BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 53. I Will Be Back For You.


Kau sangat tak beruntung jika tornado melewatimu. Istilahnya adalah, begitu banyak jalur di daratan yang luas. Tapi dia memilih melewati tempatmu. Sekarang aku adalah orang yang sial itu.


Bagaimana suara tornado? Aku tak tahu sebelumnya, tapi sekarang aku mendengarnya sendiri.


Bayangkan berdiri di samping rel kereta barang yang melaju 60 mil per jam (100 km/jam). Bayangkan suara keras semacam itu dari beberapa inci jauhnya, begitu dekat sehingga kau bisa menjangkau dan menyentuhnya. Seperti itulah kedengarannya. Lolongan angin itu terdengar sangat mengerikan.


Kami berada di lintasan tornado. Sial! Pengalaman ini tak akan pernah kulupakan dalam hidupku. Sementara listrik terputus, tanda entah bagaimana pasti jaringan pembangkit listrik kami sudah mengalami kerusakan. Gelap gurita, aku merapat ke orang terdekatku, James, sambil menutup telinga kuat-kuat.


"Kita aman disini, jangan takut," samar-samar kudengar dia berkata-kata.


Aku merasa satu tangannya memelukku, sementara satu tangannya menutupi kepalaku, sementara aku terus mendengar puing-puing yang menghantam bagian atas shelter. Aku membayangkan entah bagaimana sebuah truk besar menimpa shelter kami seperti di film-film tornado. Tapi setidaknya itu tidak terjadi sekarang.


Aku terus menutup kupingku dengan kencang. Tapi suara pop-pop terdengar di telingaku karena tekanan yang berubah cepat disekitar kami. Semua orang ketakutan dalam suasana gelap itu. Hantaman puing dan lolongan angin itu nampaknya berlangsung hebat dalam beberapa menit, yang rasanya adalah menit terlama dalam hidup kami, tapi kemudian tiba-tiba menjadi sunyi.


"Apa sudah selesai?" Salah seseorang yang berada dibelakangku bertanya ketika suara suara menjadi sunyi dan kami tidak bisa melihat apapun kecuali kegelapan yang membutakan.


"Tunggu perintah komandan." Salah seorang kapten mencoba menenangkan situasi dan meminta kami tetap tenang.


Kekuatan badai ini bisa bermacam-macam, ada yang bertahan cuma melintasi daratan dibawah sepuluh menit atau ada yang bisa membentuk sistem tornado besar yang bisa bertahan mengobrak abrik daratan hingga satu jam.


"Tornadonya hilang kalian bisa keluar." Akhirnya radio komando utama menyuruh kami keluar.


Pintu shelter dibuka, dan tornado itu membuat udara disekeliling kami berbau seperti rumput yang dibabat atau pohon yang ditebang.


Kami melihat kerusakan akibat kekuatan alam itu. Entah bagaimana kabel-kabel dan baut besar yang dipasang itu menahan kontainer disana. Tapi semua kawat bertegangan listrik yang melindungi kami rusak entah tertimpa apa. Puing-puing berserakan, kaca kontainer pecah, tenda yang belum sempat dirapikan terbang entah kemana, bahan bangunan berserakan, pohon-pohon tercabut dan tumbang. Beberapa bersarang diatas kontainer, keadaan kacau. Sekarang area ini tanpa pertahanan memadai.


Dan rupanya lima ratus meter disamping kami adalah lintasan utamamya. Kami beruntung tidak benar-benar berada dalam lintasannya. Jika kami berasa di lintasannya kontainer kami tidak akan mungkin masih berada di tempatnya. Tornado punya kekuataan menghancurkan rumah rata sampai pondasinya.



Sementara gedung komando yang adalah kantor instalasi listrik untuk dam itu bertahan, walaupun kaca-kaca jendela banyak yang pecah, tapi gedung yang diperkuat concrete dan baja bertulang itu masih kokoh disana.


"Sebagian periksa kerusakan, sebagian bersihkan triage dan bersiap untuk menerima pasien." James langsung memberikan perintah apa yang harus kami kerjakan.


Jam tiga sore, banyak yang harus dibenahi sebelum gelap. Kami bergegas, mengerjakan tugas kami, sementara beberapa yang terluka mulai datang, para dokter dan petugas berusaha untuk membuat triage bisa langsung digunakan setidaknya.


