BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 64. Room 612


"Jangan bodoh kau pimpinan walikota ada banyak orang bergantung pada keputusanmu." Aku jadi memarahinya.


Dia tersenyum.


"Aku tahu kau akan mengatakannya, kau selalu memikirkan orang lain sebelum dirimu sendiri."


"Itu memang benar, jangan punya pikiran kita di dunia normal, semua orang berjuang untuk hidup mereka, kau harusnya tak usah memikirkan hal-hal seperti itu, salah-salah kredibilitasmu sendiri yang jatuh." Aku masih berusaha memarahinya." Dan dia tetap tersenyum melihat aku memarahinya. "Kenapa kau tersenyum seperti itu, yang aku katakan benar semuanya."


"Tidak, aku hanya senang ada seseorang yang memikirkan kredibilitasku. Sepertinya pilihanku tepat."


Aku menatapnya dan kehabisan kata-kata.


"Terserah padamu apa yang kau katakan, ini sudah malam. Kau mau vitaminnya atau tidak." Aku masih bertahan memarahinya dan tidak memberinya senyum.


"Mau tentu saja. Ayo kita kembali." Kami berjalan disaksikan oleh beberapa orang.


"Apa pengungsi ada yang menjadi pengagummu?"


"Kenapa memangnya?"


"Entahlah aku takut dijadikan target kecemburuan. Pengunsi yang sudah berbulan-bulan di luar mungkin punya semacam kecenderungan kekerasan. Mungkin salah satunya tak suka melihat kita." Dia berpikir soal apa yang kukatakan. Itu bukannya tak mungkin bukan.


"Kurasa kau terlalu berlebihan, tapi ya mungkin itu ada benarnya juga, jika kau khawatir baiklah, kita tak akan berjalan-jalan seperti ini lagi. Tak baik juga mengumbar kemesraan di situasi sulit. Jadi kita sembunyi-sembunyi saja maksudmu." Aku meringis dan melipat tanganku di depan dada, walikota ini sedang menjebakku atau apa?


"Sejak kapan aku mengeluarkan kalimat aku setuju jadi kekasihmu sembunyi-sembunyi?" Dia tertawa sekarang.


"Nona perawat yang kejam, kau tak memberiku kesempatan sedikitpun rupanya."


"Memang tidak, sejak kapan aku memberimu kesempatan curang."


"Jangan terang-terangan seperti ini oke. Ini tidak baik. Bagiku atau bagimu."


"Iya aku mengerti maksudmu."


Kami sampai ke farmasi kemudian. Aku memberikannya vitamin yang harus dia minum.


"Lebih baik ini di minum besok, ada kafein di kandungannya, mungkin bisa membuatmu tak bisa istirahat, bagaimanapun istirahat yang baik lebih penting."


"Mengerti Nona Perawat." Aku tersenyum akhirnya ketika dia memanggilku Nona Perawat. Dia menatapku seakan senyumku itu berharga baginya.


"Aku lebih senang kau memanggilku Nona Sniper cadangan." Giliran dia yang meringis.


"Ohh jangan khawatir aku akan mengingat profesimu yang itu." Aku membalas senyumnya padaku.


"Pergilah istirahat Tuan Walikota."


"Ya selamat malam jika begitu. Datang saja ke kantorku jika kau mau bicara, ke kamarku pun boleh. Nomornya 612. Tenang saja kamarku aman, jika kau tak mau tak akan terjadi sesuatu." Aku tak percaya dia memberiku nomor kamarnya. Dia mengatakan itu seperti bicara persoalan ayo makan malam.


"Kau..." Aku menunjuknya dan bersiap mengomelinya.


"Selamat malam." Dia berlalu pergi sebelum aku mengomelinya lagi. Menutup pintu secepat angin berlalu. Sebelum kepalanya menyembul lagi dari balik pintu. "Aku hanya bercanda..Tapi itu boleh juga kau anggap serius..." Dia tertawa dan menghilang. Aku ingin melemparnya supaya dia pergi saja.



Kenapa aku malah langsung mengingatnya. Aku pasti sudah gila.