BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 87. Moskow 2


"Sudahlah, aku akan mengurusnya kau tak usah khawatir. Aku tak akan terluka parah, hanya memar tak ada yang perlu di khawatirkan." Svetluny menghela napas panjang dan meninggalkanku dengan pikiranku sendiri.


Kali ini aku lebih memilih tinggal di hotel. Tak usah memaksakan diri tinggal di rumah Ayah dan menerima keramahan basa basi darì Margarita. Rasanya seperti tinggal di atas danau es tipis, sekali emosi terpancing kami akan beradu mulut. Svetluny pasti tidak akan nyaman dengan situasi yang seperti itu.


Jadi kali ini kami memesan kamar di Four Season yang terletak selangkah dari Red Square.



Membuatnya bisa melihat kemeriahan Maslenitsa di depan matanya, di depan jendela kàmar kami.



"Ini ramai sekali, dia terpesona dengan banyaknya orang yang beredar di depan hotel kami saat kami sampai." Dia dengan cepat mengajakku turun dan berjalan-jalan di bawah, berbaur dengan orang-orang yang merayakan Maslenitsa. Bahkan ada carousel putar dipasang di sana yang dipenuhi anak-anak.


"Ini Maslenitsa sayang, minggu pesta dan perayaan. Dan Red Square adalah salah satu pusat perayaannya. Tentu saja ramai." Karena ini adalah salah satu titik pusat perayaan Maslenitsa di Moscow maka kemeriahan itu langsung terasa.



"Kau akan mengajakku jalan-jalan bukan?"


"Tentu saja, sampai kau lelah dan kekenyangan." Dia dengan segera tersenyum lebar. Mengajakku berbaur dengan bazaar di depan hotel mana orang-orang menjual makanan, terutama beraneka macam blini, atau mencoba lapangan ice skating besar yang dibuka disana. Ada permainan-permainan dimana kami bisa berpartisipasi.



"Ada anak-anak kecil ikut." Mereka bermain dengan menggunakan semacam pegangan skuter yang bisa berjalan dengan sepatu seluncur kecil mereka tanpa takut terjatuh atau menabrak orang lain.


"Saat aku kecil itu tidak ada skuter seperti itu." Svetluny melihat skuter-skuter kecil itu dengan penasaran.


"Kau iri dengan anak kecil." Dan aku menertawakannya.


"Dulu kita harus jatuh bangun dan menabrak semua orang."


Ada panggung pertunjukan besar yang dibuka di sana. Walaupun dia tak mengerti sebagian besar lagunya, Svetluny tetap menonton dengan antusias. Dibawah salju halus yang turun dia ikut bergembira.


Kami menghabiskan hari pertama kami di Moskow dengan bergembira. Mengajaknya berjalan di kota kelahiranku diantara salju halus yang turun rasanya seperti aku harus bersyukur beribu kali.


"Natal di sini juga pasti sangat indah."


"Hmm aku merindukan melihat pohon-pohon membeku seperti ada air yang menetes dari pohon di jalanan saat natal di arah yang lebih utara, permafrost seperti itu sangat indah, jika ada matahari bersinar itu putih berkilau. Kadang pohonnya seperti punya sulur-sulut air panjang yang menetes. Salju begitu tebal... di Desember. Moskow tak begitu dingin, kecuali lebih ke utara aku bisa melihat seperti itu."



"Pastinya, salju akan lebih tebal di sini."


Sudah lama aku tak kembali saat Natal. Dulu saataku masih sekolah dan kuliah aku akan kembali saat natal, karena di Malesnitsa tidak liburan di Kanada, Ingatan-ingatan masa kecil kadang membuatku merindukannya. Walaupun masa lalu tak begitu indah tetap saja itu seperti kenangan yang ingin kau ulangi.


"Kita bisa liburan ke sini saat Natal." Svetluny-ku menatapku dengan mata berbinar, sepertinya dia suka kemeriahan Moskow. "Ohh ya bagaimana jika kita melihat subway station Moskow, itu juga sangat indah."



Aku menatapnya dengan senyum.


"Subway station, itu tak jauh dari sini, ya kapan-kapan kita akan kembali nanti saat Natal...satu saat kita akan kembali, itu pasti akan menyenangkan."


Svetluny bersedia kembali ke sini jika untuk liburan. Tapi tidak bersedia tinggal di sini. Itu sudah dikatakannya berkali-kali. Nampaknya kemungkinan untuk bisa merubah pendiriannya sangat kecil.


Aku sekarang cukup khawatir, apakah bisa aku mengubah pendiriannya.


\=\=\=\=\=\=\=800