BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 84. Cheers Up Tootsie


"Kenapa kau?" Sebuah suara membuatku menoleh.


"Tidak." James yang ternyata muncul dan duduk di sampingku. "Hanya sedang sedih." Aku mencoba menghapus air mataku.


"Apa yang membuatmu sedih? Fred lagi atau Andrew kali ini? Jika Fred lagi akan kukatakan kau bodoh, tapi jika Andrew aku bisa menghajarnya untukmu." Aku mau tak mau tertawa dalam sisa tangisku.


"Masalahnya tidak sesederhana itu. Jika aku dihadapkan pada pilihan yang sama mungkin aku juga akan memilih yang lama." Kuceritakan apa yang terjadi. Dia tersenyum.


"Kurasa kau terlalu banyak berpikir. Andrew belum mengatakan apapun. Kenapa kau sudah menganggap pasti seperti itu. Jangan langsung berpikir mendahului yang belum terjadi."


"Benarkah, kurasa aku tidak salah..."


"Jangan berpikir terlalu banyak. Kau tidak tahu apa yang dia pikirkan sama sekali."


Aku diam sekarang. Pikiranku masih tetap sama, dengan kedatangan wanita itu semuanya akan berubah.


"Masuk ke kamar dan beristirahatlah. Tak ada gunanya kau menangisi hal yang tidak dan belum terjadi." Laki-laki memang tak pernah mengerti intuisi wanita.


"Kalian memang tak akan pernah mengerti." James menghela napas mendengarku.


"Kau mau aku bicara dengannya?"


"Tidak. Ini urusan kami...Kau tidak bisa membantuku. Aku hanya ingin sendiri James, tak apa aku akan baik-baik saja."


"Ya sudah, aku juga belum mengantuk kutemani kau di sini." Dia menengadahkan kepalanya menatap bintang di atas sana. Aku diam saja duduk bersamanya.


"Jika dia memang seperti katamu. Dia akan kembali ke gadis itu apa yang kau akan lakukan." Setelah beberapa saat dia bertanya.


"Aku sedang menyiapkan diri, menangis di sini. Mungkin besok aku akan lelah menangis dan menerimanya lebih damai. Aku juga tak bisa melanjutkan hubungan kami, jika dia terbayang oleh wanita itu. Jadi aku lebih baik berdamai dengan kenyataan. Karena di bayanganku mungkin jika Fred tiba-tiba muncul di sini. Aku juga akan ... Kau tahu, memilih hal yang sama. Aku mengerti sudut pandangnya." Sekarang aku tidak menangis lagi. Hanya duduk di samping James dan berdiam diri. "Kau tahu setelah beberapa waktu masalah cinta tak menjadi sesuatu yang harus di pandang terlalu serius."


"Kau tidak akan mencoba memperjuangkan hubungan kalian." Aku menggeleng.


"Tidak James, untuk apa. Biarkan dia sendiri yang memilih. Masalah kita sudah banyak, buat apa menambah masalah yang tidak perlu. Hidup normal dan tenang adalah satu-satunya yang diperlukan saat ini."


"Tiba-tiba aku hanya ingin infected menghilang dan aku bisa kembali ke El Paso, bertemu Ibuku dan melihat kota itu lagi."


"Disana ramai, kehidupan setidaknya tidak berubah terlalu drastis. Yang hidup sekarang adalah kota-kota kecil, tempat orang-orang bisa bertahan dengan bertani dan mengusahakan makanan dengan tangannya sendiri."


Pembicaraan itu terasa menyenangkan kemudian, membicarakan harapan dan masa lalu yang kami harapkan terjadi lagi, apa yang kami rindukan, mungkin ada harapan kami akan mengalaminya lagi.


"Kau masih mengingat mantan tunanganmu James?"


"Hmm... kurasa jika di sini, kami jadi menikah, ada hal yang sangat sulit terjadi. Aku mulai memahami kadang penerimaaan terhadap takdir itu adalah jalan untuk tetap hidup tenang. Tak ada yang bisa kita miliki sepenuhnya di dunia. Begitu pula dengan kepergian Ibu."


"Iya...kau benar." Aku menyetujuinya setelah sama-sama mengalami apa itu kehilangan. "Kita jalan saja dan lakukan yang kita bisa."


"Sudah malam, ini mulai dingin. Ayo tidurlah, kau perlu istirahat untuk besok." Dia beranjak sekarang. Aku menurutinya kali ini perasaanku jauh lebih baik sekarang.


"Terima kasih sudah menemaniku bicara James."


"Kapanpun kau butuh Tootsie." Dia kembali memanggilku dengan panggilan konyol itu. Aku meringis lebar.


"Gigiku sudah rata sekarang."


"Ohhh kusangka kau masih butuh wortel." Mereka memanggilku Tootsie karena aku hanya punya dua gigi depan saat umurku delapan tahun, dan samping ompong alias terlambat tumbuh jadi aku seperti kelinci dengan dua gigi di depan saat tersenyum.


" Ohh, aku tetap suka wortel." Dia tertawa sekarang.


"Mereka akan panen wortel tak lama lagi, kau bisa menggerogotinya sepuasmu." Aku meninju lengannya sebagai balasannya.


Aneh, seseorang dari masa lalu. Jika Pighead alias kakakku ada di sini dia akan jadi pembully tambahan. Tapi takdir kami tak sepanjang itu, setidaknya temannya Pighead ini jadi teman bicaraku sekarang.


Aku merasa beruntung, bersyukur malam ini akhirnya. Kehilangan cinta yang bukan milikku. Tak apa, itu hanya akan menyedihkan untuk sesaat.


Semua akan ada waktunya.