BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 46. Ice Cream Night 4


"Aku sudah lama tak mengemudi keliling kota, mau jalan-jalan denganku." Dia rupanya meminta aku mengantinya menemaninya keliling kota.


"Baiklah." Aku juga tak keberatan jalan-jalan lebih lama malam ini, daripada aku di rumah dan memikirkan perkataan mereka.


Tak lama dia membawa kami kembali ke jalan, sudah hampir jam 11, kami kembali ke jalan. Dia mengemudi, matanya ke jalan, tapi dia tidak bicara padaku, nampaknya dia memikirkan sesuatu. "Kau punya masalah, kenapa kau diam sekali."


"Tidak, maaf, aku yang mengajakmu jalan-jalan tapi mendiamkanmu." Matanya kembali padaku.


"Kau banyak pikiran bukan. Masalah bisnis."


"Hmm... sedikit. Kadang ada fase hidup yang penuh masalah. Tapi seiring waktu dan tindakan pasti ada cara penyelesaiannya. Aku sekarang berada di fase itu."


"Kapan kau akan kembali ke Moskow. Kau akan menetap di sana?"


"Moskow, entahlah masih lama kukira. Banyak hal yang harus dilakukan sebelum kembali ke sana."


"Moskow itu sangat jauh rasanya bukan."


"Sembilan jam perjalanan, memang cukup jauh."


"Kau ingin tinggal di sana kembali?" Dia melihatku serius dengan pertanyaanku.


"Aku belum memikirkan sampai sana sebenarnya. Mungkin iya, mungkin juga tidak. Tapi kembali untuk melakukan dan membuktikan sesuatu iya." Mungkin kembali untuk membalas Ibu tirinya.


"Kau pernah ke Moskow?"


"Tidak, itu sangat asing rasanya, ada beberapa teman yang mengambil pekerjaan di sana, tapi aku tak mau karena itu sangat jauh." Aku tak ingin tinggal di sana, tapi apa yang dia lakukan untukku membuat hatiku tak bisa tak memandangnya. Mungkin aku hanya bisa menjadi kekasihnya dan akhirnya patah hati setelah dia kembali ke Moskow.


"Itu sama yang kupikirkan saat mendarat di sini." Aku melihat wajah seriusnya. Mungkin semua kesendiriannya di sini mengubahnya menjadi gambaran apa dirinya sekarang, terlihat dingin dan tak bisa tersentuh. Harus dia yang membiarkanmu masuk. Kau tak akan bisa mencari kuncinya dari sisimu sendiri.


"Aku paham perasaanmu. " Aku menyentuh lengannya, menggosoknya seperti aku menghangatkan sesorang di musim dingin, masih merasa kasihan anak umur 13 tahun harus dikirim jauh dari tanah kelahirannya dan belajar hidup di tempat asing sendiri, dibully kemudian oleh temannya yang melihatnya sebagai orang aneh. Dia melihatku dan tersenyum kecil.


"Kau menang Svetluny yang hangat." Aku meringis dengan panggilannya itu.


"Dan kau seenaknya menganti nama orang."


"Itu awalan nama pertamamu, Moon, Moonlight. Aku hanya menambah cahayanya." Wajahku panas saat dia lama menatapku karena kami sedang berhenti di lampu merah. Aku membuang pandanganku darinya, menderita karena tak ingin jatuh ke pelukannya tapi lengannya terlalu ... menggoda untuk dipeluk.


Tapi dia tak akan melakukan apapun karena aku mengancamnya dengan batasan teman. Aku tahu itu. Baginya kepercayaanku adalah hal yang di dapatnya dengan susah payah. Dia tak ingin menghancurkan kepercayaan yang dia dapat dengan susah payah, berminggu-minggu mengirim bunga tanpa lelah.


"Tersenyumlah untukku. Kumohon..." Aku memelas sambil tersenyum padanya, memiringkan kepalaku dengan ekspresi memohon di sandaran kursi dan dia otomatis membalas senyumku. Aku senang bisa memancing senyumnya seperti itu.


"Apa yang sebenarnya kau lakukan."


"Aku hanya senang bisa membuatmu tersenyum..Aku tak suka wajah seriusmu yang sedih." Sekarang dia tertawa.


"Kita pulang oke, sudah malam. Terima kasih bersedia menemaniku seperti ini. Kau perlu istirahat. Besok kau bekerja bukan.:


"Butik biasanya ramai di akhir pekan, aku lebih suka mengambil liburan di awal minggu jika aku ingin libur. Tapi biasanya kami menutup toko lebih cepat walaupun buka."


"Kau memang harus pulang, maafkan aku menahanmu selarut ini. Aku memang keterlaluan." Dia mengarahkan mobil kembali ke arah apartmentku.


"Tak apa. Aku senang bisa mengobrol denganmu. Lagipula malam musim panas terlalu sayang istirahat terlalu awal." Agustus di Montreal berarti matahari baru terbenam jam delapan malam. Sehingga rasanya kau punya banyak waktu untuk melakukan apapun. "Baiklah. Mana pengawalmu? Mereka sudah kembali? Tadi bukankah mereka ada?" Aku tak melihat mobil mereka mengikuti kami sejak kami turun membeli eskrim


"Ada mereka tak terlihat. Mereka tetap mengikuti kita."


"Begitu rupanya." Aku sebenarnya penasaran kenapa dia perlu pengawal, tapi rasanya untuk yang satu itu, aku dan dia belum terlalu dekat. Rincian jawaban kenapa dia perlu pengawal pasti sangat panjang. Aku belum sanggup menanggung konsekuensi bertanya terlalu dalam dan terlibat hidupnya begitu jauh.


Tak berapa lama kami tiba di apartmentku.


"Terima kasih untuk membelaku malam ini."


"Aku memang harus melakukannya. Tak usah berterima kasih. Naiklah... Ini sudah malam, aku pergi dulu. Jangan lupa belanjaanmu di bangku belakang. Selamat istirahat. Jangan matikan sinar bulannya walaupun kau tidur." Ternyata dia bisa bercanda juga.


"Terima kasih juga traktirannya. Lain kali ganti aku yang membayar." Dia tertawa kecil.


"Anggap saja membayarimu membuatku bahagia, dan ketika aku dibayari membuatku merasa berdosa. Jadi lain kali aku tetap tak menerima kartumu. Yang itu aturanku jika kau ikut denganku." Aku meringis geli sekarang.


"Baiklah, aku pergi dulu. Hati-hatilah." Aku turun dengan senyum lebar dan melambai padanya.


Malam musim panas yang berkesan dengan mafia Rusia ini.


Apa yang akan terjadi besok, sanggupkah aku bertahan tak memeluk lengannya. Melihatku tersenyum bahagia, memberi tahu dia akan baik-baik saja di sini.


Aku tak tahu.