
"Kau ikut saja, kenapa kau seperti ini? Kau yakin baik-baik saja. Ayo ikut ke NY. Bereskan baju-bajumu." Dia pasti merasa ada yang salah, tapi apapun itu aku akan tetap meninggalkannya. Sudah cukup untukku menunggu.
"Tidak. Aku baik-baik saja. Aku hanya sedang PMS. Emosiku naik turun tak stabil. Bukan apa-apa. Pergilah, maaf membuatmu khawatir."
"Kau yakin? Telepon dan kabari aku?"
"Iya. Aku akan meneleponmu nanti." Aku akan tetap menerima teleponnya. Saat aku bersiap ke Paris, aku akan menutup semua akses dan dia tidak akan bisa menghubungiku lagi kecuali dia bicara dengan Albert.
"Kau mau dibawakan hadiah apa?"
"Tidak, aku tidak mau apapun." Dia sekali lagi melihatku dengan pandangan kuatir.
"Baiklah, aku pergi." Aku mengangguk dan akhirnya melambai padanya, memperhatikan mobilnya menjauh.
Yang bisa kulakukan hanya ini mengirimnya pergi.
Aku duduk lama dan termenung sendiri, tidak berniat melakukan apapun lagi. Tapi aku harus pergi, aku pergi ke dalam kamarnya setelah dia pergi. Aku mengambil beberapa baju yang kutinggalkan di lemarinya dan mengepaknya di tas khusus. Hanya meninggalkan beberapa kaus rumahan agak tidak membuatnya curiga saat kembali. Setelah itu aku tidak meninggalkan apapun lagi di sini.
"Nona Anda mau pergi ke mana? Bawaan Anda banyak sekali." Pengurus rumahnya menyapaku pagi ini. Dia pasti heran kenapa aku membawa bajuku pergi walau itu tidak terlalu banyak.
"Aku perlu beberapa baju ini, jadi kubawa dulu Neeta. Aku akan ke Washington DC, Alex baru akan kembali Jumat sore. Aku pergi dulu oke."
"Baik Nona."
Aku pergi meninggalkan rumah itu. Rumah yang tahun belakangan akrab denganku. Apa aku akan kembali ke sini lagi. Entahlah, kurasa tidak... Aku sudah merelakannya.
Akhirnya aku menelepon Albert untuk mengatakan aku akan pergi, walaupun aku sudah bicara padanya sebelumnya aku tak bisa membantunya sementara waktu. Setidaknya selama setahun ini aku mungkin tak akan kembali, mungkin aku akan terbang ke banyak kota, mengejar waktu untuk runway, membiarkan diriku sibuk untuk melupakan waktu dan menyembuhkan hati.
"Kakak, aku akan ke Paris setelah itu Milan di Januari , mungkin mengunjungi Eliza diantaranya, jika Alex mencariku aku akan katakan untuk bicara denganmu. Aku akan memblok nomornya setelah aku siap dan akan mengatakannya padamu."
"Jadi sampai akhir juga dia mempertahankan posisinya. Kalian tidak mencapai kesepakatan."
"Sayangnya iya." Albert ikut menghela napas kasihan padaku.
"Lalu dia tahu kau akan pergi."
"Tidak, dia tidak mau kami berpisah. Aku juga tidak bisa berkata apa-apa selain pergi begitu saja seperti ini. Jika kukatakan aku akan pergi dia tidak akan membiarkanku pergi."
"Sudah kuduga. Ya baiklah, itu memang cara terakhir, aku akan mengurusnya jika dia mencarimu. Jika ada apapun hubungi aku. Pergilah, jika kau belum nyaman tinggal di Montreal kau bisa kembali ke DC atau ke rumah Ibu. Ada Eliza di sana, Ibu juga sepertinya akan sering menjenguk Eliza. Kakak yang akan bicara dengan Alex, jika ada yang bisa kukatakan padamu akan kukatakan, tapi jika aku merasa dia hanya mencari alasan untuk mempertahankan posisinya aku tak akan memberitahumu.
"Iya. Aku tahu."
"Jangan berbuat bodoh, di depan ada yang lain akan ada. Jangan pergi kencan sembarangan selama di sana." Aku tersenyum dengan nasehat Albert, kakakku ini memang memikirkan adiknya.
"Tidak kakakku tersayang, aku punya standart tinggi dari dulu. Aku patah hati, standartku jadi tambah tinggi, tenang saja aku lebih suka bersenang-senang dengan teman wanita. Aku menghibur diriku dengan bekerja."
