BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 82. Come Back 3


Aku kembali ke unit gawat darurat setelah makan siang. Ada beberapa pasien tapi tidak ramai, beberapa perawat lain menyapaku. Aku belum in-charge penuh lagi, kuupayakan membantu mereka.


"Pengungsi yang baru datang ada yang masuk ke sini?"


"Ohh itu sedang di tangani Dokter James, baru masuk ke bangsal periksa. Ada banyakkah masuk?"


"Tidak kami hanya membawa 15 orang tadi. Tapi aku tahu merasakan kengerian zona hitam sekarang." Aku bercerita bagaimana kami hampir di sergap ribuan infected di jalur utama.


"Itu mirip kota ini sebelum prajurit membersihkannya menjadi zona aman Jen, biasanya laki-laki fari atas mengendap-ngendap ke kota ini untuk mencari persediaan makanan. Tapi sejak kami bisa menanam beberapa panenan di atas dan berburu di gunung mereka jarang turun. Senang melihat kota ini sudah hidup lagi. Rasanya kembali ke rumah..."


"Aku belum pernah di sergap sebanyak itu, baru kali ini ..." Beberapa orang terlibat sekarang dalam percakapan menceritakan pengalaman mereka.


James keluar kemudian. Nampaknya sudah selesai memeriksa gadis kecil yang tadi ikut bersama kami.


"Jen, kau sudah kembali? Si kecil ini perlu istirahat yang baik sebentar. Kau yang membawanya kan? Ibunya bilang kau sudah memberikan obat padanya. Masukkan dia ke kamar perawatan Jen." Ibunya menyapaku.


"Iya, tapi itu baru kemarin, mereka sudah menunggu jam 10 pagi di jalanan tadi pagi. Nyonya, kau bisa mengambil makanan untuknya. Kutunjukkan padamu dapur umumnya..." Aku sudah sibuk lagi sekarang.


"Selesai dengan konsultasimu?" James tersenyum padaku.


"Aku tak punya ilmunya, aku hanya bisa mendengarkan dan memberi mereka perfektif lebih baik. Kadang aku tak tahu apa itu benar dilakukan atau tidak. Kadang itu berhasil kadang tidak..."


"Kau sudah melakukan hal yang benar, setiap orang perlu perfektif. Kau tahu kota ini entah kenapa bisa merubah perfektif, aku juga hanya tahu sedikit soal konsultasi psikologi. Aku hanya ingat pelajaran dasar... Tapi mendengarkan seorang bercerita itu adalah sesuatu yang benar dilakukan. Itu hanya psikologi dasar yang kita bisa lakukan dengan sepenuh hati." Aku melihat padanya sekarang.


"Dan dibanding beberapa bulan lalu perfektifmu banyak berubah D*ickhead. Aku bangga padamu." Aku menepuk bahunya, dia tertawa lepas.


"Aku terkena banyak air panas di sini. Otakku mungkin sedikit mencair..." Aku meringis mendengar kata-kata itu.


"Itu bagus. Setidaknya kau punya empati lebih bagus sekarang."


"Kurasa bukan aku saja yang berubah, seseorang mengambil keputusan merelakan sekarang. Kau punya kekasih sekarang." Aku tersenyum kecil.


"Mungkin benar kata Ibunya aku harus realistis soal ini. Menyimpan kesedihan tidak baik. Sudah hampir setahun, jika dia bisa melewatinya tak mungkin dia melupakan kami. Jika tidak aku hanya bisa berharap dia sudah bahagia tapi mungkin bukan di sini. Dan mungkin aku sekarang menyadari diantara banyak hal hidupku mungkin bisa dikatakan beruntung. Aku kemarin merasakan melewati zona hitam, dikepung ribuan infected, merasakan nyawa kami di ujung tanduk, mungkin mereka yang masih terjebak di zona hitam harus berjuang mencari makanan. Kau dan aku bisa dikatakan beruntung disini, walaupun semua dari kita makan seadaannya tapi ada makanan dan aman. Bukankah begitu?"