BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 88. She Sick 2


**Ehh sorry namanya salah ya baru liat 😅😅😅🤣


 


Andrew pergi menjengguk Bella, aku tak ingin menganggu mereka dengan kemunculanku. Walaupun aku sangat ingin...pacar mana yang tak cemburu melihat kekasihnya menemui mantan pacarnya.


Tapi sudahlah, dia bahkan minta izin padaku untuk menjengguk mantan pacarnya itu. Apa yang akan terjadi akan terjadi, jika dia bukan milikku maka bukan.


"Kulihat Andrew di ruang perawatan Bella, mereka bicara lama. Kau tak kesana?" Susan yang sekarang mengingatkanku.


"Aku tahu, tak apa. Dia tadi bilang padaku."


"Mantan pacar yang menyusahkan." Aku meringis.


"Kau berlebihan Susan. Biarkan saja dia."


Benar mereka mengobrol lama sekali. Aku tak bisa menahan diri untuk tak melonggok ke kaca ruang perawatan, Andrew terlihat tersenyum pada Bella. Dan Bella memandang Andrew dengan pandangan memuja.


Jangan tanya perasaanku aku merasa di dorong ke pojok hanya dengan melihat mereka mengobrol begitu bahagia. Kenapa mereka berpisah dulunya? Tak mungkin karena pertengkaran, mungkin keadaan yang membuat mereka berpisah padahal mereka masih ingin bersama.


Semua pikiran ada di benakku sehingga aku melamun saja di sore itu. Ketika akhirnya dia kembali aku bersembunyi melihat wajahnya. Dka tersenyum sendiri berjalan keluar. Itu seperti sebuah tanparan bagiku, bahwa Andrew sepertinya sangat bahagia.


"Kenapa kau berpisah dengan Bella." Akhirnya aku tak tahan untuk tidak bertanya padanya di makan malam kami.


"Ohh hanya karena saat itu aku pindah rumah." Ternyata benar mereka di pisahkan karena keadaan bukan karena mereka memang mau berpisah.


"Pasti berat untukmu." Dia tersenyum dengan pernyataanku.


"Itu sudah lama."


"Sudahlah iti sudah lama berlalu, aku sudan bilang padamu." Dia menghindar dari masalah. Hal yang sama begitu dia bertemu dengan Bella dia pasti banyak melamun, seakan banyak memori yang berlalu lalang di kepalanya, sudah belasan tahun tapi dia masih terus mengingatnya.


"Apa kau tak akan menyesal Andrew nampaknya dia cinta sejatimu, setelah hampir 20 tahun kau masih memikirkannya." Dia dia saja sekarang. Tak menjawab.


"Sudahlah itu sudah lama berlalu." Dia menjawab pelan, mungkin meyakinkan diri sendiri yang sudah tak yakin.


"Jangan hidup dalam penyesalan. Itu saja."


Aku membiarkannya berpikir. Tidak memaksanya lagi.


Keesokan harinya aku mendapat kabar bahwa mereka memutuskan untuk melakukan operasi, keadaan belum membaik, karena mungkin ada bagian ususnya yang sudah terperforasi. Aku memberi tahu Andrew bahwa Bella harus di operasi.


"Kenapa menjadi parah?" Dia mendapatkannya James untuk sebuah penjelasan.


"Dia terlambat datang, harusnya dia langsung ke sini waktu datang tak perlu menunggu."


"Apakah berbahaya?"


"Semua operasi ada bahayanya. Tapi dia masih muda, tentu saja faktor resikonya. Jika tidak dioperasi tentu saja akan membahayakan nyawanya. Dia sekarang kesakitan. Itu saja. Kau mau menemuinya, memberikannya perkataan semua akan baik-baik saja. Itu akan lebih baik baginya." James menawarkan. Aku yang mendengarkan di luar ruangan James menunggu jawabannya dengan cemas.


"Iya baiklah. Aku akan bicara padanya." Jantungku teremas begitu saja, Andrew jelas khawatir pada Bella.


"Baiklah operasinya akan berlangsung dalam dua jam lagi, kau bisa bicara dengannya. Meyakinkannya bahwa semua akan baik. Dia akan perlu itu."


James menepuk bahunya dan aku berjalan pergi dari ruangan itu dengan mata berkaca-kaca. Andrew memang sangat perduli dengan gadis itu.