
Dia diam dan menarik diri. Aku juga menunduk.
"Bukankah kau sudah menang dari Sergie, kau sudah memenangkan posisi itu, kau sudah membuktikan dirimu? Apa yang kau inginkan lagi. Jadi kau memang ingin kembali ke Moskow?"
"Moon, kita bisa bicarakan ini nanti pelan-pelan." Aku langsung menggeleng. Semuanya jelas sekarang.
"Kita bicarakan sekarang tidak nanti. Aku ingin kau mengambil keputusan dalam tiga bulan. Jika kau ingin kembali ke Moskow aku akan melepasmu, kau bebas memilih tanpa tekanan dariku. Untuk mempermudah, lebih baik kita tak bertemu. Aku tak ingin kau menyesal, tapi aku juga tak ingin menyesal."
"Tunggu dulu, apa maksudmu tiga bulan."
"Maksudku jelas, jika kau tak ingin melepaskan jabatan di Moskow maka aku akan melepasmu juga."
"Kenapa kau mengambil jalan seperti ini. Apa ini tak bisa dibicarakan?" Aku menggeleng.
"Karena aku tahu kau ingin ke Moskow, sedangkan aku tak ingin ke sana. Daripada kita bertengkar saat kita sudah terlalu jauh, terlalu lama bersama, atau kita sudah menikah, lebih sakit, lebih baik kita putuskan di sini. Lagipula Moskow tak kekurangan gadis cantik. Kau akan baik-baik saja dan mungkin aku juga melanjutkan hidupku." Aku mulai menangis tersedu sekarang. Ini saat yang paling sakit untukku. Aku tak ingin melepasnya, tapi semangkin lama aku bertahan ini akan semangkin sakit.
"Moon, kenapa kau harus memaksa seperti ini." Dia memelukku aku tambah menangis. "Tak harus begini. Kita bisa bicarakan ini..."
"Jadi katakan aku harus bagaimana?" Dia juga tak bisa menjawabku sekarang. Salah satu dari kami harus ada yang mengalah.
Itu jalan satu-satunya. Aku menatapnya untuk jawaban apa yang harus kami lakukan. Bagaimana kami mendamaikan perbedaan prinsip kami.
"Tak ada peraturan begitu."
"Aku tak begitu buta Alex, kau CEO semuan perusahaan di US sekarang. Perusahaan di US dibentuk bukan dari saham publik, tapi dari bagian saham keluarga, Ayahmu bisa melalukan itu. Yang tak bisa adalah CEO Moskow tinggal di Montreal, atau lebih gila lagi kau bilang akan memindahkan ke Montreal. Itu mustahil..."
Dia hanya diam menatapku. Aku memaksanya memilih, aku tahu itu tak adil. Tapi dia juga bersikap tak adil jika dia berusaha menjebakku di masa depan. Lebih baik aku berkeras sekarang...
Aku berjalan menjauh, mengeraskan hatiku, tidak menatap matanya yang penuh permohonan.
"Kau harus memilih, aku masa depanmu atau Moskow masa depanmu." Bukankah hidup adalah masa depan bukan masa lalu, jika aku bukan masa depannya aku hanya bisa menyerah.
"Kenapa kau memaksa seperti ini. Aku sudah bilang aku akan mencari cara."
"Setelah mengenalmu sedikit banyak aku tahu apa yang kau pikirkan. Yang kulakukan juga untuk masa depan kita."
Dia memutar tubuhku menghadap padanya.
"Aku mencintaimu, kau tahu itu. Kenapa kau tidak memberiku waktu untuk mengatur semuanya."