BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Patt 92. Moskow 7


"Kau benar-benar ingin pergi menghajarnya?" Dia masih berusaha mengubah rencanaku untuk yang terakhir kalinya. Perkelahian kali ini nampaknya sama sekali tak ada gunanya di matanya, baginya tetap ada prinsip keluarga harus disayangi.


"Iya. Jika kau tak ikut tak apa. Akan kuselesaikan sendiri." Svetluny melihatku dengan kesal.


"Tuan Mafia yang senang berkelahi, aku akan ikut." Tapi kemudian dengan menggerutu dia memutuskan ikut.


Svetluny mengikutiku ke sasana, yang merupakan tempat latihan kebanyakan tim keamanan Ayah. Apa anak kesayangan itu akan muncul hari ini, aku masih menyangsikannya. Tapi anggap saja jika dia tidak muncul aku sudah bisa menduganya.


Aku mengobrol dengan beberapa saat dengan Anthony ketika dia datang. Dia membawa tiga orang bersamanya. Pria-pria dengan badan tegap, posturnya mengingatkanmu jika kau melihat seseorang di ketentaraan, mungkin pelatihnya di sini. Dan seorang wanita, wajahnya biasa saja jika dibandingkan dengan Svetluny, tapi aura sombong menguar padanya sangat tinggi. Mungkin kekasihnya, tapi aku kemarin tak melihatnya di makan malam keluarga.


"Wanita itu..." Aku memperhatikan Svetluny nampaknya mengenal wanita itu.


"Siapa dia."


"Dia anak millionaire Inggris...." Svetluny menyebutkan namanya, Candice Rupert, putri semata wayang Paul


Rupert dia mengenalnya karena beberapa kali bertemu dengannya di beberapa acara fashion week, dari gerak geriknya dia memang kalangan jetset. Tak salah jika dia terlihat sombong.


"Ohh pacarnya lumayan juga ternyata. Anak semata wayang Paul Rupert? Hmm... Paul Rupert, Aku pernah mendengarnya. Bukankah dia pemain di industri tekstil dan juga brand clothing besar?"


"Iya, makanya mereka sering mendapat undangan di acara fashion show. Dia juga pemilik retail line yang terkenal." Svetluny menyebutkan beberapa retail busana yang dimilikinya. Itu memang retail skala global, tak kusangka keberuntungan anak manja ini bagus juga. Kekasihnya anak semata wayang millionaire Inggris.


"Akhirnya kau muncul juga, kupikir kau tidak berani muncul."


"Siapa yang tidak berani muncul, itu harusnya kau." Masih terbiasa omong besar seperti biasa.


"Kau tidak usah tahu siapa mereka."


"Bukan tukang pukul yang akan menyergapku di perjalanan pulang bukan?"


"Jelas saja bukan, kau akan KO hari ini denganku.


"Kau tak usah sesumbar, pertarungan apa yang kau inginkan?"


"Boxing 3 set 3 menit." Orang yang datang bersamanya langsung bertanya padaku. Ini sepertinya memang semacam guru bertarungnya.


"Ohh boxing. Kau berlatih boxing? Dalam tiga bulan ini?" Aku langsung tersenyum, nampaknya untuk menghadapiku dia sengaja berlatih berbulan-bulan ini. Dia berani membawa kekasihnya, mungkin dia yakin bisa menang. Kekasihnya ini nampaknya percaya padanya dan sangat mendukungnya.


"Kau bukankah Monica Dugard." Tiba-tiba dia menunjuk ke Monica.


"Iya aku Monica Dugard. Senang bertemu denganmu Candice."


"Kau kekasih anak pertama keluarga Mashkov, tak kusangka kita bertemu di sini. Tapi situasinya agak canggung." Sepertinya Candice dan Svetluny-ku punya hubungan cukup baik. Tidak tampak aura permusuhan sedikit pun diantara mereka.


"Kau benar situasinya agak canggung." Monica meringis. "Bagaimana kalau kita bicara di sana." Dia mengajak Candice bicara sementara aku dan Sergie dipakaikan sarung tangan tinju dan perlengkapan lain. Para wanita punya waktu yang baik, sedangkan para pria siap bertarung.


"Kalian bersiap naik ke ring." Anthony yang akan jadi wasit.