BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 5. Are You Okay 2


Kami harus melewati jamuan makan malam. Setelah pertemuan terakhir tadi selesai jam 5 sore. Besok pertemuan deal harga, aku harap aku bisa melewatinya dengan cepat, pikiranku sudah kacau sekarang.


Aku memesan heli standby besok, yang akan menerbangkanku ke perbatasan Sarnia, dan aku bisa mencapai Toronto lebih cepat.


Aku bertemu dengan Gillian yang mengamatiku dengan tatapan menyelidik. Dan aku berusaha keras untuk terlihat baik-baik saja.


"Selamat malam Tuan Gillian, terima kasih untuk makan malamnya." Aku memaksakan diri tersenyum saat berjalan keluar dari perjamuan, aku berhasil mempertahankan diriku terlihat baik-baik saja selama perjamuan dan mengobrol dengan banyak orang.


"Malam Nona Dugard. Kau baik-baik saja?" Dia berhenti berjalan membuat tamu lain berjalan di depan kami dan menjauh.


"Iya aku baik. Nampaknya anggota tim sudah menyelesaikan kesepakatan teknis, kita bisa maju ke perundingan awal kesepakatan harga besok." Ini harus selesai besok, aku tak bisa menunggu lagi.


"Kau sedang buru-buru?"


"Tidak, hanya aku pikir lebih cepat akan lebih baik."


"Jika ada yang harus kau selesaikan kau bisa meminta perundingan di tunda." Aku tak tahu kenapa dia selalu baik padaku, tapi selama in itulah yang terjadi, seakan dia adalah teman yang sudah mengenalku lama.


"Tidak apa. Kita akan lanjut besok."


"Apa kau memang berpikir kau baik-baik saja setelah tadi siang." Dia melihatku dengan tatapan tajamnya sekarang.


Apa yang harus kukatakan padanya? Ayahku sekarat dan aku harus pulang sekarang, kenapa dia tidak membuat ini berjalan secepatnya. Dia mempersulit ini semua. Aku menghela napas panjang.


"Tuan Gillian, aku tak tahu apa yang harus kukatakan padamu?"


"Dulu juga aku memberimu kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya, tapi kau memilih tidak mempercayai orang lain." Aku diam sekarang.


Jika dia mendengar ini kemungkinan perundingan ini akan batal. Jika aku pulang kemungkinan aku akan dalam masa berkabung. Jika aku tidak pulang, aku juga tak tahu apa aku bisa tiba tepat waktu. Mungkin saat aku kembali Dad sudah pergi...


Lidahku kelu memikirkan itu.


"Elizabeth... ada apa denganmu?" Kali ini dia memanggil namaku dan aku kehilangan tekadku.


"Ayahku kritis, sudah memakai alat bantu pernapasan. Mungkin dia ... " Aku tak sanggup melanjutkannya hanya air mataku menetes dan bahuku terguncang menahan tangis di depannya.


Dia mengela napas mendengarku bicara.


"Pulanglah, kenapa kau masih di sini. Kau akan menyesal seumur hidup jika tak pulang sekarang."


"Tapi..."


"Kita bisa menyelesaikan kesepakatan minggu depan. Heli mengantarmu ke Sarnia sekarang, ada unit standby di airport bersama dengan pilotnya di sana. Aku akan menelepon Sir David meminta perundingan di tunda." Dia langsung menelepon seseorang mengatur apa yang dikatakannya.


"Besok pagi aku akan menelepon Sir David. Sekarang pulanglah. Sopir yang akan mengantarmu sudah siap di bawah, cari Sersan Johnson di reception bawah..." Dia menepuk bahuku.


"Tuan Gillian." Dia melihatku masih dengan mata tenangnya.


"Hmm... "


"Terima kasih." Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih.


"Pergilah sekarang."


Aku pergi.


Pulang kembali ke Toronto, sampai ke rumah 4 jam kemudian. Masih diberi kesempatan untuk bertemu terakhir kalinya dengan Dad. Melepasnya dengan pantas untuk terakhir kalinya. Dan semua itu kembali karena Tuan Gillian memberiku kesempatan untuk kembali lebih cepat.


Aku tahu kami akan melepasnya, tapi siapa yang siap dengan perpisahan. Aku , Ibu, Albert dan Monica masih melepasnya dengan linangan air mata. Dulu dia masih ada walaupun dia tak bisa mengingat kami, tapi sekarang dia benar-benar telah menghilang.


"Mungkin lebih baik begini, Ayahmu sudah beristirahat dengan tenang." Ibu menyentuh Ayah untuk terakhir kali, dalam dua tahun ini dia telah setia merawatnya.


Kami berharap dia akam pulih tapi ternyata harapan kami tidak dikabulkan. Dengan kondisinya yang terus memburuk kami rasa ini yang terbaik untuk semuanya.


"Dad sudah memberikan yang terbaik buat kami, memiliki Mom dan Dad adalah anugerah yang paling indah yang kami miliki." Aku dan saudaraku memang beruntung kami memiliki orang tua yang begitu kami banggakan.


Akhirnya pemakaman selesai. Albert sekarang menjadi pimpinan keluarga ini mengantikan Ayah sepenuhnya, tadinya dia pun memang sudah memegang semua pengaturan perusahaan.


Kami semua berusaha hidup dengan babak yang baru.


"Gillian minta kau ke Michigan minggu depan untuk dealnya. Kenapa kau tak menelepon Paman kalau Ayahmu kritis. Bagaimana mungkin Paman mengharuskanmu tinggal di sana. Paman tak sekejam itu padamu."


Paman David yang datang ke pemakaman, sahabat Ayahku dari masa pelatihan tentara. Dia memelukku sebagai tanda berduka cita, selain Dad, aku adalah orang yang sudah dianggap sebagai putrinya sendiri.


"Papa pernah bilang tugas harus diselesaikan Paman. Aku hanya teringat kata-katanya. Kami sebenarnya sudah tahu dari dokter, berkali-kali mengatakan kondisinya akan menurun dengan segera dalam waktu dekat. Saat aku meninggalkannya kondisinya masih stabil. Kupikir aku bisa menyelesaikan ini."


"Gillian bilang dia sudah memegang orang pemerintah Brazil, proyek itu tak akan lolos, tinggal dana yang kita akan masukkan. Dia sudah punya penawarannya, tapi dia bilang dia ingin membicarakan sebuah syarat denganmu, aku tak tahu apa maksudnya, tapi dia bilang ini berkaitan dengan sebuah cabang perusahaanmu."


"Ohh... Aku tak tahu perusahaan apa yang dia maksud. Kami belum bicara sama sekali."


"Tak apa itu kita pikirkan minggu depan saja. Kau sudah membuat rencana pemakaman, Miko akan mengatur pemakaman militernya. Kau tinggal bilang kau mau kapan."


"Iya Paman, terima kasih."