
"Sergie, bagaimana denganmu?" Ayah menunggu jawaban anak yang paling dibanggakan oleh Ibunya ini.
"Aku akan berusaha lebih baik lagi, pencapaian tahun ini akan kujadikan motivasi untuk mencapai lebih baik lagi di masa depan." Sergie jelas bangga dia bisa mengalahkanku dengan pencapaiannya group perusahaan yang dipimpinnya tahun ini. Mungkin baginya itu sudah cukup untuk mengalahkanku.
"Leo, bagaimana denganmu, apa kau siap bersaing dan membuktikan dirimu juga. Kau Ayah beri tugas di Russia, kau punya banyak waktu konsultasi dengan Paman atau Ayah. Kau bisa memanfaatkan keuntungan itu. Atau kau ingin fokus pekerjaanmu yang lain kau bisa bicara di sini."
Menurut Bibi Irina, Leo tak begitu bagus dalam bisnis yang di berikan padanya, dia jadi wakil direktur di perusahaan yang diberikan padanya, tapi semua keputusan tak pernah melibatkannya, diserahkan ke CEO profesional. Dia lebih tertarik dengan bisnis bunga bersama temannya dan galeri seninya. Dia nampaknya punya bakat di sana. Bisnisnya berkembang baik di bidang itu. Karena itu Margarita nampaknya tak terlalu mengharapkan Leo.
"Karena Ayah memberiku kesempatan bicara, ku akan bicara. Aku rasa, aku tak cocok di bidang bisnis retail yang Ayah berikan padaku. Aku lebih suka dengan apa yang kulakukan sekarang di perusahaan dekorasi bunga dan galeri seniku. Aku akan fokus di sana dan mengejar passionku di sana jika ijinkan." Dia punya suara yang jelas, bekerja sesuai dengan passionnya jelas akan lebih bagus hasilnya. Tapi nampaknya Ibunya cukup kecewa dengan perkataannya ini.
"Kau, bagaimana kau..." Ibunya langsung memotong perkataan Leo.
Ayah langsung memotong Margarita.
"Katakan apa yang mau kau katakan Leo, laki-laki harus punya suaranya sendiri. Jadi kau mau melepaskan jabatanmu?"
"Iya, aku sekarang fokus ke bisnisku sendiri. Jabatan yang Ayah berikan padaku sebenarnya tak berguna, aku fokus ke bisnisku sendiri." Leo ini nampaknya tak tertarik dengan gaji dan tunjangan besar yang di dapat dari jabatannya. Dia punya idealisme sendiri.
"Bagus, kau sudah berani bersuara kau mau fokus ke apa yang kau senangi. Ayah harap kau berhasil di bisnis yang kau perjuangkan, semua bisnis intinya sama, kau ingin fokus dimana maka tak perduli besar atau kecil yang penting menghasilkan keuntungan. Ayah lihat kau memang berkembang dalam bidangmu. Kerja yang bagus Leo."
"Kalau begitu ini akan jadi ini akan jadi persaingan antara Alexsey dan Sergie. Kalian fokus ke perusahaan yang di bebankan kepada kalian berdua, Ayah akan melihat hasil pekerjaan kalian bersama Paman dan para Director di perusahaan utama. Di tahun-tahun mendatang kita akan tahu siapa yang terbaik dan pantas memegang pimpinan perusahaan utama diantara kalian."
"Kami mengerti." Kami berdua menjawab berbarengan, aku merasa siap dengan pertaruhan ini. Ini kesempatan buatku membuktikan aku yang terbaik.
Wajah Margarita terlihat tidak senang tentu saja, dia sudah berusaha menjauhkanku seumur hidup dari perusahaan utama. Tapi akhirnya Ayah tetap memberi kesempatan yang sama pada kami. Semua usahanya semua ini bisa dikatakan sia-sia.
Dan dia tidak bisa melawan kata-kata Ayah, karena dia akan dianggap pilih kasih dan menjegalku. Walaupun dia bisa mengirimku ke Canada sampai sekarang, dengan alasan aku bisa menjadi contoh untuk mandiri untuk adik-adikku, hal itu malah menjadi keuntungan bagiku.
Makan malam singkat itu berakhir kemudian.
Kami kembali ke kamar kami masing-masing. Di pertengahan jalan ke kamar Margarita menyusulku.
"Tunggu dulu!" Suara tajam Margarita terdengar olehku. Aku tahu dia sedang ingin menguburku hidup-hidup sekarang. Jadi biarkan saja dia bicara sekarang.
"Kau pikir kau menang bukan?" Aku meringis kecil padanya, apa dia pikir dia bisa mencegahku berlomba untuk mengalahkan anaknya?
"Menang? Menang dari apa? Lomba baru di mulai, sejam pun belum lewat, bagaimana aku bisa dikatakan menang?"