BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 160. Love Gambling 4


Aku tertawa. Aku merindukan Momku yang dulu, yang sudah kembali ke semangatnya. Kami berbaikan saat aku akan pergi... Ini terasa tidak adil. Saat kami baru saja berbaikan sebagai Ibu dan anak.


"Keadaan kami lebih baik Mom, ..." Aku menceritakan Hot Spring saja, agar dia tenang. Kissimmee juga tidak buruk, walaupun Orlando memang seperti kembali ke awal-awal kota perintis, tapi makanan sekarang jauh lebih baik, mungkin karena banyak kiriman juga.


"Benarkah, jadi tak seburuk apa yang kudengar?"


"Ada saat-saat kami memang makan seadanya Mom, tapi kami tak pernah kelaparan. Zona hitam pengungsinya lebih mengenaskan . Kami jauh lebih baik." Aku menenangkannya.


"Ternyata begitu. Baiklah. Setidaknya kalian memang di pusat komando sekarang. Pasti para Komandan utama itu perlu makanan banyak agar otaknya berjalan."


"Kau benar Mom. Tak usah khawatir oke."


"Baiklah, kau baik-baik disana."


"Mom, semoga aku bisa pulang secepatnya...aku merindukanmu."


"Mom juga merindukanmu. Tapi setelah mendengarmu membuat semuanya baik-baik saja. Ini sudah siang pergilah bekerja. Mom mencintaimu. Jangan sampai kau ditunggu James."


"Iya. Bye Mom..." Aku menutup teleponnya masih dengan rindu yang menggebu.


Mataku merembes lagi mendengar suaranya. Jika aku bisa cerita padanya aku menangis karena mengharapkan James yang terlalu baik itu. Tapi sudahlah, nanti aku akan terbiasa. Aku sudah tahu kebenarannya.


Aku kembali ke rutinitas pagi, memeriksa chart, menerima laporan, memastikan pasien dengan kondisi perlu diperhatikan mendapat penanganan. Mencoba menyibukkan diri, membuat diriku menerima kenyataan.


James sampai di sampingku memperhatikanku, aku tahu mataku merah, tambah parah karena telepon Mom membuatku meneteskan air mata.


"Kenapa matamu merah?" Tentu saja dia lanģsung berkomentar. Apa dia tak bisa memikirkan sendiri kenapa aku menangis.


Harusnya aku menghapus saja semua harapanku. Mulai sekarang aku harus mengatakan pada diriku sendiri tak usah berharap lagi.


"Jika aku bisa mengirimmu pulang akan aku lakukan." Walaupun begitu dia tetap akan jadi kakak terbaik di sampingku.


"Bicara apa kau. Ratusan ribu prajurit bertugas bertahun-tahun juga tak bisa kembali. Apa aku pahlawan perang yang meminta keistimewaan." Aku menertawakannya.


"Batalyon El Paso masih bertugas di tengah kebanyakan, tidak terlalu jauh, yah walaupun semuanya bertugas interstate dan tak bisa kembali. Tapi karena kau mengikutiku kau harus terlalu jauh ke sini." Dia malah membahasnya seperti dia melakukan kesalahan besar padaku.


"Aku tak apa James." Dia tak menjawabku. Tapi dia entah kenapa dia menerawang dengan pikirannya sendiri.


Mungkin aku harusnya bersyukur punya dia di sampingku walau dia hanya menganggapku adik. Jika dia tak bisa apa yang harus dipaksakan.


"Hei! Itu yang harus kau periksa pagi ini." James masih melamun, dengan chart yang dibiarkan tergeletak di meja. Dia kaget saat aku menegurnya.


"Oh oke." Kenapa dia pagi-pagi sudah melamun begini. Seperti ada masalah yang tidak dapat dipecahkannya.


"Kenapa kau?" Kuberikan chart padanya.


"Tidak. Aku hanya,... sudahlah. Sini biar kuperiksa dulu. Dimana Medina, aku juga perlu bicara dengannya." Dia mengambil chart yang ada di tanganku dan pergi dari depanku dengan cepat.


Kakak yang baik itu, kenapa dia pagi ini.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=