
Kami menyerahkan pasien kami ke ER sementara anggota CFC menemui mayor Joseph dan semua perawat yang menangani pasien yang berubah jadi infected itu langsung menjalani wawancara.
Dari wawancara kami tahu bahwa perubahan perilaku tak terdeteksi beberapa hari sebelumnya. Tiba-tiba dia berubah menjadi tak terkendali pagi hari saat aku bertugas.
Kami semua menjalani pengetesan darah. Dan para ahli itu tinggal untuk wawancara dan menjalankan otopsi kemudian. Peralatan lab dirumah sakit ini nampaknya cukup untuk mendukung pekerjaan mereka.
Sementara ada hujan badai mendekat sore ini. Langit sudah mengelap seluruhnya. Akan ada hujan badai, daerah ini sering dilalui Tornado, terutama Oklahoma city 25 mil (40km) di utara kami.
Aku melihat hujan dan angin yang mulai turun. Perasaanku sama sekali tidak enak. Bagaimana jika ada pagar yang rusak karena badai ini. Dan entah bagaimana masih ada infected yang bisa menyusup mencari mangsa.
Dan Fred, kenapa dia tidak mengirim pesan sama sekali. Apa dia selamat. Dallas ke utara sudah menjadi zona hitam seluruhnya seperti Norman, Oklahoma. Bagian utara Texas sekarang semuanya adalah zona merah.
Jika ditempuh dengan mobil Dallas dan El Paso mungkin berjarak sekitar 10 jam. Tapi kenapa sudah hampir 10 hari pun aku belum mendapat kabar darinya. Apa telah terjadi sesuatu padanya... Yang lebih buruk apa dia sudah...
Aku punya banyak pikiran buruk berjalan di kepalaku.
Walaupun tentara banyak disebar disana, apa mereka bisa kembali karena sudah lebih dari seminggu aku tak mendengar kabar berita Fred.
Kehidupan kami bisa dikatakan hancur sekarang karena parasit ini. Entah sampai kapan kami bisa memeranginya. Dan cara menyembuhkannya bisa didapatkan.
"Hujan badai..." Andrew berdiri disampingku.
"Iya, aku sangat takut tornado. Daerah ini sering ada tornado." Aku mengatakan kekhawatiranku.
"Tampaknya tidak ini hanya hujan biasa."
"Kau baik-baik saja. Tanganmu baik-baik saja. Baru kali ini kau menembak full dengan rentang waktu lama." Ini tadi terasa kebas, tapi sekarang membaik kurasa.
"Sedikit sakit, tapi kurasa akan baik-baik saja."
"Jika kau perlu apapun jangan ragu minta tolong." Aku menatap mata birunya tersenyum padaku. Dia bersikap sangat baik padaku. Kalau aku tak punya Fred mungkin aku akan jatuh ke kàpten tampan bertubuh kekar ini, seperti Susan yang sudah dimabuk cinta dengan De Angelo.
"Tanpa dimintapun kau sudah banyak membantu. Terima kasih." Kami bertatapan sesaat, dan aku terkunci pada mata dan senyumnya. Sebelum aku menghindar kemudian.
"Kau sudah mendengar kabar dari kekasihmu."
"Belum sama sekali..." Dia diam.
"Semoga dia bisa kembali secepatnya..."
"Aku juga sangat berharap begitu." Aku berkata sedih. Siapa yang tak kuatir sekarang. Perjalanan sepuluh jam yang berganti 10 hari tanpa kabar.
"Jangan kuatir, selama disini kau akan aman. Tak ada yang bisa melukaimu disini, kau dikelilingi teman-temanmu..." Dia tersenyum kecil sambil menatapku.
Sekarang aku takut pada debaran jantungku sendiri saat bertatapan dengannya. Pasukan khusus ini punya pesona sulit ditandingi.
"Aku punya tugas mengambil sample darah para prajurit. Bisa kau temani aku ke gedung sebelah." Aku mencoba menghindar dari situasi canggung ini.
"Tentu saja."
Kami melewati bangsal pasien kosong di lantai dua. Sebuah pintu yang tidak tertutup rapat memunculkan sebuah suara aneh.
