BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 86. Sergie Mashkov


"Ayah tahu. Harusnya Ayah meminta maaf padamu juga karena membiarkan Margarita memindahkanmu ke Montreal. Ayah begitu sibuk sehingga tidak memperhatikan keluhanmu. Dan saat itu mungkin Ayah terlalu percaya ke Margarita. Sumber semua kesalahan ini adalah Ayah."


Aku diam. Ayah minta maaf padaku, hal yang tidak kusangka akan terjadi. Hal yang menganjal di masa lalu sudah lunas dengan kata maaf itu.


"Tak apa, jika dipikir-pikir jika aku berada di Moskow aku juga tidak akan bisa belajar berlari di usia muda, mungkin dibalik semua bencana itu ada baiknya juga. Setidaknya aku tak jadi anak manja." Ayah tertawa kecil menanggapiku.


"Kau seperti Ibumu, selalu bisa melihat sisi yang lainnya. Ayah bersalah ke Ibumu." Mengenang Ibu adalah satu hal yang tidak dapat kulakukan. Aku hanya bisa melihat rekaman video lama yang memperlihatkan Ibu mengendongku yang masih bayi.


"Ayah dengar dari Bibimu kau sudah mempunyai kekasih di Kanada, Bibimu bilang itu dari keluarga berpengaruh di Kanada."


"Namanya Monica Dugard, iya sebenarnya aku pernah bermasalah dengan mereka... kuceritakan sedikit siapa yang kuculik." Ayah tertawa sekarang.


"Astaga, jadi yang kau culik anak singa."


"Benar induknya datang dan aku dicabik-cabik." Aku terbahak menertawakan ketidakberuntunganku sekarang. "Untung saja saat itu aku tidak di deportasi dari Kanada, tim yang disewa oleh CEO sialan itu bahkan membunuh salah satu pengawalnya. Tapi yah dengan meminta maaf ke mereka banyak hal yang dipermudah termasuk memperoleh lelang faselitas lab kita dengan harga yang lebih ringan."


"Ayah mengerti di satu sisi kau memang bersalah menculik putri keluarga Dugard. Menculik anak singa jelas kau akan dicabik oleh induk singa." Sekarang dia yang menertawakan kemalanganku. Itu bisa ditertawakan karena aku sudah berhasil memulihkan luka setelah diterkam oleh induk singa.


"Iya benar." Aku masih ikut tertawa.


"Bawalah dia kesini. Kita akan menjamunya dengan baik. Lagipula Maslenitsa adalah hari pesta. Ayah juga ingin bertemu dengannya."


"Tentu. Aku memang berencana mengenalkannya kepada Ayah. Dia bersedia ikut."


"Mom sudah bahagia, anaknya sudah besar sejak lama." Ayah diam. Akupun diam, pikiran kami mungkin berbeda. Permintaan maaf kali ini tak kusangka, tapi membicarakannya banyak luka perlahan terhapus karena permintaan maaf yang tulus itu.


Sesaat kemudian Ayah membicarakan masa lalu, kali ini dia dengan sungguh-sungguh bertanya apa aku pernah mengalami kesulitan saat pindah ke Kanada.


Mungkin sedikit terlambat, masa-masa kelam itu sudah kulewati lama sekali. Tapi karena dia bertanya aku bercerita kepadanya pertama kali. Dia mendengarkan cerita jujurku, sesekali kami menertawakan cerita-cerita yang harus kulewati, walau saat itu aku melewatinya cukup sulit tapi sekarang aku bisa menertawakannya.


"Ayah berdosa padamu, tak pernah ada di sampingmu. Ayah harus berterima kasih pada Bibimu. Mungkin permintaan maaf tak bisa menghapus àpa yang sudah terjadi. Semoga Ayah punya cara menebusnya." Suaranya berat diujung sana, menyesal atas waktu yang sudah berlalu.


"Sudahlah Ayah, tak ada yang perlu dimaafkan, aku sudah di sini sekarang. Apa lagi yang harus dikatakan. Ayah sudah memberiku kesempatan yang sama dengan anak Margarita, itu sudah cukup. Aku bersaing dengan adil, itu sudah cukup. Aku bisa kembali ke Moskow lagi dengan kepala tegak dan mengatakan aku berhasil itu sudah cukup. Aku tak akan menyalahkan Ayah."


"Ayah bangga padamu. Kau tidak menyalahkan situasi, tapi mengubahnya sebagai batu loncatan untuk maju. Jika kau memimpin Moskow di masa depan, mentalmu tak akan mudah jatuh jika ada masalah. Itu sangat bagus."


"Aku mungkin hanya sedikit beruntung banyak teman dan ada Bibi mendukungku." Dan ada Svetluny yang dikirimkan untukku. Tanpa dia aku tak bisa berdiri tegak begini. Tapi soal itu biarlah hanya aku yang tahu. Yang jelas aku juga sangat senang Ayah menebus tahun-tahun yang telah berlalu dengan pembicaraan dar hati ke hati seperti ini.


Pembicaraan yang mengalir kemudian terasa membahagiakan. Walaupun itu terlambat bertahun-tahun, itu penebusan yang berharga. Mungkin pertama kami bisa bicara begini panjang dan lebih dekat sebagai anak dan Ayah.


Tak ada penyesalan dan luka yang tak terselesaikan lagi diantara kami. Semuanya telah dipulihkan dengan kata maaf dan pembicaraan tulus ini.


Ayah yang tak pernah ada, hari ini sudah kudapatkan.