"Kakak, nanti oke. Aku perlu menawarkan perasaanku dulu. Nanti akan ada saatnya, aku perlu beberapa bulan untuk menawarkan perasaanku sendiri, jika tidak aku tak akan bisa menerima seseorang yang baru. Aku akan selalu membandingkannya dengan Alex."
"Ya baiklah, jaga dirimu, kabari Kakak jika kau berpindah kota."
"Iya baiklah."
Akhirnya aku pergi dari Montreal. Walau aku masih menerima telepon Alex saat itu.
...\=\=\=\=\=\=\=...
Saat aku ke Washington DC, aku sebenarnya ingin meminjam bahu Eliza untuk menangis. Di tengah ikut merayakan kebahagiannya aku butuh dia untuk menguatkanku.
"Kau masih menerima teleponnya?"
"Aku akan bicara padanya hari ini. Sebenarnya aku tak sanggup bicara lagi. Kupikir aku akan bicara padanya via email. Mengucapkan perpisahan."
"Terserah padamu bagaimana yang kau inginkan. Aku akan mendukungmu. Tapi dengan keadaan ini mungkin kau mungkin bisa memintanya berpikir lebih jauh lagi." Dia menepuk bahuku saat aku bicara dengannya di kamar.
"Rasanya menyedihkan. Aku tak menyangka aku akan patah hati lagi Eliz. Dia pasti marah padaku aku menghilang seperti ini. Aku merasa bersalah padanya."
"Ya dia akan dibenturkan. Tak bisa baginya berada di wilayah abu-abu terus menerus. Tak apa, kami akan di depanmu. Aku dan Albert mendukung keputusanmu, lagipula kami juga khawatir kau harus menghadapi keluarga yang begitu bermasalah. Apalagi CEO utama berarti bisa mengatur semuanya, itu kekuasaan yang besar. Dengan perselisihan semacam itu bagaimana situasi di masa depan, pasti ada kejadian yang terjadi lagi . Kau sudah melakukan yang harus kau lakukan."
"Kuharap begitu. Kuharap aku cepat melupakannya."
"Kau akan melupakannya, ya butuh waktu. Selalu ada waktu dimana kau harus menunggu..." Eliza membiarkanku menangis sekali lagi di bahunya. Mencurahkan perasaaanku yang hancur padanya.
Jadi malam akhir pekan ini aku menulis pesan padanya dalam linangan air mata yang tak bisa berhenti.
Tuan Mafia, aku akan pergi dari Montreal. Jaga dirimu dengan baik. Aku akan bekerja di kota lain, memberi kita kesempatan untuk tak bertemu lagi dan bergerak maju ke depan.
Kuharap kau akan baik-baik saja, semua karier dan pekerjaanmu berjalan dengan baik. Jika kita sudah bisa saling melupakan, entah apa aku bisa melupakan, mungkin kita bisa mengatakan hallo satu sama lain lagi dan nomormu tak kublokkir lagi.
Kau tak akan bisa menghubungiku. Karena kita harus saling melupakan, dan aku akan jadi penghalangmu. Jika kau berubah pikiran kau bisa bicara kepada Albert dan meminta nomorku.
Aku tahu tidak adil bagimu aku menghilang begini, tapi aku sudah mengatakan yang harus kukatakan. Kau tidak bisa meninggalkan kebencianmu, aku tak ingin hidupku dipenuhi bahaya. Kuharap kau akan menemukan seseorang yang baik di depan. Svetluny mu ini kan baik-baik saja , kuharap kau akan baik-baik saja.
Aku mencintaimu, sangat. Tapi cinta saja tak cukup...
Dengan itu aku memblokir semua kontaknya. Aku harus maju ke depan demikian pula dia. Malam ini aku menangis lagi, tapi kuharap ini yang terakhir.
Dalam dua hari ke depan aku akan berangkat ke Paris. Agenku di Paris sudah menyiapkan jadwalku. Aku akan segera sibuk berpindah kota selama setahun ini, cukup untuk melupakan semua. Meninggalkan semua yang terjadi selama setahun ini.
Oomnitsa kau akan baik-baik saja, kau sekarang sudah bisa menjaga dirimu sendiri.
Aku berdoa untukmu... Juga berdoa untuk diriku sendiri untuk sanggup melupakanmu.
Paris, aku akan nelangsa di sana, di kota penuh cahaya dan cinta itu aku sedang kehilangan cinta. Betapa menyedihkan nasibku ...