BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 44. Suprising Thought 3


Andrew : bukan Andrew yang mantan Jen ya. Mak Lupa ada Andrew yang itu, domisilinya beda hehehe


\=\=\=\=\=\=\=\=


"Andrew, kita tidak... Selama ini kita cuma teman. Aku tak tahu bagaimana menjawabmu..


Andrew menatapku dan membuatku salah tingkah sekarang. Walaupun kami dekat, selama ini kami cuma teman keluarga, tak kusangka dia bisa mengatakan ini padaku.


"Kau tidak mungkin bersama Gillian itu. Pekerjaan dan keluargamu di sini, mana mungkin kau bersama dengannya. Albert membutuhkan banyak bantuanmu. Kau akan membiarkan dia sendiri mengurus semuanya? Dari awal kalian sudah berbagi tugas di keluarga."


Aku diam. Aku tahu itu akan jadi masalah, tapi kupikir seiring perkembangan bisnis kami di US, mungkin ini akan memakan waktu tahunan, Gillian juga harus membuktikan investasi yang kami tanamkan berkembang , jika sudah begitu aku pasti akan diperbolehkan mengganti tugas, aku yang mengepalai tim di US, karena Albert juga percaya pada Gillian. Tapi aku memang belum bicara apapun pada Albert.


Walaupun kemarin Albert juga mengingatkanku bahwa Gillian kemungkinan tidak akan pindah. Apa maksud Albert dia juga tidak ingin aku pindah?


"Itu akan diputuskan nanti." Dia diam melihatku yang membuang pandangan darinya.


"Itu sudah pasti, kalian tidak punya masa depan. kau tahu dalam hatimu kau cuma bersenang-senang dengannya." Tidak begitu aku tak berniat nanya bersenang-senang. Kami punya kesepakatan dan hal yang di capai bersama. Dia hanya orang luar yang tak tahu masalah kami.


"Andrew, ... Kau tiba-tiba membicarakan ini denganku aku tak tahu apa yang kau katakan padamu. Kau membingungkan."



"Iya maaf aku tiba-tiba bicara begini, seharusnya aku memberitahumu lebih awal, tapi selama ini aku selalu baik padamu. Kau pernah bilang kau belum ingin serius dengan siapapun. Dan aku juga menunggu kesempatan, lagi pula Ayahmu baru meninggal, kau dan Albert pasti punya banyak pekerjaan menunggu kalian."


"Aku tak tahu apa yang harus kukatakan padamu. Tapi terima kasih untuk sudah mengusahakan banyak hal untukku Andrew."


"Beri aku kesempatan..." Aku tersenyum padanya.


"Andrew, aku tak tahu bagaimana harus menjawabmu, terus terang."


"Jawablah iya untuk undangan makan malamku Minggu ini." Bagaimana aku bisa mengiyakan hal semacam itu rasanya aku mengkhianati Gilbert.


"Aku tak tahu Andrew, ... Aku harus pergi, aku punya meeting di kantor jam tiga. Oke. Maafkan aku." Serba salah untuk menjawab iya ataupun tidak. Dia diam, tapi kemudian tersenyum.


"Baiklah, tak apa. Mungkin lain kali."


"Aku harus pergi oke. Nanti kita bicara lagi." Aku membuka pintu mobil dan langsung pergi meninggalkan situasi canggung itu.


Ini situasi yang memusingkan. Aku hampir tak tahu bagaimana menghadapinya.


\=\=\=\=\=\=


Monica melihatku termenung sepulang kerja. Beberapa hari ini aku tidak bisa fokus sejak pembicaraan dengan Andrew.


Bagaimana jika yang dikatakannya benar. Aku tak bisa pergi meninggalkan Kanada begitu saja. Apa aku harus meminta pergi.


"Kakak, kenapa kau?"


"Hmm... aku hanya binggung."


"Binggung kenapa?" Dia melihat handphonenya yang berbunyi dan mengerutkan keningnya. "Bangsat menyebalkan ini, mau apa lagi dia. "


"Siapa bangsat menyebalkan."


"Siapa lagi kalau bukan Alexsey." Aku meringis, pria itu rupanya tidak mudah menyerah.


"Kau akan ke Paris? Mereka katanya sudah memulai lagi tahun ini?"


"Iya mereka sudah memulai, aku diundang. Tapi aku melakukannya dengan hanya dibayarkan ongkos transport. Aku mendukung mereka yang baru memulai kembali setelah 3 tahun mereka harus bertahan habis-habisan."


"Kau harus membawa pengawal. Oke."


"Apakah harus."


