BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 83. Come Back 4


"Ya kau benar, kita bisa dikatakan beruntung."


"Kurasa di satu titik kita tak layak tidak bersyukur dan merasa bersedih."


"Kota ini memang membuat segalanya lebih baik. Di sini kita menemukan pasien kebal, kurasa ini akan jadi titik balik. Semoga saja semuanya bisa berangsur menjadi normal kembali. Hidup bersyukur seperti ini membahagiakan."


"Bersemangatlah."


"Ayo kita makan malam, mereka pasti sudah menunggu." Hari ini aku makan malam dengan teman-teman seperjuangan sejak pandemi ini, James, Susan dan D'Angelo, Noah, dan tentu saja -nya yang lain. Kami duduk bersama satu meja panjang makan hidangan sederhana, tapi merasa bersyukur dan bisa tertawa membicarakan hal-hal sederhana di sekeliling kami.


"Kita punya pasangan baru hari ini." James membuat pengumuman. "Sayang tak ada bar, kita tak bisa membuat mereka membayar apapun sekarang." Aku dan Andrew tertawa.


"Semoga kita suatu saat bisa melihat anggur lagi di depan mata kita. Mungkin champagne akan muncul lagi sebelum hidup kita berakhir, ... Saat itu mungkin kita bisa merayakan hari ini, orang pertama yang kebal sepenuhnya terhadap parasit di temukan. Mungkin tahun depan kita sudah bisa mengobati siapapun yang terkena parasit ini. Dan dunia kembali berangsur normal, semoga kota ini bisa menolong banyak orang." Semua orang di meja ini berharap begitu.


"Walikota Andrew, mungkin mereka belum tahu kita menemukan yang kebal sepenuhnya. Setiap orang yang mendengar ini merasa ini adalah sepenuhnya cahaya di ujung lorong. Mungkin kau perlu membuat pengumuman untuk menaikkan mental prajurit." James mengusulkan kepada kami. Kurasa itu benar, ini adalah sesuatu yang harus diberitahukan kepada semua orang. Manusia masih punya harapan. Disini berkumpul sebagian besar garda depan pejuang.


"Baiklah, kurasa kau benar Dokter James."


"Semuanya aku punya pengumuman..." Jadi sekarang Andrew naik ke atas meja panjang itu dan mengumumkan berita bagus itu ke semua orang. "Kita disini berjuang membuat kota aman, menyelamatkan banyak orang, mungkin tahun depan kita bisa berkumpul lagi dengan semua orang yang kita cintai, jadi jangan menyerah semuanya!"


Semuanya menyambut pidato itu dengan bersorak. Kami semua akan memandang besok pagi berbeda.


"Pidatomu bagus..." Aku memujinya saat kami hanya berdua saja sekarang dan aku sudah terperangkap dalam lengan kekarnya.


"Kau sedang merayuku sayang?"


"Apa kau perlu di ray*u?" Aku merang*kul tengkuknya. Membawa bibir*nya mendekat. Sebelum dia yang mendekapku lebih erat.


"Aku tak bisa tidur memikirkan perjalanan pulangmu semalam, merasa aku bersalah mengabulkan permintaanmu. Kuharap kau tak pergi lagi ke zona hitam."


"Kau harus percaya pada kemampuan menilaiku sedikit . Kita bahkan pernah bertempur bersisian." Dia menghela napas dan memelukku.


"Di awal pandemi aku banyak kehilangan keluarga dekat yang kukenal di kota lain. Bukan tak percaya, tapi merasa bersalah tak bisa melakukan sesuatu lebih cepat. Apalagi ini adalah kau."


"Kenapa kau memutuskan untuk menerimaku."


"Saat aku di kepung di jalur utama itu, aku memikirkanmu. Kupikir aku menyia-nyiakan Tuan Walikota. Aku akan menyesal jika tidak menerimamu yang sudah begitu baik padaku. Setidaknya aku tak menyia-nyiakan kebaikanmu. Walau aku tahu mungkin setengah dari ini awalnya aku ingin melupakan Fred. Maafkan aku terlalu jujur."


"Tak apa aku tahu bagaimana kau menangisinya..Kau akan melupakannya cepat atau lambat, karena aku yang ada di depanmu sekarang." Aku menciumnya untuk perkataannya itu.


"Apa kau menyukaiku setidaknya sayang."


"Aku menyukaimu tentu saja, semua orang tahu kau itu Walikota terkeren. Aku beruntung mendapatkanmu secara cuma-cuma." Aku hanya bicara soal malam terakhir kami bersama.


"Apa maksudmu secara cuma-cuma Nona. Aku bukan gigolo yang bisa dibayar memuaskanmu." Aku terkikik.


"Aku tak bermaksud begitu. Hanya aku tak tahu kenapa aku bisa beruntung mendapatkanmu tanpa berusaha apapun Tuan Walikota."


"Nona peraw*at nak*al, lain kali pakailah pakaian perawat putih itu, kau akan terlihat sangat manis dengan itu." Sekarang tangannya membuat tub*uhku merem*ang, ciumannya berpindah dan membuatku mende*sah tertahan.


"Aku tak pernah memakai seragam putih, seragamku hijau dan biru. Dan tidak ada rok, tidak ada yang bagus dengan rok itu, sama sekali tidak nyaman, tidak ada perawat dengan rol sekarang, kau terlalu banyak menonton yang tidak benar." Tubuh kekar ini milikku, sesuatu yang membesar di bawah sana itu membuatku pinggulku tak tahan untuk tak bergerak."


"Kau mungkin benar. Tapi kau akan terlihat bagus dengan kostum tak masuk akal itu." Dia memegang pinggangku menekannya sehingga aku lebih merasakannya sekarang. Tapi itu tak cukup, sampai kulit kami bersentuhan.


"Ehm...lagi." Aku suka bagaimana dia menggodaku. Membuatku rileks dan tak bisa mengendalikan diri memeluknya.


"Kau menyukainya Nona perawat, memohonlah dengan benar..."


"Tuan Walikota, aku ingin melihatnya masuk." Segitiga lekuk sempurna itu terlalu sulit di tanggung.


"Kau selalu tak sabar gadis nakal."


Dan waktu berlalu begitu sempurna malam itu dalam pelukannya. Aku menyukai saat bersama Tuan Walikota ini. Dia ho*t, tak tertanggungkan.