BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 131. Family Affair 3


"Jen, pasien yang melahirkan kemarin ingin bicara dengan walikota. Dia bilang ingin meminta perlindungan di sini." Sudah kuduga ini akan terjadi. Mereka lebih memilih mendapatkan hidup mereka di kota aman dan berusaha sendiri mendapatkan kehidupan mereka.


"Aku bicara pada Dokter James sebentar." Aku tak tahu bagaimana mengatur ini.


Aku menemui James di ruangannya.


"James..." Aku mulai mengatakan apa yang terjadi kemarin di bangsal bersalin.


"Hmm, jika begitu kurasa harus putrinya sendiri yang tegas pergi. Aku juga tak tahu bagaimana peraturannya. Akan kutanya pada Roland. Kapan pasien keluar?"


"Jika tak ada komplikasi harusnya besok dia diperbolehkan pulang, tapi kasihan juga jika dia harus berpisah dengan bayinya, karena Kakek bayi itu tidak mau menerima cucunya dan hanya ingin membawa putrinya."


"Nanti akan kuberikan jawabannya segera setelah makan siang."


Serba dilema, jika pergi walaupun dengan rumah seadanya dia bisa merawat bayinya. Jika dia pergi dia kondisinya terjaga tapi bayi itu bagaimana nasibnya tanpa Ibu. Kami sangat terbatas dengan susu formula sekarang ini. Entah dimana mendapatkannya. Kami bisa membantu bayi yang baru lahir di sini. Merawatnya di sendiri pengungsian tak akan bagus. Mereka tak punya apa-apa


Aku menemui dokter Deborah yang menanganinya.


"Deborah, nampaknya pasienmu cukup bermasalah."


"Dia stress dengan orang tuanya. Ayahnya ingin membuang bayinya. Dan tidak mengizinkan dia merawatnya.


"Lalu?"


"Ayah bayi berusaha mendapat tempat tinggal untuk mereka, sekarang dia pergi bertemu walikota untuk meminta bantuan. Aku menahannya di rumah sakit tidak dibawa pulang oleh Ayahnya, dia memohon tidak ingin pulang dengan Ayahnya. Kasihan sekali...." Secara umur memang gadis itu sudah tidak bisa ditahan Ayahnya lagi dan nampaknya Ayah sang bayi berusaha agar mereka bisa menjadi keluarga.


"Neneknya sebenarnya kasihan dengan putrinya, dan juga cucunya. Tapi suaminya seperti mau membunuh orang. Aku mengusirnya keluar agar pasienku tak tambah stress mendengar Ayahnya marah-marah sepanjang hari ini."


"Kau tak tahu bagaimana kelakuan Ayahnya kemarin dia mau menerobos kamar bersalin dan menyeret kekasih anaknya karena kau di dalam."


"Padahal kekasih anaknya itu nampaknya orang yang bertanggung jawab, kudengar dia manager pertanian, dia punya kemampuan untuk di tawarkan ke walikota. Setidaknya dia tahu bagaimana mengatur farm yang berjalan dengan baik."


"Iya aku kemarin mendengar dia manager farm."


Aku masih melihat pria itu marah-marah di depan, nampaknya bersama anaknya lain. Anaknya nampaknya juga tak ingin terlalu banyak menanggapinya.


Aku bertemu James setelah makan siang.


"Bagaimana kasus yang kukatakan padamu."


"Tadi pria yang bernama Dixon itu menghadap walikota, saat aku bicara dengannya siang ini, dia meminta support, dia menawarkan dirinya bekerja memanage pertanian, dia punya pengalaman dan pendidikan memadai untuk melakukannya. Sebagai imbalannya dia hanya minta tempat tinggal untuk anak dan pasangannya dan orang yang akan dibawanya, mereka sudah membicarakan ini sebelum kelahiran karena mendengar ada kota aman tak jauh dari mereka."


"Lalu bagaimana walikota menanggapinya?"


"Dia pria yang serius, walikota setuju dengan permintaannya jika wanita itu mengatakan sendiri padanya dia ingin ikut dengan Dixon. Wanita dengan umur seperti itu sudah lepas dari tanggungan orang tuanya. Dia juga akan membawa orang yang akan membantu mengontrol aktivitas pertanian, walikota jadi bisa mengandalkannya untuk mengawasi lahan pertanian."


"Well, dia nampaknya pria yang bertanggung jawab." Aku jadi mengingat Fred. Dan juga seperti juga sahabat kakakku ini.