BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 121. Training Score 1


"Dia akan membuatku dalam masalah..." James memijat keningnya yang tiba-tiba pusing karena kedatangan Michelle.


"Kau bilang saja pada Tom untuk mengerjainya." Aku meringis.


"Tom juga melatih yang lain, gadis keras kepala seperti itu tak akan mempan pada provokasi. Kau tak tahu bahkan dikejar infected saja tidak membuatnya takut."


"Hmm, yah mungkin kau perlu makan malam dengan pria tampan." Aku tertawa lebar. James melihatku masih dengan muka kesal nampaknya. "Baiklah-baiklah, aku akan membantu menjauhkannya, tenanglah. Aku bicara dengan Tom dulu apa kita bisa mempersulitnya. Tenanglah. " Walau aku tahu mungkin Tom juga tidak bisa mempersulit gadis yang bertekad seperti dia.


"Tidak akan berhasil, dia berhasil pergi dengan surat tugas dan alasan yang resmi. Dia tidak akan bergeming." Ternyata dia juga tahu.


"Kalau begitu tolaklah nanti dia dengan terang-terangan. Itu lebih baik dan tidak memusingkan."


"Aku sudah pernah menolaknya terang-terangan. Tapi dia masih bersikap seperti itu." Aku baru tahu yang ini. Well, gadis itu memang pantang menyerah nampaknya. Plus mungkin dia tergila-gila pada James, melihatnya saja membuatnya bahagia.


"Well, kalau begitu kita lihat saja apa gadis kota seperti dia mampu berada di zona hitam, tinggal waktu saja kita mengirimnya pulang dengan menumpang konvoi militer."


"Perkiraan operasi kali ini bisa sampai delapan bulan daerah yang di bebaskan sangat luas."


"Hmm...sama saja jika dipikir-pikir, kita berada di Oklahoma dan Arkansas le lbih dari setahun itupun baru 70%. Kurasa Miami akan jauh lebih baik karena daerahnya lebih sempit. Gadis cantik itu tak akan bertahan. Dia akan segera kembali ke Atlanta begitu tugasnya selesai."


"Semoga kau benar."


"Aku harus melihat pelatihan, ini hari terakhir pelatihan gelombang 1. Mereka akan segera memberikan hasilnya. Nanti aku sekalian bicara pada Tom."


Sebenarnya persyaratannya adalah mereka menguasai cara menembak, menghindar, dan memukul dengan benar titik lemah infected, setidaknya mereka bisa menang di pertarungan satu lawan satu. Jarang infected punya kecepatan yang mumpuni sekarang.


"Kapten." Aku menyapa Tom Dawkins yang sedang mengawasi kurang lebih 60 personil dari gelombang 1 yang akan ikut. Digabung pria dan wanita ada lagi gelombang 2 yang akan dipersiapkan.


Dia dan 7 orang tim keamanannya sebenarnya, masih ditambah penugasan khusus nanti tergantung kebutuhan. Kami membawa sekitar 70 orang tenaga medis, itu jumlah yang cukup besar.



"Bagaimana mereka?" Kapten tampan ini menyenangkan untuk dipandang itu bonus.


"Ehm ada satu dua orang yang kurasa penilaian benar-benar jelek, aku tak bisa merekomendasikan, tapi rata-rata bisa membela diri sendiri. Kalian yang memutuskan nanti sesuai dengan kepentingan kalian. Mereka sedang penilaian akhir ketepatan menembak. Sebentar lagi selesai, personil sipil kota ini payah-payah, mereka tak pernah di hadapkan ke kondisi hidup mati, wilayah ini aman. Bukan seperti wilayah tengah."


"Boleh kuminta kalian memberi training tambahan jika mereka ingin mendaftar."


"Ohh tentu saja, itu akan sangat bagus. Kita tak tahu apa yang kita hadapi. Jika kau bisa memotivasi mereka akan sangat bagus."


"Berapa skor tembakanmu?" Aku meringis dengan pertanyaannya.


"Mau kuperlihatkan padamu?" Gantian dia tersenyum dengan jawabanku.


"Well, kau nampaknya memang punya kemampuan. Kau boleh pamer di depan bawahanmu. Bagaimana? Ini juga untuk memperoleh respek mereka juga dan memaksa mereka ikut pelatihan tambahan sebenarnya, para tenaga sipil ini sangat mengkhawatirkan. Aku terbiasa dengan tenaga medis militer, aku membayangkan bagaimana harus mempercayakan pistol ke mereka, skor mereka mengkhawatirkan."


"Boleh." Aku menerima tantangannya.


"Ayo ikut aku Nona Jen."


Tes terdiri dari lima kertas target yang harus di tembak. Masing-masing berjarak 5, 8, 10,12,15 meter. Tesnya sudah selesai, aku menerima daftar nilai mereka.


"Well dari hasil tes ini paling tinggi mereka kena 60%, itupun paling banyak hanya 3 tembakan pertama yang kena."