhirnya." Aktingmu bagus sekali heh?!
"Iya tak apa. Santai saja." Aku melepas tangannya yang menempel padaku. Gadis ini sangat menyebalkan.
"Kalian sudah baikan, mungkin lain kali Laura bisa membayarmu dengan lebih pantas dan tulus."
"Maksudnya membayarnya dengan lebih pantas dan tulus?" Alarm bahaya di kepalaku langsung terusik.
"Aku mau mengajakmu makan malam. Yang aku lakukan salah.... Aku harus memintamu makan malam denganku dan membayar semuanya dengan tulus." Dia memegang tanganku tanpa malu-malu tersenyum padaku seolah dia mengharapkanku.
Mataku langsung menyipit, gadis sialan ini sekarang drama apa pagi yang dimainkannya!?