"Susan, F*uck me , ... Ohh...I love you babe..." Itu suara De Angelo, dan suara desahan Susan terdengar setelahnya. Dan suara lainnya yang biasa kau dengar saat ada keadaan seperti itu...Sial! Kenapa aku harus mendengar hal-hal seperti ini. Mukaku langsung panas.
"Ayo kita jangan mengganggu..." Andrew yang berbisik disebelahku menyebabkan aku berjengit kaget.
"Kenapa kau berbisik, kau ingin mengintip?" Dia menaikkan alisnya dengan senyum lebar.
"Tidak! Kau gila! Ayo pergi!" Aku masih berbisik dan bergerak pergi dengan cepat, Susan yang beruntung itu tahu bagaimana memanfaatkan keadaan.
Sekarang Andrew menjajari langkahku dan tertawa tanpa suara, sementara kami menghindari sumber keributan yang tampaknya semangkin menjadi.
Aku tak bisa menahan tawaku setelah kami jauh.
"Kenapa kita harus mendengar urusan mereka... My Gosh." Sementara Andrew juga masih tertawa.
"Apa yang membuat kalian tertawa begitu rupa." James ada di pintu lab, tempatku harus mengambil alat yang kuperlukan untuk sample acak tes darah. Kami tak bisa menjawab tentu saja.
"Tidak ada hanya hal tak penting." Aku menghindar dari pertanyaan James.
"Kau kesini untuk mengambil kit sample darah bukan. Andrew yang akan membantumu?"
"Iya..."
"Mereka perlu 25 sample acak. Aku akan mendampingi otopsi. Karena tak ada dokter otopsi." Aku masuk ke lab bersama James kemudian. Dia membantuku membantuku mengepak alat tes dalam tas khusus.
"Kau dan Andrews terlibat sesuatu?"
"Apa?" Terlibat apa maksudnya?
"Kau terlihat sangat dekat dengannya..."
"Tidak, kami hanya dekat karena aku sering berlatih dengannya dan kami jadi tim yang baik saat menghadapi ratusan zombie tadi, kau tahu aku menembak setidaknya puluhan zombie tadi..." Aku menceritakan situasi yang kuhadapi tadi padanya dengan bersemangat.
"Kau harus berhati-hati oke. Kembalilah ke El Paso dengan selamat... Ibumu menunggumu. Dia tak punya orang lain lagi selain kau." James tiba-tiba mengingatkanku soal Ibu. Yang membuatku tiba-tiba bersedih mengingatnya.
"Thanks James... Aku akan selalu berhati hati." Dia menepuk bahuku kemudian.
"Jika aku bisa aku akan melindungimu termasuk tidak membiarkan kau terjun ke lapangan, tadi aku tidak ada disana. Harusnya pria yang diterjunkan bukan wanita sepertimu."
"Aku penembak jitu sekarang, aku ternyata sangat berbakat dalam tembak menembak. Kau tak usah kuatir... Kau seperti kakakku..." Dia menghela napas melihatku.
"Dan kau masih seperti dulu. Pergi kemanapun kau suka sehingga aku dan Ken harus selalu mengejarmu. Jika kau terluka disini, Ken akan memarahiku di surga sana. Jadi jangan mengambil resiko tak perlu,kau bukan tentara terlatih seperti mereka. Kau tahu aku mengkhawatirkanmu begitu kutahu kau yang ada disana..." Giliran aku terdiam sekarang. Kenapa dia harus menyebut Ken untuk mengingatkanku.
Dia menaruh tas di tanganku.
"Pergilah ke sana, jangan lupa mencatat nama jelas dan umur. Nomor badge mereka. Jika salah satunya infected, kita tak akan mau salah orang."
"Oke Doc." Aku menyandang tasku siap bekerja.
Dia tak melihatku lagi sibuk dengan peralatannya sendiri. Aku merasa ingin memeluknya sekarang karena dia bersikap manis mengkhawatirkanku. Sementara dia sendiri tengah berduka.
Jadi aku merangkulkan diriku ke punggungnya dengan tiba-tiba dan memeluknya erat. Dan dia nampaknya terkejut.
"Terima kasih sudah begitu baik James. Jangan kuatir aku akan menjaga diriku."
Hanya itu yang bisa kukatakan sekarang.
Aku jauh dari rumah, tapi entah kenapa, rasanya sangat banyak yang menjadi keluargaku disini.