BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 144. Popular Nurse 1


"Terima kasih Capt." Aku tersenyum lebar.


"Kau tidak terluka bukan."


"Tidak hanya kemungkinan tanganku agak terkilir. Tadi aku menahannya wajahnya sampai papan itu patah. Kurasa tak apa nanti aku akan minta cream menthol di farmasi sedikit."


"Kau bisa memikirkan menahan infected itu dengan papan, kalau gadis lain pasti sudah berteriak ketakutan."


"Itu reflek, setengahnya aku menyesali kebodohanku sendiri berani mengambil resiko itu. Harusnya seperti katamu jika dia tergigit dia bisa menulis laporannya lebih baik."


"Kau benar Jen. Pasti menulis laporannya lebih bagus." Laura menangapiku.


"Dia benar-benar pulang bukan Capt?" Laura yang bertanya sekarang.


"Dia pulang, aku sudah melaporkan ini ke walikota dan mereka sudah tahu insiden ini. Dan mereka memastikan gadis itu pulang."


"Baguslah. Melihat tingkahnya yang berkali-kali membangkang, kita bisa ketakutan dia tidak mematuhi protokol keamanan."


"Kabar gembiranya pasien pertama masih dalam kondisi stabil. Kukira kita akan berhasil, demamnya bahkan sudah turun sore ini." Kami kehilangan satu tapi yang satu lagi harusnya bisa bertahan.


"Aku senang bisa terlibat di zona merah, aku jadi tahu bagaimana menangani korban infected dengan perawat berpengalaman, kemarin yang terpilih mendapat training hanya para dokter, kami hanya mendapat modul. Sekarang aku punya pengalaman luar biasa." Laura nampaknya senang bekerja di sini, semalam dia juga menemaniku sampai jam dua pagi.


"Dia memang hebat bukan?" Tom memujiku lagi. Plus menatapku dengan kekagumannya.


"Ohh Jen dan Dokter James salah satu dokter pertama yang berhasil di perawatan korban. Aku juga sebelumnya belum pernah masuk daerah zona hitam seperti ini tapi sekarang aku punya pengalaman yang sangat berharga. Jika keadaan sudah normal aku bisa memakai pengalaman ini untuk mendapatkan gaji lebih tinggi kurasa." Laura sekarang tertawa dengan bersemangat.


"Sudahlah kalian, aku tak sehebat itu. Kalian melebih lebihkan. Dan buatmu itu keberuntunganmu karena kulihat kau sangat perhatian ke pasien-pasienmu."


Laura memang kupilih karena aku melihat cara kerjanya beberapa saat, dia perawat yang supportive kepada siapapun yang dirawatnya. Kami sangat perlu perawat yang bisa membesarkan hati seperti dia.


"Bisakah kalian berhenti..Kita masih banyak pekerjaan setidaknya sampai besok."


"Baiklah aku pergi dulu. Aku senang kita tidak menambah korban infected setidaknya. Dan yah akhirnya gadis pembangkang itu pergi." Tom pamit untuk melakukan tugasnya sendiri.


Berita itu menyebar tentang insiden di zona merah. Namaku dalam beberapa hari ini jadi terkenal. Orang-orang jadi serimg memperhatikanku.


"Nona Jennifer, selamat pagi." Aku disapa dengan senyum manis oleh seseorang yang tidak kukenal di luar rumah sakit ketika sedang dalam hari libur. Sepertinya Mayor muda dari tim yang bertugas di luar. Aku dan Laura mendapat jatah libur kami ketika pasien di zona merah dinyatakan sembuh beberapa hari kemudian.


"Pagi,..." Aku membalas senyumnya.


"Liburan?"


"Iya."


"Mau ke Danau Toho nampaknya?"


"Iya."


"Bagaimana kalau kuantar." Aku dan Laura berpandangan. Kami biasa berjalan kaki sekitar satu jam ke sana. Anggap saja sekalian jalan-jalan pagi. Tapi sekarang ada yang mengantar kami, ini menyenangkan.


"Ehm, apa kau boleh mengantar kami."


"Untuk perawat pemberani yang sudah menyelamatkan rekan kami, merawatnya dengan sepenuh hati hingga sembuh tentu saja itu boleh." Aku dan Laura tersenyum lebar dengan sanjungan manis itu.


"Ini Laura, dia juga ikut merawatnya. Kami berdua berkerjasama."