BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 19. Meet Again.


Menjelang sore aku baru bisa kembali ke rumah sakit dari hotel setelah satu malam tak tidur sama sekali sementara masalah menyeret Dave Thomas diatur oleh Albert, Charles dan pihak berwenang di Kanada.


"Monica kau sudah punya makanan?" Aku masuk dengan tangan penuh kantong makanan yang kupikir Monica menyukainya.


"Kakak, Jenderal Gillian mengunjungi kita." Aku melihatnya bicara dengan Monica. Dia memandangku dengan sisa senyum di wajahnya. Monica memang mudah membuat orang yang bicara dengannya tersenyum.


Dia duduk di tempat tidur, Gilbert menarik kursi untuk duduk dan bicara dengannya.


"Gilbert kau sudah lama? Maaf aku tadi tidak di sini, aku mengantuk sekali. Sudah dua malam aku tak istirahat dengan benar."


"Aku baru saja di sini. Aku juga baru bisa beristirahat menjelang siang sebenarnya. Setelah mereka menyelesaikan menarik semua data dan mengamankan semua orang." Seperti yang kuduga dia orang yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan, jika tidak bagaimana mungkin kariernya secermerlang ini.


"Terima kasih kau sudah meluangkan waktu ke sini. Kau sudah makan? Aku membawa banyak makanan. Ayo..." Kata-kataku terputus ketika Monica menyelaku.


"Kakak, makanannya berikan padaku. Kau dan Jenderal pergilah makan keluar kenapa kalian harus makan di sini. Jenderal Gillian sudah banyak membanru kita, jangan mengajaknya makan di rumah sakit." Ya mungkin aku harus mengajaknya makan malam.


"Boleh aku mengajakmu makan malam Jenderal, ini hanya bagian kecil bagaimana kami bisa berterima kasih padamu."


"Dia tidak sedih ditinggal sendiri." Dia menunjuk Monica dengan senyum kecil.


"Aku lebih sedih jika kau menolak ajakan makan malam Eliza." Monica mengatakannya terus terang membuatku sedikit mengulum senyum malu. Adikku ini kadang memang kadang terlalu frontal mengatakan apa yang ada di pikirannya.


Sementara perutku tergelitik sendiri membayangkan acara makan malam. Sosok tenangnya itu entah kenapa membuatku tak tahu apa yang harus dilakukan.


"Kalau begitu pergilah, kenapa kalian masih di sini. Kakak kemarikan makanannya."


"Kutaruh di sini oke. Aku pergi dulu, nanti aku akan kembali." Aku menaruh makanan di dekat mejanya.


"Iya pergilah." Dia berbisik. "Tak usah kembali juga tak apa. Manfaatkan kesempatan." Monica mengedipkan matanya padaku.


Kesempatan apa yang dia maksud. Aku mendorong kepalanya. "Kau terlalu berpikir berlebihan." Dia meringis lebar padaku.


"Baiklah, ayo kita pergi." Aku memimpin jalan. Tapi sebenarnya aku tak tahu harus kemana di kota ini, aku beberapa kali berada di New York City sebelumnya tentu saja tapi belum menjadi terlalu familiar. "Kau punya saran kita makan di mana?" Akhirnya aku bertanya padanya saat dia berjalan di sampingku.


"Ehm...ada restoran Italia yang enak dekat sini. Kau suka makanan Itali. Naik mobilku saja, aku mengemudi sendiri."


"Boleh. Tapi ini aku yang bayar oke."


"Baiklah. Terserah padamu."


Aku duduk disampingnya rasanya berdebar sendiri, ini perasaan yang bodoh. Parfumnya mengelitik hidungku, andai aku bisa berlama-lama menatapnya, menyentuh lengannya yang terlihat kekar saat dia memakai kemeja gelap itu sangat menggoda. Aku membayangkan dia memakai seragam kehormatan ... astaga pikiranku.


"Kau sudah mengurus orang yang menjebak adikmu itu, aku tak bisa menjangkaunya karena itu di luar yuridiksi kami."


"Albert mengurusnya di Kanada. Dia tak akan lolos tentu saja."