"Baiklah, terserah padamu. Aku menurut saja. Kenapa kau tadi. Apa yang kau binggungkan?"


"Andrew... mau aku jadi istrinya." Aku masih tak percaya dia mengatakan itu sampai sekarang.


"Andrew, Andrew anak Paman David?"


"Iya."


"Kau serius?!" Aku cerita apa yang terjadi ke Monica. Dia cuma mengangga tak percaya sama denganku. "Andrew? Dia memintamu jadi istrinya dengan tiba-tiba?"


"Iya bisa kau percaya itu."


"Hmm... dia orang yang politis sekali."


"Ya dia bilang cinta bisa diusahakan. Dia bilang aku dan Gilbert tak punya masa depan. Bahwa aku hanya bersenang-senang dengan Jenderal tampan itu."


"Jangan dengarkan dia. Kalian punya masa depan kalian sendiri jika kalian memperjuangkannya. Albert tak akan ikut campur begitu jauh."


"Kau percaya begitu?"


"Kecuali Gilbert gagal dalam investasi yang dikelola sendiri saat ini, mungkin Albert akàn berpikir panjang untuk menyetujuimu. Dia perlu berusaha agar Albert tak punya masalah melepasmu. Bersemangatlah Kakak."


"Sebenarnya aku juga berpikir begitu."


"Ya sudah, serahkan saja padanya. Jangan kau terlalu pikirkan. Mungkin kau bisa sedikit memberitahunya bahwa Andrew juga mengejarmu, laki-laki kalau sadar dia punya saingan yang menunggu mungkin akan lebih terpacu." Aku meringis mendengar kata-kata Monic.


"Ngomomg-ngomong, Mashkov itu masih rajin meneleponmu?"


"Hmm... iya, kemarin dia mengirimkan bunga. Sebenarnya sudah tiga kali, bunga-bunga dengan pesan permintaaan maaf. Sangat berusaha..." Tiga kali itu memang berusaha.


"Dia juga menanyakanmu kemarin saat bertemu Kakak."


"Menurutmu dia benar tak berbohong saat dia bilang dia tak tahu soal kejadian penculikan itu."


"Kurasa benar. Yang bodoh itu Dave Thomas, dia berani menculikmu, apa dia pikir aku tak bisa menggerakkan sumber daya untuk membongkar semuanya. Dia membayar besar untuk meminta maaf demi dia tak kehilangan seluruh bisnisnya di Kanada, karena dia sudah di banned di US. Dave Thomas hanya terlalu malas mencari data survivor. Terakhir dia bersedia membayar subjek penelitian, tapi pemerintah tak mengizinkan lagi. Jadi saat itu dia benar-benar kehilangan banyak uang untuk sesuatu yang sia-sia."


"Hmm..."


"Kenapa kau berniat memaafkannya."


"Dia tetap menyebalkan." Aku tersenyum.


"Bangsat itu memang tampan...Dia sesuai seleramu bukan. Aku tahu tipe-tipe yang kau bilang tampan."


"Aku tidak ingin membicarakannya. Walaupun dia setampan apapun dia tetap mafia Russia. Aku hanya ingin dia menghilang.


"Ya, dia bukan mafia, mafia definisi terlalu jahat. Oligarki itu dekat dengan militer dan pemerintahan. Mafia beroperasi di jalur gelap. Mereka punya bisnis resmi. Walaupun kadang cara yang dilakukannya seperti itu."


"Ya sudah, terima saja teleponnya sekali. Lalu katakan kau memaafkannya. Supaya dia tak penasaran saja. Orang seperti itu kau abaikan dia akan semangkin penasaran."


"Benarkah, kurasa dia tidak akan menyerah dalam waktu dekat jika kau mencoba mengabaikannya. Terserah padamu, itu hanya saran. Sudah berapa lama kau mengabaikannya tiga bulan sejak terakhir kukira."


"Iya. Dan tidak berakhir dengan baik. Dia tetap melakukannya sebagai hobby menyenangkan. Mencoba menelepon dan mengirimkan pesan."


"Dia akan mencoba lagi, percayalah padaku, lebih baik kau bicara baik-baik, berbohong padanya kau sudah punya pacar atau hal semacam itu. Itu akan lebih efektif."


"Hmm...masalahnya aku tak punya pacar Kakak, kurasa aku harus cari pacar di Paris saja. Aku sudah terlanjur terkenal sebagai survivor di sini. Dan yang mendekatiku tak ada yang kusuka."


"Nampaknya pria Perancis akan lebih baik."


\=\=\=\=\=\=