BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 143. Accidents 1


Aku sedang melihat catatan pasien ke dua ketika tiba-tiba Paul, salah satu orang tim keamanan menghampiriku dengan terburu-buru sepuluh menit kemudian.


"Kenapa kau?" Aku heran kenapa dia sampai perlu lari-lari.


"Jen, siapa yang masuk ruang isolasi dua sendiri?!" Mukanya panik, dia juga sudah tahu status ruang isolasi 2.


"Siapa? Mario dan John disini." Aku menunjuk Mario dan John yang harus menemani siapapun yang masuk ke ruangan isolasi 1 dan 2 duduk dengan tenang di kursinya masing-masing. "Apa ada dokter? Aku dan Laura ada disini? Dokter kurasa tak ada? Ruang dua akan sudah ditempel kertas dilarang masuk ke pembatasan penuh, Tom sedang menangani protokol pembatasan penuh, sudah dikunci dari luar pintunya." Aku dan Laura bertatapan.


"Michelle?!" Laura langsung menyebutkan satu nama. Aku langsung berdiri dari dudukku. Berani sekali dia masuk ruang yang sudah di segel pembatasan penuh dan dikunci tanpa pengawalan.


Kami membuka pintu berlari ke ruangan isolasi yang berjarak 10 meter ke ruangan paling ujung yang jaraknya mungkin 10 meter lagi. Napasku tere*ngah saat lari begitu cepat dengan mereka langsung kudorong pintu bangsal.


Michelle sedang memeriksa kornea mata pasien ketika kami masuk dan tiba-tiba pasien itu sadar, dan langsung menegakkan badannya, tangannya baru diborgol satu dan dia menjangkau ke Michelle secepat kilat.


Michelle bahkan tak sempat berteriak atau menghindar karena kaget!


Aku reflek maju lari menahan mulutnya yang mengangga dengan papan tahanan untuk menulis, mendorongnya sekuat tenagaku ke belakang dan karena dorongan kuatnya papan itu patah dan aku terpental ke lantai dengan membawa Michelle ke belakang juga.


Letusan senjata 2x, langsung terdengar memekakkan telinga ketika Mario langsung menembak kepala infected itu hingga jatuh infected itu begitu ruang tembaknya bersih dan pasien itu terbaring kembali ke ranjangnya kali ini tak bisa bergerak lagi selamanya.


"Jen!" Laura langsung menghampiriku dan dengan panik menarikku menjauh seketika. Baru aku sadar dan memeriksa kulitku. Apa ada goresan. Sarung tanganku aman tak ada robekan. Aku melihat kepada Michelle.


"Kau gila!" Darahku langsung naik ke ubun-ubun melihat Michelle yang masih terduduk pucat. "Kau tak lihat tanda pembatasan penuh di pintu depan!" Aku berteriak keras karena sangat marah! Hampir saja aku tergigit karena keteledoran putri manja ini!


"Kau bangsat! Kenapa kau masuk ke sini sendiri! Kau buta hah! Tanda sebesar itu kau abaikan! Pintu terkunci kau terobos!Jika kau mau bunuh diri jangan membahayakan orang lain!" Sekarang aku hampir ingin menjambaknya dengan tanganku sendiri dan memukul kepalanya sekalian.


"Aku..." Dia tak bisa bicara karena aku sudah sangat marah padanya.


"Ada apa ini?!" Tom dan James berlari masuk ke ruangan bersama keamanan dan dokter lainnya suara tembakan itu pasti terdengar.


"Nona Michelle menerobos tanda 'PEMBATASAN PENUH', masuk sendiri ke ruangan tanpa pengawalan dan hampir tergigit saat memeriksa kornea mata pasien, untung Jen menahannya dengan papan alas menulis." Mario menjelaskan apa yang terjadi.


"Jen kau luka?! Kau tergigit?!" James kali ini menarikku dan memeriksa tanganku.


"Aku tidak apa-apa, tapi gadis g*ila ini bahkan menerobos tanda pembatasan penuh, jika dia mau mati jangan membahayakan orang lain! Ban*gsat sia*lan!" Masih dengan penuh emosi aku memaki-maki Michelle yang sudah tak bisa mengatakan apapun.


"Aku lihat dulu." James membuka sarung tanganku untuk memastikan tidak ada goresan apapun. Dia menghela napas lega karena tidak menemukan luka apapun.