
"Iya, tapi sekarang semua orang akan belajar jika memasuki kota aman, semua harus berjalan sesuai perintah otoritas."
"Kenapa kau kesini, kau sengaja ingin bicara atau punya masalah? Kau bisa minta bantuan apapun?"
"Aku hanya ingin bicara, apa aku menganggumu?"
"Tidak, tentu saja tidak. Aku hanya ingin mengatakan jika kau bisa mengatakan apapun padaku." Kami berdiam diri sesaat. Aku melihat menatapku, jadi salah tingkah sendiri sekarang.
"Jangan menatapku begitu." Dia tertawa.
"Sorry..." Ini memang canggung, aku tahu. Aku tak tahu kenapa aku menuruti dorongan hatiku untuk kesini. Apakah dorongan hatiku ini benar.
"Mau berbagi cokelat."
"Itu untukmu." Aku membuka bungkusnya lalu membagi untuknya. Kusuapkan saja padanya, mau tak mau dia menerimanya. Lalu mundur lagi ke sofaku.
"Tak apa. Ini enak ..." Aku tersenyum bisa merasakan rasa manisnya lagi.
"Aku senang kau ke sini akhirnya. Masuk saja oke, tak apa kau disini, lagipula kamar ini luas."
"Lain kali dapatkan coklat lagi." Aku meringis.
"Aku akan berusaha."
"Aku hanya bercanda. Ini canggung sekali. Aku tak tahu kenapa aku ingin bicara denganmu tiba-tiba. Mungkin sesuatu yang sulit itu semangkin dilarang semangkin diinginkan."
"Begitukah." Dia tertawa. "Mungkin itu benar."
Di kamar sebelah tiba-tiba terdengar suara yang cukup kencang seperti tembok di benturkan sesuatu. Astaga bukankah itu semacam suara ranj*ang yang berderit.
"Aku sebaiknya pergi saja." Mukaku memerah mendengar suara itu.
"Iya sebaiknya kau pergi." Sementara Andrew tertawa sengan reaksiku. Kenapa bisa sekeras itu. Apa mereka tak tahu suara macam itu menyiksa orang.
"Siapa di sebelah?"
"Sudah dua kali kita memergoki mereka. Dulu di barak sebelumnya juga. Apa tiap hari kau harus mendengar itu."
"Ohh ya kau benar juga, mereka memang tak sopan. Nampaknya kita harus mendengar mereka terus. Entah kurasa mungkin yang satu ini agak memalukan, biasanya tidak atau mereka melihatmu masuk sehingga mereka memutuskan membuat keributan." Andrew masih terkikik. Susan benar-benar giĺa, benarkah dia melihatku masuk ke sini?"
Sementara suara itu terus berlanjut.
"Kau lebih baik menegur mereka."
"Tak apa anggap saja hiburan gratis."
"Hiburan gratis?"
"Iya itu membantu visualisasi. " Aku tak berani meneruskan berpikir apa maksud visualisasi itu. Aku melihatnya, sial Susan mungkin melihatku masuk ke sini. Kasihan Andrew...
"Kau tak pergi?" Dia menatapku. Sementara suara getaran itu semangkin mengencang.
"Aku pergi bailklah."
"Kau mau disini mengintip?" Itu hanya suara yang tak jelas. Dia terkikik ketika aku terus mendengarkan suara tidak jelas itu. "Ada cara mengintip lebih bagus, ketuklah kamarmya." Andrew ngakak.
"Kau gila." Aku langsung beranjak sekarang, takut untuk berada disini
Sialnya di lorong kamar malah suaranya lebih kencang, kali ini sampai desaha*n Susan terdengar sangat jelas, nampaknya di samping adalah kamar yang lebih kecil, atau mereka melakukannya di kamar mandi.
"Sayang, g*igit disana, ma*sukkan j*uga... en*ak sekali." Otakku langsung membayangkan apa yang terjadi. Sial.
"Ehm, terus begitu. Jangan berhenti." ...******* yang kelewatan itu benar-benar menyebalkan.
"Sedikit lagi, re*mas aku... " Apa yang sedikit lagi. Aku jadi mengi*git bibirku. "Sayang...Kau hebat, jangan berhenti, a*hh..." Suara di luar sini bisa membuat orang gila mendengarnya.
"Fu*ck ... Susan. Kuberikan semuanya padamu." Aku merinding mendengarnya.
------ bersambung besok