BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 78. I Know You 1


POV Eliza.


Beberapa hari ini sikap Andrew lebih baik padaku. Dia tidak lagi bersikap ketus dan menyuruhku pulang cepat. Setidaknya per hari sudah satu minggu ini aku bolak-balik RS setiap hari.


"Aku datang, ...." Sebuah pemberitahuan kecil atas kedatanganku malam ini. Dia menoleh dan sedikit tersenyum.


"Makanan apa lagi yang kau bawa." Seminggu ini aku berganti-ganti restoran. Membawakannya berbagai makanan karena makanan rumah sakit yang payah, setidaknya ini bisa menjadi hiburan baginya. Beberapa hari ini dia menunggu kejutan untuk makan malam dan sarapan pagi yang kubawa.


"Tebak apa yang kubawa..." Aku datang dengan sebuah kantong karton besar.


"Mungkin makanan Jepang." Dia mengharapkan berbagai macam restoran yang kucoba sekarang.


"Sayang sekali, tak ada restoran Jepang di sini. Walaupun ada restoran Asia."


"Ohh chinese food, itu bagus. Variasi yang bagus." Aku tersenyum dan menaruh kantong yang kubawa ke meja tamu di depannya dan mengeluarkan isinya. Harumnya makanan memenuhi ruangan.


"Baunya enak sekali. Aku kelaparan hanya dari mencium wangi masakan." Dia benar aku dari tadi juga kelaparan karena wangi masakan.


"Tunggu sebentar akan kubawa untukmu." Kubawa ke depannya beberapa box kecil masakan yang mengeluarkan aroma menggiurkan dan nasi yang masih hangat.


"Ini yang terbaik nampaknya." Dia langsung menyambut makanan yang kubawa. "Enak." Dan langsung membuat komentar yang baik setelah mencobanya. "Ayo temani aku makan." Aku duduk di sampingnya dengan kotak makananku sendiri sekarang. Sesaat kami makan tanpa bicara karena memang kelaparan.


"Ini memang enak. Variasi yang menarik." Dia mengangguk menyetujui.


"Dalam dua hari aku sudah boleh kembali."


"Ohh itu berita bagus. Kau ingin aku memesan tiket sekarang?"


"Iya aku sudah bosan di rumah sakit ini. Apa pekerjaanmu sendiri di sini sudah selesai?"


"Jika kau masih ada pekerjaan aku tak apa sendiri. Aku baik-baik saja. Bandara di sini tidak besar, aku bisa berjalan sendiri. Sesampai di sana ada staff yang akan membantu."


"Tidak apa aku akan menemanimu."


"Terima kasih jika begitu." Dia tersenyum.


"Tak usah berterima kasih. Ini sudah seharusnya." Hatiku ikut menghangat dengan rasa terima kasihnya. Seharusnya aku yang lebih banyak mengatakan itu padanya. Belakangan aku bersyukur dia baik-baik saja akhirnya. Aku tak bisa membayangkan jika terjadi sesuatu dan aku harus merasa berhutang hidup padanya.


'Penyesalanku satu-satunya adalah aku melamarmu dengan buruk. Harusnya aku melakukannya lebih baik.' Kata-kata itu sekarang terbayang di hatiku. Bagaimana saat itu aku ketakutan dan tak ingin dia terluka. Aku menangis untuknya saat itu.


"Jangan menangis Eliz, aku tak apa. Aku tak akan ma*ti. Jika matipun aku tak menyesal, ..." Aku memeluknya begitu erat dan tak ingin dia pergi saat itu.


Saat itu aku akan memberikan apapun agar dia tak meninggal. Belakangan aku memikirkan saat itu. Mendapatkan seorang yang bisa berkata seperti itu padamu di saat terakhirnya pasti membuat berpikir panjang.


"Jangan melamun, habiskan makananmu." Dia menegurku yang berhenti makan dan sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku tersenyum dan makan kembali.


"Apa yang akan kau lakukan sesampai di Montreal."


"Bekerja. Aku banyak membatalkan pertemuan penting. Sekertarisku sudah menjadwalkan ulang pertemuan hari ini, hari Rabu aku sudah menerima jadwal pertemuan."


"Kau berlebihan, mana boleh kau langsung bekerja? Setidaknya istirahatlah beberapa hari."


"Dokter tidak melarang. Dia bilang aku hanya harus tahu batasku. Lagipula itu hanya beberapa pertemuan di kantor, apa yang bisa terjadi." Aku melihat padanya dengan sangsi.


"Benarkah dokter berkata begitu. Atau kau mengarangnya sendiri."