BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 54. Laura Missing 2


"Laura belum kembali?" Esok malamnya Ibu mengatakan berita yang membuatku mengerutkan kening.


"Belum, Ayahnya meminta penyelidikan polisi kemana anaknya pergi. Tapi mereka nampaknya baru memprosesnya sore ini. Kudengar mereka sudah memeriksa CCTV apartment, tapi belum diketahui hasilnya."


"Baiklah. Apa mereka memerlukan bantuan kita."


"Ayahmu sudah menelepon beberapa orang untuk mempercepat prosesnya. Kukira tak akan menyusahkanmu."


Aku masih berpikir dia semacam lari dan memberontak ke Ayahnya yang mungkin pikiran agak keras itu. Mungkin dia lari dengan kekasihnya yang sekarang.


"Apa Ayah dan Paman pernah bicara langsung soal semacam perjodohan."


"Yah mereka pernah menyebutkannya, tapi Ibu sudah berkata ke Ayahmu hal yang seperti itu tidak bisa dipaksakan, apalagi sebenarnya Ibu tahu kau dan Laura tidak akur. Tenang saja tidak ada yang akan memaksamu."


"Baguslah, kurasa juga Laura pergi bersama kekasihnya. Dia tidak akan kemana-mana, aku melihat waktu dia keluar. Dia dan pria itu kenal, mereka mesra satu sama lain, bahkan saat dia keluar dia memakai pakaian pesta. Aku melihatnya saat itu aku masih ada di sana."


"Ohh benarkah. Jika begitu biarkan saja, mereka harus menyelesaikannya sendiri." Kupikir juga begitu.


Aku tak mengurusinya berhari-hari kemudian, tak tahu bagaimana kabar gadis itu.


"Gilbert akhir minggu ini aku bisa ke sana." Eliza memberi berita gembira untukku minggu ini setelah minggu sebelumnya dia tak bisa ke DC. Setelah beberapa saat harus mengurus Laura dan Rachelle yang tak ada hubungannya denganku sama sekali, akhirnya aku bisa bertemu dengan seseorang yang benar-benar berarti.


"Benarkah, aku senang sekali. Kapan kau datang?"


"Jumat malam sore aku sampai."


"Kau langsung ke apartmentku oke, aku mungkin masih ada perkerjaan, tak apa aku tak bisa menjemputmu?"


"Iya tak apa."


Walaupun kami terpisah, dia tahu apa yang terjadi di sini, termasuk soal Laura beberapa hari ini menghilang dan menjadi masalah.


"Laura sudah ditemukan?"


"Kau tak membantunya?"


"Ayahku sudah membantunya, aku sudah menawarkan bantuan jika dia perlu. Sudahlah itu bukan urusanku lagi. Urusanku adalah menyelesaikan pekerjaanku dengan baik dan membuat Kakakmu senang bahwa uangnya dikelola dengan benar." Dia tertawa diujung sana. "Aku tak sabar bertemu denganmu Jumat."


"Kita akan bertemu dua hari lagi jika begitu."


Aku menantikan Jumat malam, berusaha aku dapat menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat hari itu.


Jam 7 aku sudah bisa tiba di lobby apartment dengan makan malam untuk kami. Sudah kulihat Eliza tersenyum padaku. Dia sudah sampai setengah jam yang lalu. Aku sangat berusaha sampai di sini secepatnya.


"Sayang, maafkan aku kau harus menunggu."


"Tidak lama. Kita punya candle light dinner di rumah hari ini nampaknya." Dia tersenyum dan mengandeng lenganku, sementara aku tak sabar untuk menciumnya.


"Ayo keatas. Di lobby ini tidak bebas sama sekali."


"Tidak bebas untuk apa Jenderal."


"Menciummu." Kubisikkan itu di telinganya dan dia terkikik geli. Sementara perjalanan yang tak lama di lift itu rasanya lebih lama dari biasanya.


"Ehm..." Kurengkuh pinggangnya dan kucium dia bahkan sebelum pintunya tertutup. Gumaman tak jelas itu, karena rindu yang menbuncah. "Kau ini tak sabar sekali Jenderal." Kutekan dia ke dinding, menekannya seperti ini terasa seperti pelampiasan yang menyenangkan.


"Bukankah kau juga." Dia terse*ngal karena reaksi tubuh kami. "Sudah lapar sayang, tapi kau lebih membuatku lapar."


"Aku merindukanmu Jenderal, rasanya lama sekali tak melihatmu, kenapa tiga minggu itu rasanya lama sekali." Sekarang dia membalas membuka dasi dan kancing kemejaku. Kami tak bisa menunggu lagi.


Sebelum sebuah intercom dari lantai bawah tiba-tiba menginterupsi.


"Ada apa?" Dengan kesal aku mengangkat intercom itu.


"Sir, seorang Nona bernama Laura mencarimu, dia bilang ini darurat..."