BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 134. Chaos 2


"James?! James?" Aku panik sekarang melihatnya meringis kesakitan.


"Tak apa." Dia masih sanggup menenangkanku. Punggung? Punggung dimana? Aku tak bisa melihatnya dan tak tahu apa yang harus kulakukan.


"Angkat dia! Dorong dia ke OR langsung!" Deborah yang mengambil alih keadaan. Tanganku gemetar , sekarang hampir menangis, mengikuti di sampingnya.


"Kau tak boleh mati." Satu-satunya yang kutakutkan, dia menghilang seperti Fred meninggalkanku atau seperti Kakakku meninggalkanku. Aku melihat rembesan di babu belakangnya, sementara bantu mengangkatnya ke bed dorong, semoga hanya terserempet bahunya.


"Tak apa Tootsie, aku tak akan mati. Ini cuma menyerempet bagian atas sepertinya..." Dan dia masih bisa tersenyum dan bercanda denganku. Aku sudah berlinang air mata karena khawatir.


"Apa ini?!" Joshua datang dengan cepat ke OR.


"Joshua, bagian belakang sepertinya berbelok ke lengan kiri. Sakitnya terasa di sana." Dan dia masih sempat mendiagnosis dirinya sendiri. Joshua mengunting bajunya yang basah oleh darah. Darahnya masih mengalir dan membuat kakiku lemas.


"X-Ray." Mereka langsung bekerja memastikan di mana peluru bersarang. "Clear." Semua orang menjauh dari paparan radiasi ketika paparan mesin itu memberikan detail imaging.


"Jen keluarlah." James masih sempat menyuruhku keluar.


"Aku disini saja." Semua orang melihatku menangis, aku terlalu emosional untuk membantu di sini.


"Jen, dia aman bersamaku. Kau harus keluar. Mulai anestesi. Jordan bawa Jen keluar." Joshua yang menyuruhku keluar sekarang. Sementara semua kesibukan terjadi di sekelilingku.


"Jen, ayo biarkan mereka bekerja." Seorang perawat membawaku keluar.


"Kau lihat hasil x-raynya tadi Jordan?" Aku tadi tak melihat hasil x-ray nya.


"Sepertinya benar berbelok ke lengan kiri. Harusnya tak apa, aku membantu di dalam oke. Tenangkan dirimu di sini." Jordan masuk ke dalam dan aku duduk menenangkan diri.


"Jen, bagaimana keadaan James?!" Tom sekarang datang ke ruangan aku menunggu.


"Mereka bilang tembakannya seharusnya tak mengancam nyawanya." Suaraku bergetar.


"Kau baik-baik saja?" Tom menyadari nampaknya aku sangat khawatir.


"Iya aku hanya kuatir. Dia ulang tahun hari ini. Kepala koki kita setuju untuk membuatkan perayaan kecil. Kenapa ada kejadian seperti ini."


"Ini kecelakaan, tak ada yang menduganya. Tapi harusnya James akan pulih jika mereka bilang tak mengancam nyawa."


"Yah seharusnya begitu." Aku teringat bagaimana orang itu."Bagaimana pria itu?"


"Kami sudah menaruhnya di penjara kota. Walikota akan menentukan bagaimana mengurusnya nanti."


Tak lama banyak yang datang. Walikota, Komandan kompi, dokter-dokter, Michelle, dan Dixon yang terlihat khawatir juga. Aku memberitahu yang kutahu soal keadaannya, seharusnya memang bukan kondisi yang mengancam nyawanya.


"Syukurlah, kalau begitu kabarkan kami jika dia sudah selesai operasi, ada yang harus kuurus dulu."


"Baik terima kasih Tuan Walikota." Mereka pergi kemudian.


Operasi itu hanya berjalan kurang lebih satu jam ternyata. Joshua sudah keluar dan menghampiriku kemudian


"Dia tidak apa, bukan hal yang membahayakan. Pelurunya berbelok ke bahunya. Mungkin dia tidak bisa melakukan operasi beberapa saat. Tapi dia akan pulih segera sepenuhnya." Lega, itu yang ada di pikiranku sekarang.