
Kami harus tetap fokus walaupun digempur dengan kedatangan pasien silih berganti. Akhirnya kami menarik beberapa tenaga sipil yang terlatih untuk membantu kami.
Baru bulan pertama, masih 20%, tapi ini belum seberapa dari resiko para prajurit yang bekerja di lapangan, di garis depan sebenarnya.
"Jen, kau sudah selesai?" James mengecekku ketika aku masih menjelaskan perkerjaan ke shift malam. Dia nampaknya juga selesai membantu dari samping.
"Sudah, tadi terakhir."
"Sudah jam 9 lebih, pergilah jika sudah. Kau sudah makan?" James selalu memastikan aku kembali tidak terlalu malam. Seperti katanya dia memang kakak yang baik. Sudahlah, mungkin itu caranya. Tak mungkin kami berpacaran di tengah situasi chaos begini. Dia ada di sini menjagaku kadang memang seperti kakakku.
"Tadi sore sudah, sekarang sudah lapar lagi." Aku tersenyum padanya.
"Kau tidak mengambil liburmu sudah tiga minggu ini."
"Tak apa kau juga sama. Kita bisa libur sedikit-sedikit di sela-sela kerja."
"Jika kau mau libur tak apa, Laura sepertinya sudah bisa mengantikanmu. Dia juga mengambil jatah liburannya. Jika kau jenuh, akan tak baik untuk dirimu dan pasienmu juga."
"Aku tak apa, aku akan ambil libur jika aku perlu. Kau tenanglah."
"Ya sudah sana kembalilah untuk istirahat."
"Iya." Dia pergi, aku juga pergi mengambil makanan.
"Ludo... kau masih punya sesuatu."
"Jen, tentu saja. Aku selalu meninggalkan sesuatu untukmu, kau tak akan kelaparan." Dia memberikan box makanan untukku, aku menerimanya dengan senyum lebar.
"Kau terbaik Ludo."
"Kulihat kau selalu makan malam paling akhir? Ludo bilang dia selalu memastikan staffnya meninggalkan sesuatu untukmu selain untuk mereka yang jaga malam." Kali kedua aku bertemu dengan Komandan Gillian dalam dua minggu ini.
"Malam Sir, saya harus memastikan semua beres, jam 5 saya sudah makan, biasanya ada yang datang saat akhir shift. Tenang saja, saya tahu bagaimana caranya menjaga ritme kerja."
Dia duduk di depanku.
"Apa aku menganggu?"
"Tidak Sir. Kau bisa mengoceh sepuasmu di sini." Dia tersenyum dan duduk di depanku. Ini pertemuan kedua kami. Seperti katanya dia tak berniat mencari masalah denganku. Aku percaya saja karena dia juga atasan di sini, lagipula dia tidak mencoba bersikap tidak sopan padaku.
"Belakangan sangat sibuk."
"Iya sedang pada puncaknya. Kami mengikuti ritme pasukan Sir." Aku mendengar dari perawat yang lain, dia punya beberapa wanita yang nampaknya punya hubungannya dengannya. Ada satu dokter wanita di bagian umum dan mungkin salah satu assistennya, itu hanya gosip tentu saja, tak ada yang membuktikan kebenarannnya. Entah itu karena dia sering bicara dengan mereka atau memang benar mereka casual partners.
Dan nampaknya dia memegang aturan yang ketat soal ini karena dia tak mengumbar dengan siapa dia dekat. Yang terkena sihirnya dengan rela menyetujui syaratnya, seperti yang kuduga terlalu rumit untuk menjadikannya teman.
"Kau dan dokter James itu kekasih?" Sebuah pertanyaan membuatku melihatnya. Kenapa dia ingin tahu, dia mencari tahu. Mungkin ingin mencoba gadis yang sulit.
"Bukan. Hanya teman baik." Aku menjawabnya seperti yang kukatakan ke semua orang.
"Ohh."
"Menarik."
"Kenapa menarik?"
"Kau bisa bertahan dengan status teman sedekat itu." Aku tak menjawabnya, hanya tersenyum, yang tahu rumitnya hubungan aku dan James hanya aku.