
"Tiup lilinnya." Sesudah makan malam kami semua berkumpul untuk merayakan ulang tahun James. Dengan tumpukan kue cupcakes dan di hiasi lilin kecil di atasnya.
"Ini hari keberuntungan untuk hanya terserempet peluru." Dia benar-benar mengatakan itu untuk hari ulang tahunnya. Semua orang tertawa.
"Untunglah kau hanya terserempet, jika tidak kita tak akan punya kue hari ini." Tuan Adam dan walikota menjawab harapannya dengan sama bercandanya. Padahal dia bukan hanya terserempet peluru.
Perayaan kecil itu selesai. Semua orang beristirahat, kue ulang tahun dibagikan ke semuanya.
"Aku mau keluar dari kamar ini."
"Keluar kemana?!" Aku hampir berteriak saat dia melangkahkan kakinya.
"Kembali ke kamarku."
"Kau baru selesai operasi. Kenapa kau tidak di sini saja."
"Ini hanya mengeluarkan peluru di bahu, jika medan perang mereka melakukannya tanpa bius."
"Apa masalahmu jika tetap di sini saja."
"Aku tak mau di sini. Tanya dirimu kenapa kemarin kau tak mau dirawat di bangsal. Baju pasien ini menyebalkan. Bisakah kau ambilkan aku kursi roda saja." Dia menggunakan gaun pasien yang seperti daster panjang, karena dia tinggi baju pasien itu diatas lututnya, nampaknya tak nyaman baginya berjalan seperti itu.
Aku tersenyum padanya. Itu hal yang lucu. Kenapa? Dia malu para perawat sipil itu memandangnya begitu rupa.
"Tootsie,..."
"Kenapa dengan gaun pasien itu, itu sexy. Kau bisa menggoda perawat dengan penampilanmu itu." Aku menggodanya. Tak perduli apa pendapatnya.
"Kau sengaja bukan." Senyumku tambah lebar. "Tootsie, bisa aku minta tolong ini memalukan." Sekarang dia memelas. Dia tak suka dijadikan objek kekaguman dan sangat peduli dengan reputasinya di sini nampaknya.
"Fine-fine, tunggu di sini." Akhirnya aku menurutinya karena tak tega. Mengambilkannya kursi roda dan mendorongnya ke kamarnya.
"Duduklah, aku akan mendorongmu ke atas."
"Dok, kau mau kemana?" Dua orang perawat mencegatnya.
"Aku mau istirahat di kamarku saja."
"Kenapa tidak di sini saja, kami bisa membantumu."
"Tidak apa-apa. Aku bisa sendiri, terima kasih. Tapi aku akan baik-baik saja. Jen, ayo."
"Perintah boss." Aku meringis pada perawat yang kehilangan kesempatan untuk jadi perawatnya boss ganteng ini.
Kami sampai ke kamarnya kemudian. Dia punya kamar pribadi sebagai pimpinan tim medis.
"Kubantu?" Untuk sementara dia harus berhati-hati dengan pergerakan di lengan kirinya, jika tidak jahitan baru itu akan terbuka. Dia terlihat ragu dengan tawaranku tapi menyadari dia tidak punya pilihan selain menerima bantuanku.
"Kenapa kau? Takut denganku? Aku tidak akan merabamu dengan sengaja..." Aku senang dia tidak berdaya.
"Kau menikmati ini bukan." Aku tertawa dengan pertanyaannya.
"Aku bukan gadis 17 tahun James. Apa yang bisa terjadi selain aku melihat sedikit. Kau sangat berlebihan." Aku tahu dia tak punya pilihan, mungkin dia takut Kakakku bangkit dari kuburnya dan menghajarnya, pikiran itu membuatku terus tersenyum lebar. "Dimana bajumu."
"Lemari itu,..." Dia menunjuk sebuah lemari.
Aku mengambil kemeja kancing depan yang nampaknya nyaman karena ini bahannya seperti bahan kemeja liburan.
"Ini saja? Ini lebih mudah dipakai daripada t-shirt."
"Iya itu boleh." Aku mengambil boxer yang agak panjang kemudian.
Dia duduk di tempat tidur dan masuk ke selimut, dia pintar juga. Dia pasti berkeras tak mau aku membantunya memakai bawahan.