BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 43. Ice Cream Night 1


Sementara kelompok itu menatap kami pergi. Hatiku melambung karena dia membelaku. Dia merangkulku di depan yang lain sambil membawaku pergi. Dia melakukan ini tanpa kuminta.


Mungkin karena di masa lalu aku membelanya dari teman-temannya itu. Dan sekarang dia melakukan hal yang sama padaku.



Aku sedikit bersandar di lengan jasnya saat kami berjalan. Wajahnya yang tenang tak menampakkan riak apapun. Dia membelaku seperti sudah seharusnya dia harus melakukan itu. Dan tidak memgharap aku harus membalasnya.


Jika kau tak terlalu kenal dengannya, dia seperti seseorang dengan sisi serius yang tidak bisa kau tembus, sehingga kau merasa kau harus hati-hati bicara dengannya. Tapi dariku, aku merasa dia teman paling loyal dan murah hati yang pernah kukenal. Aku pernah bicara dengan Anna, dan dia bilang jika Alexsey adalah teman yang sangat memperhatikan orang di sekelilingnya, aku tahu itu benar sekarang.


Rasanya aku mendapatkan kehormatan untuk merasa dia akan berdiri di sampingku tanpa kuminta. Dan tidak akan membiarkan Anna menanganiku seperti gadis lain. Tapi dia pernah bilang sendiri cinta tidak pernah menjadi prioritas untuknya.


Tapi apa dia akan mengubah itu untukku? Apa aku bisa menjadi prioritas untuknya.


"Terima kasih." Aku menggandeng tangannya sambil tersenyum setelah kami keluar dari ruangan pertemuan.


"Kuantar kau pulang." Dia bersikap biasa saja dengan terima kasihku.


Dia tak pernah melanggar batas teman kami sampai sekarang. Tak pernah memintaku makan malam dengannya. Tak pernah mengirim pesan atau menelepon jika tidak ada yang penting. Kiriman bunga dengan kata-kata yang sangat biasa. Tapi entah mengapa aku tahu jika aku meminta apapun dia akan mengusahakannya.


Sekarang berjalan dengannya terasa nyaman tanpa rasa curiga dan takut. Aku bilang aku tak akan jatuh cinta padanya. Tapi bagaimana jika aku tak bisa menahan rasa tersanjung seperti ini. Aku mengulum senyumku mendekat ke mencium wangi parfumnya yang kusukai.


"Mana Anna? Tak pulang bersamamu?" Tadi dia bersama Anna menyambut para tamu, sementara aku berpasangan dengan Andrew, pada dasarnya aku mengantikan posisi Eliza.


"Anna, hmm... ada urusan dengan Andrew."


"Ahh, ada urusan." Nampaknya Andrew dan Anna jadi tak terpisahkan lagi sekarang. Banyak hal yang mereka harus selesaikan secara 'bersama-sama'. "Kekasih baru yang sedang jatuh cinta nampaknya."


"Kukira begitu."


"Kenapa kau nampaknya punya masalah dengan itu?"


Dia meneliti raut wajahku sekarang.


"Tidak aku tidak punya masalah apapun, kenapa aku harus punya masalah." Aku sudah menyerah soal mengejar Andrew, tapi aku tetap masih punya masalah, aku iri kepada mereka. Aku menginginkan cintaku sendiri. Menginginkan seseorang untukku sendiri.


Kapan aku bisa merindukan seseorang lagi. Punya seseorang yang kulihat setelah aku membuka mataki. Lamunanku terlalu jauh, lengan yang kupegang ini terlalu hangat, entah darimana ada kupu-kupu di sekelilingku, mengelitik kulitku dengan sayap mereka, perasaan tersanjung karena ada seseorang yang membelamu ini terlalu indah untuk di tolak.


"Ada apa? Kenapa kau diam sekali, masih memikirkan perkataan itu? Kau mau jalan-jalan." Teman baik hati ini, dia menawariku jalan-jalan. Seakan aku anak umur belasan tahun yang butuh jalan-jalan untuk menyembuhkan hatiku. Dia bersikap sangat manis, aku tak tahu seorang Alexsey yang tak pernah memasukkan wanita dalam prioritasnya ini bisa bersikap begini manis.