BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 96. Forgive Us


POV Eliza



Setelah aku pergi begitu saja ke Washington DC, dan kembali, Monica menemuiku beberapa hari kemudian. Dia tiba di depanku di apartment setelah aku pulanh kantor dan tersenyum manis.


"Kakak tersayang..." Aku melihatnya.


"Kau pasti di kirim Mama tersayang ke sini." Dia ganti tersenyum lebar.


"Mama khawatir dia membuatku terlalu marah. Dia mengirimku melihatmu. Kau nampaknya bertengkar dengannya cukup panjang dari yang kudengar sampai kau keluar kota? Kau baik-baik saja, apa yang Mama katakan padamu?"


"Aku lelah menuruti keinginan mereka, apa mereka pikir hatiku bisa diatur menuruti keinginan mereka."


"Apa Albert juga bicara hal yang sama padamu?"


"Albert, dia pernah mengatakan padaku untuk mempertimbangkan tapi dia tak memaksa seperti Mama."


"Lalu bagaimana Andrew sendiri?" Jika Monica bertanya soal Andrew, aku merasa bersalah padanya sampai sekarang.


"Dia terlalu baik. Kadang aku merasa jika mungkin dia mengatakan ini sebelum aku dan Gilbert bersama mungkin aku akan menjadi istrinya sekarang." Mobica mengangguk maklum dengan kata-kataku.


"Ibu nampaknya menyesal kau sampai pergi begitu. Jika tidak dia tidak akan bilang padaku untuk menanyakan keadaanmu."


"Ya sudah, asal dia tak memaksaku lagi. Aku hanya ingin dia melihatku sebagai orang yang punya hati dan cintaku sendiri, walaupun di sisi lain aku tahu Andrew adalah orang yang sangat baik, tapi hatiku sudah punya pilihan sendiri."


"Berikan saja dia padaku kalau begitu, dia memang terlalu baik." Aku langsung menoleh ke Monica yang tersenyum sendiri.


"Apa kau serius dengan perkataanmu." Adikku ini menyukai Andrew? Aku tak pernah menyadarinya. Monica melihat ke arahku yang terlalu penasaran.


"Aku serius, tapi Andrew tidak pernah menyukaiku tipe-tipe sepertiku. Aku tak akan pernah jadi gadisnya kurasa." Dia menghela napas panjang. Aku tahu perasaan itu, tadinya kupikir Gilbert tak akan memandangku juga, apalagi setelah aku membohonginya mentah-mentah dan menaruh nyawa bawahannya dalam bahaya.


"Tidak, aku hanya memperhatikan siapa saja yang pernah mendekatinya, mungkin aku pernah menggodanya, tapi seperti yang kubilang, aku sama sekali bukan tipenya. Dia menganggapku cinderella bersepatu kaca yang high maintenance dan sulit dipuaskan secara emosional alias putri dengan banyak tuntutan. Dia menyukai tipe-tipe penakluk dunia pintar sepertimu, gadis model sepertiku terlalu dangkal untuknya." Ternyata adikku ini benar menyukai Andrew.



"Itu mungkin hanya perasaanmu. Mungkin kau bisa mengatakannya dengan terus terang kau menyukainya. Mungkin dia bukannya tak menyukaimu seperti yang kau katakan hanya dia menganggap kau adik Albert dan adikku makanya dia tidak berani. Lagipula kau jauh lebih cantik dariku, kau bisa memancingnya seperti kau membuat jatuh Kulkov dalam satu kali pertemuan." Sekarang Monica tertawa.


"Kakak, Alexie Kulkov dan Andrew Davies adalah orang yang sangat berbeda. Kulkov sialan itu hanya tertarik dengan setiap wanita cantik. Lihat saja assistennya, dia hanya berpikir aku akan menarik untuk ditaklukkan, semangkin aku menolak dia semangkin penasaran.Lalu setelah aku menerimanya rasa penasarannya akan hilang. Cuma begitu. Bangsaţ Kulkov itu tidak perlu kau sebutkan lagi." Dia langsung mengecap Kulkov yang terburuk yang bisa dia pikirkan, dalam hati aku merasa kasihan juga pada Kulkov.


"Ohh dia sejelek itukah." Aku tertawa mendengar penilaian adikku.


"Jelas dia sejelek itu. Tapi orang yang kuharapkan tidak melihat padaku. Ini menyebalkan." Aku melihatnya mencebikkan bibirnya.


"Hmm... mungkin kau hanya perlu mencoba bicara ke Andrew. Mendekatinya lagi dan bicara padanya. Perjuangkan dulu Monica, jika kau tak mencoba mana kau tahu hasilnya. Aku saja berusaha mendekati Gilbert, membuatnya mengakui dia menyukaiku dan akhirnya bersedia berjuang untukku. Kau harus melakukan itu juga." Aku tentu saja setuju jika Monica berpasangan dengan Andrew, Andrew orang yang baik dan jika dia mencintai seseorang dia akan mengusahakan yang terbaik juga untuknya.


"Benarkah Kakak, aku iri sekali padamu. Kau punya dua orang pria yang rela mati untukmu. Mereka sangat murah hati padamu." Kata-kata Monica membuatku tersenyum lebar dan tertawa.


"Hubungan kami banyak rintangannya Monic sayang, cobalah mendekati Andrew, aku akan mendukungmu, atau nanti kucoba mendekatkan kalian, dia mungkin tak pernah mempertimbangkanmu karena kau adikku, jika kau serius menggodanya mungkin dia tergoda juga. Dia hanya laki-laki biasa, semua laki-laki bisa digoda secara visual dulu. Yang penting kau harus berusaha dulu."


Monica melihatku yang menyemangatinya dengan bersemangat.


"Berusaha dulu... baiklah." Dia dengan sedikit ragu menyetujui usulanku.


"Ity semangat yang ingin kudengar." Aku tersenyum senang. "Tenang saja kakak akan membantumu..Kau pasti berhasil."


"Semoga kakak benar."


"Andrew akan jadi milikmu."


Dia masih terlihat tidak yakin tentu saja, tapi akan kuusahakan yang terbaik untuk membantu adik tersayangku ini. Andrew, kumohon lihatkah kemari, adikku yang cantik ini menyukaimu.