Dan beberapa orang langsung menangani gangguan listrik.


"Kita tak punya perimeter keamanan malam ini, setiap orang harus sangat berhati-hati sampai kerusakan perlahan diperbaiki." James datang dari pusat komando, untungnya sebelum gelap listrik kami bisa menyala.


Harusnya daerah ini sudah bersih. Jika ada ancaman, harusnya mungkin hanya satu dua zombie. Kecuali zombie yang bisa berpikir seperti yang ada di Springdale menyusup ke sini. Itu akan mengerikan.


Yang penting kami selamat. Sekarang sudan cukup.


\=\=\=\=


Banyak orang yang terluka karena tornado, sepanjang malam kami kebanyakan dari kami bekerja menjahit robekan, menarik pecahan kaca, beberapa cedera fisik dari luar daerah meresepkan obat pereda rasa sakit. Sementara udara menjadi dingin di January ini pagi kadang jaruh dibawah 10°C , kami bertahan tanpa pemanas hanya jaket tebal.


Seakan itu belum cukup, ada kabar buruk lagi.


"Kamp di West Siloam Spring terkontaminasi total semalam, ada ledakan infected, puluhan ribu orang mungkin menjadi korban. Beberapa ratus atau ribu yang selamat mungkin menuju kesini."


"Terkontaminasi total? Bagaimana bisa ..." Susan dan aku sama-sama berpikir bagaimana kamp begitu besar bisa jatuh. Itu camp sama yang ditangani krisisnya oleh Andrew beberapa waktu yang lalu.


"Tak salah lagi mungkin kontaminasi sumber air. Mulai sekarang komandan memerintahkan semua air harus direbus, walaupun air kemasan. Air minum disterilkan di satu tempat. Kita harus mengambil air yang sudah direbus."


Kamp ini mempunyai beberapa sumur bor. Dan entah bagaimana mungkin air tanah mereka terkontaminasi. Aku ingat Andrew bilang mereka menembak ratusan orang kemarin.


"Puluhan ribu orang. Oklahoma bagian Utara jatuh kembali ke zona hitam dalam semalam."


Terjadi kesibukan tak biasa siang kemudian. Ratusan prajurit akan pergi. Seseorang mengatakan mereka ditarik membersihkan Siloam Springs sampai Springdale. Tapi sebuah kendaraan truk militer juga tiba disana. Andrew dan tim-nya kembali dari Atlanta. Sementara Susan langsung menyambut dan memeluk D'Angelo.


"Syukurlah kau baik-baik saja. Kudengar ada tornado dekat sini. Aku mengkhawatirkanmu terluka." Dia langsung turun dan datang melihatku ke triage. Aku sedikit tersentuh bagaimana dia mengkhawatirkanku.


"Bisa aku bicara pribadi sebentar." Dia menarik tanganku dan membawaku ke sebuah ruangan tindakan yang kosong. Sekarang aku heran.



"Aku harus pergi lagi. Aku akan memimpin tim dari camp ini membersihkan Siloam Springs sampai ke Springdale. Jaga dirimu disini." Aku melihatnya di matanya.


"Iya, aku akan baik-baik saja. Jaga dirimu. Thanks Andrew..." Mungkin entah bagaimana kebersamaan kami berbulan-bulan ini membuatnya menyimpan perasaan khusus. Tapi dia tahu aku masih menunggu Fred.


"Aku pergi." Tiba-tiba dia merengkuhku dalam pelukannya. "Mungkin ini terdengar terlalu cepat tapi aku ingin mengatakan aku selalu memikirkanmu belakangan. Aku khawatir padamu. Aku akan kembali, berhati-hari jadi amanlah disini."


Aku tak bisa bicara sekarang. Entah bagaimana menanggapi ini.


"Aku tak berharap kau menerimaku." Aku hanya mengatakan isi hatiku padaku, jika aku entah bagaimana mati di medan tempur. Aku tak punya penyesalan. Aku akan kembali padamu..." Sebuah ciuman singkat menyentuhku dan dia berbalik pergi kemudian begitu saja.


"Aku akan kembali." Dia tersenyum kecil padaku dan kemudia meninggalkan aku di ruangan itu sendiri.