
"Ya? Aku akan.... Apa? Dasar tak berguna. Tak ada yang bisa kau lakukan bukan." Aku tertawa dan menutup teleponnya. Membiarkan dia terbakar emosinya sendiri karena tak bisa membalasku.
"Siapa yang kau telepon sampai perlu bersitegang begitu." Kakakku pertamaku George melihatku saat aku menelepon dari kantornya.
"Ohh ini bangsat Adrian Russel, kemarin dia mengirim orang untuk menghajarku karena cemburu aku menerima undangan makan malam dari Kylie Warner, wanita yang hendak dijadikannya istri."
"Menghajarmu?" Kuceritakan kejadian lengkapnya.
"Keluarga Russel... Kau tahu ada seseorang mengatakan bahwa keluarga Russel mungkin bekerja sama dengan kalangan terbatas, mereka nampaknya berusaha yang membentuk kerjasama untuk mengatur kartel monopoli beberapa bidang perdagangan setelah kejatuhan ekonomi, entah itu benar atau tidak."
"Darimana kau mendengar kabar seperti itu. Itu tuduhan yang sangat serius."
"Aku sebenarnya baru mendengarnya, Tuan Stewart kemarin bicara padaku dia ditawari kerjasama mengatur harga pembelian bahan baku yang dihasilkan pertanian."
"Aku meminta kolegaku menyelidikinya. Ini tidak diperbolehkan bagaimanapun."
"Apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah jika terbukti dia melakukannya?"
"Jelas saja, pengurangan sampai penghapusan insentif dan penambahan pajak, banyak hal yang bisa dilakukan."
"Jangan terlihat kita yang melakukannya. Kita tak mau terang-terangan menambah musuh."
"Iya tentu saja, aku sangat mengerti maksudmu."
Jika benar harus dipastikan mereka mendapat sanksi seberat beratnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ohh kau berhasil melobby Gilbert Gillian? Ibu masih berkeras dia ingin kau bersama dengan baji*ngan itu." Sekarang Kylie Warner bicara pada Thomas Warner kakak tertuanya.
"Sayangnya bukan dia yang memutuskan, kita harus melewati kakaknya. Daripada terperangkap dengan Russel aku lebih baik dijodohkan dengan Gilbert Gillian. Dia berkali-kali lebih baik."
"Benarkah, kau menganggapnya berkali-kali lebih baik?" Kakaknya tersenyum pada adik perempuan satu-satunya itu. Dia dan adiknya mendukung apapun pilihan adiknya. "Ya dalam masalah karier dan pencapaian memang dia lebih baik. Jika kita punya keluarga orang yang dekat dengan pemerintah seperti itu akan sangat menguntungkan tentu saja."
"Sayangnya dia sudah punya kekasih." Kylie mencebik. "Dia mengatakannya tanpa ragu. Aku sudah kehilangan harapan."
"Ohh ya? Siapa kekasihnya apa kau tahu."
"Aku tak tahu siapa. Aku baru bertemu denganya dua kali, tapi dia memang punya masalah dengan Russel..." Kylie menceritakan pertemuan terakhirnya dengan Gilbert Gillian dan Adrian yang berusaha menyewa seseorang untuk mengerjai Gilbert Gillian.
"Dia punya masalah dengan Adrian Russell? Sangat menarik. Kau tahu jelasnya masalah apa?" Kylie menggeleng.
"Tidak, dia sama sekali tak mengatakannya..."
"Hmm..., kalau begitu nanti kita akan berusaha menggolkan kesepakatannya. Aku akan meminta Ayah mendekati Ayah Gilbert, masalah dia sudah punya kekasih, mungkin itu hanya kekasih biasa, mungkin dia bisa dipengaruhi nanti. Kau jangan pesimis dulu. Bersikap baiklah padanya."
"Bisa dipengaruhi? Sepertinya sulit..." Kylie memang sudah kehilangan harapan pada Gilbert tapi dia mau membantunya lepas dari Adrian dia sudah senang. "Sudahlah kau jangan memberiku harapan terlalu banyak. Jika dia bisa membantu kita masuk sebagai investor, kau dan aku akan sangat terbantu. Gol-kan saja kesepakatannya. Jika kau terlalu memaksakan investasi yang kita harapkan akan batal, kita malah tak dapat apa-apa."
"Kau benar bagian itu, tapi semoga ada harapan."
Mungkinkah ada harapan. Kylie tetap tak mau terlalu banyak berharap pada hal yang tak pasti.